KabarJakarta.com — Suasana perpustakaan tak selalu identik dengan keheningan. Di salah satu sudut Perpustakaan Jakarta, sekelompok orang bisa saja tengah berdiskusi, bertukar gagasan, atau mengikuti kegiatan literasi.
Rak-rak buku tetap berdiri di sekeliling mereka, tetapi ruang itu terasa hidup karena ada interaksi di antara pengunjung.
Gambaran seperti itulah yang ingin semakin banyak diwujudkan di perpustakaan-perpustakaan Jakarta. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta mendorong komunitas, terutama yang bergerak dalam gerakan literasi, untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang berkegiatan.
Kepala Dispusip DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, mengatakan Jakarta memiliki banyak komunitas dan gerakan literasi yang dapat ikut menghidupkan perpustakaan melalui berbagai kegiatan.
“Kami arahkan agar pengembangan komunitas perpustakaan itu muncul. Saya yakin banyak sekali gerakan literasi yang ada di Jakarta, hadir di perpustakaan,” kata Nasruddin dalam sebuah siniar yang dipantau di Jakarta, Kamis (24/9).
Dia menambahkan, “Di situ bisa mengadakan acara-acara, kegiatan di perpustakaan. ”
Kehadiran komunitas diharapkan membuat perpustakaan memiliki fungsi yang lebih luas. Tempat tersebut tidak hanya digunakan untuk membaca atau meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang bertemu, belajar, dan bertukar pengetahuan.
Perpustakaan Jakarta menjadi salah satu contoh. Dalam setahun, lebih dari 700 aktivitas telah digelar di sana. Beragam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menarik lebih banyak masyarakat untuk datang dan memanfaatkan perpustakaan.
Bagi Dispusip, kegiatan komunitas dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang sebelumnya tidak menjadikan perpustakaan sebagai tujuan. Seseorang mungkin datang karena mengikuti diskusi atau kegiatan literasi, tetapi dalam prosesnya menemukan buku, layanan, atau aktivitas lain yang membuatnya ingin kembali.
Meski demikian, Nasruddin menilai komunitas bukan satu-satunya unsur penting dalam membangun perpustakaan. Koleksi buku dan layanan tetap menjadi dasar yang harus diperhatikan.
“Tahap pertama perpustakaan itu, kesediaan buku. Tahap kedua perpustakaan, maju karena layanannya. Ketiga, perpustakaan itu baru nyata, kalau memang membangun komunitas,” terangnya.
Pandangan tersebut menempatkan komunitas sebagai bagian dari tahap lanjutan dalam pengembangan perpustakaan. Setelah koleksi dan layanan tersedia, keberadaan komunitas dapat membuat ruang tersebut semakin aktif digunakan masyarakat.
Upaya menghubungkan masyarakat dengan perpustakaan juga dilakukan melalui teknologi. Pemprov DKI Jakarta menyediakan aplikasi Jaklitera yang dapat digunakan sebagai akses masuk ke perpustakaan, menggantikan kartu keanggotaan.
Aplikasi itu juga memberikan informasi mengenai koleksi buku dan agenda kegiatan yang berlangsung di perpustakaan. Hingga kini, sekitar 900 ribu orang telah terdaftar sebagai pengguna Jaklitera.
Namun, angka keanggotaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Perpustakaan juga perlu menjadi ruang yang benar-benar digunakan masyarakat. Di titik inilah komunitas memiliki peran penting.
Komunitas membawa kegiatan dan orang-orang ke dalam perpustakaan. Sementara perpustakaan menyediakan ruang, koleksi, dan layanan yang dapat mendukung aktivitas tersebut.
Dengan semakin banyak komunitas literasi yang berkegiatan, perpustakaan di Jakarta diharapkan tidak berhenti sebagai tempat menyimpan buku. Ia dapat tumbuh menjadi ruang publik yang mempertemukan orang, gagasan, dan pengetahuan.






