Merawat Persatuan dari Jakarta, Pancasila Diuji oleh Keberagaman

Pemprov DKI Jakarta menggelar upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (1/10). Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bertindak sebagai Inspektur Upacara. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com —   Bagi warga Jakarta, keberagaman bukan sekadar semboyan. Setiap hari, mereka hidup berdampingan dengan orang yang berbeda suku, agama, budaya, pilihan, dan latar belakang. Ketika perbedaan itu dapat dikelola dengan saling menghormati dan diperlakukan secara adil, kehidupan kota menjadi lebih harmonis.

Namun ketika perbedaan berubah menjadi alasan untuk saling menjauh atau membeda-bedakan, persatuan ikut dipertaruhkan. Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk kembali melihat bagaimana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya dalam seremoni kenegaraan.

Di Jakarta, pesan tersebut mengemuka dalam upacara yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di halaman Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (1/10). Upacara tersebut dipimpin Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai inspektur upacara. Peringatan tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Bagi Jakarta, tema tersebut memiliki makna tersendiri. Sebagai kota yang dihuni masyarakat dengan latar belakang suku, agama, budaya, dan daerah asal yang beragam, Jakarta menjadi salah satu ruang tempat perbedaan bertemu setiap hari.

Pramono menyebut Jakarta sebagai miniatur Indonesia. Menurut dia, keterbukaan menjadi bagian penting dari karakter ibu kota yang memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang hidup dan beraktivitas bersama.

“Seperti kita ketahui bersama, Jakarta adalah miniatur Indonesia. Jakarta terbuka bagi siapa saja dan Jakarta juga tentunya merawat dan menjaga keberagaman ini berdasarkan Pancasila,” kata Pramono.

Pernyataan tersebut menempatkan Pancasila bukan hanya sebagai simbol yang diperingati setiap tahun. Nilai-nilainya justru diuji dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika masyarakat berhadapan dengan perbedaan kepentingan, keyakinan, pilihan hidup, maupun latar belakang sosial.

Dalam konteks itu, Pancasila memiliki posisi sebagai titik temu. Masyarakat tidak harus memiliki identitas yang sama untuk dapat hidup berdampingan. Perbedaan tetap ada, tetapi ada nilai bersama yang menjadi dasar untuk saling menghormati dan menjaga kehidupan bersama.

Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial dapat diterjemahkan dalam tindakan yang sederhana. Menghormati keyakinan orang lain, tidak melakukan diskriminasi, menyelesaikan persoalan melalui dialog, hingga memberikan pelayanan publik secara adil merupakan bagian dari praktik nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Pramono meminta aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta tidak berhenti pada peringatan seremonial. Nilai Pancasila, menurut dia, harus terlihat dalam cara ASN menjalankan tugas dan melayani masyarakat.

Ia mengajak ASN menjadi aparatur yang berintegritas, melayani dengan hati, mampu menjadi pemersatu, serta berpihak pada keadilan.

Pesan tersebut penting karena pemerintah merupakan salah satu ruang utama tempat masyarakat berinteraksi dengan negara. Pelayanan yang adil dan tidak membeda-bedakan dapat menjadi bentuk nyata bagaimana nilai persatuan dan keadilan sosial diterapkan.

Di sisi lain, kehidupan bermasyarakat juga membutuhkan peran warga. Pancasila tidak hanya menjadi pedoman bagi pemerintah, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menghadapi perbedaan.

Ketika perbedaan tidak lagi dipandang sebagai alasan untuk saling menjauh, keberagaman justru dapat menjadi kekuatan sosial. Gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dialog, dan penghormatan terhadap hak orang lain menjadi praktik yang membuat persatuan tidak berhenti sebagai slogan.

Senada, Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin berharap peringatan Hari Kesaktian Pancasila dapat memperkokoh persatuan sekaligus keberagaman di Jakarta.

“Mudah-mudahan semangat Hari Kesaktian Pancasila turut memperkokoh persatuan, keberagaman di DKI dalam menyongsong 5 (lima) abad DKI Jakarta,” tuturnya.

Harapan tersebut menempatkan Pancasila dalam konteks Jakarta yang terus berubah. Kota ini bukan hanya menghadapi persoalan pembangunan dan pelayanan publik, tetapi juga tantangan menjaga ruang hidup bersama di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Pada akhirnya, makna Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya terletak pada upacara dan penghormatan terhadap sejarah. Lebih jauh, peringatan ini menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana nilai Pancasila dijalankan dalam kehidupan nyata.

Jakarta, dengan segala keberagamannya, menjadi salah satu tempat untuk menguji hal tersebut. Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Persatuan justru lahir ketika perbedaan dapat ditempatkan dalam satu ruang bersama, dengan keadilan, penghormatan, dan kepedulian sebagai pijakannya.

Di tengah kehidupan kota yang dinamis, Pancasila pada akhirnya bukan sekadar sesuatu yang dihafalkan. Nilai-nilainya baru benar-benar hidup ketika hadir dalam cara pemerintah melayani dan cara warga memperlakukan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *