KabarJakarta.com — Blok M, Jakarta Selatan, sedang memasuki babak baru. Kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simpul transportasi, pusat perdagangan, kuliner, hingga tempat berkumpul anak muda itu kini disiapkan untuk berubah menjadi kawasan kota terpadu.
Perubahan tersebut tidak berhenti pada penataan Blok M Hub. PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menyiapkan proyek yang disebut Ultimate Development Blok M, sebuah pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) dengan konsep mixed-use.
Dalam rancangan awal, kawasan ini akan menggabungkan transportasi publik, area komersial, ruang terbuka, hotel, apartemen, serviced apartment, hingga hunian yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Ada pula rencana pembangunan skybridge yang menghubungkan Stasiun MRT Blok M, Blok M Hub, dan Terminal Blok M.
Dengan begitu, Blok M nantinya tidak hanya menjadi tempat orang turun dari MRT lalu melanjutkan perjalanan. Kawasan ini dirancang agar orang bisa bekerja, makan, berbelanja, tinggal, beraktivitas, menikmati ruang publik, sekaligus berpindah moda transportasi dalam satu kawasan.
Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta M. Iqbal Bimo Arifianto membeberkan pengembangan tersebut merupakan bagian dari transformasi besar kawasan Blok M.
“Ini bagaimana bertransformasi, dan nantinya ini tunggu tanggal mainnya, akan menjadi revitalisasi besar. Ini sudah juga akan revitalisasi besar yang bagaimana Blok M ini bisa tumbuh dan TOD-nya tuh lebih nyaman lagi,” kata Bimo, dikutip ANTARA di Jakarta, Kamis (24/9).
Dari Blok M Hub ke Blok M Ultimate
Langkah menuju perubahan besar itu sebenarnya sudah dimulai.
MRT Jakarta sejak 2025 mengembangkan kawasan Blok M Hub dengan menggabungkan fungsi transportasi, ruang komersial, kuliner, UMKM, komunitas, dan kegiatan publik. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu titik aktivitas baru di Jakarta Selatan.
Data MRT Jakarta yang dikutip Beritajakarta menunjukkan Blok M Hub mencatat rata-rata sekitar 25.000 pengunjung per hari. Kawasan itu juga telah menjalani lebih dari 100 hari aktivasi dan melibatkan 242 pelaku UMKM lokal.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa Blok M tidak harus dibangun dari nol untuk kembali ramai. Aktivitas masyarakat sudah terbentuk. Tantangannya adalah bagaimana keramaian itu ditata agar menjadi ekosistem perkotaan yang lebih terintegrasi.
“Di sinilah proyek Ultimate Development Blok M mengambil peran,” tutur Bimo.
MRT Jakarta menyebut pengembangan tahap lanjutan tersebut tidak hanya berorientasi pada aset atau bangunan milik MRT. Kawasan yang hendak dibangun adalah sebuah ekosistem perkotaan dengan berbagai fungsi yang saling terhubung.
Konsepnya mengacu pada TOD. Artinya, transportasi publik ditempatkan sebagai bagian utama dalam perencanaan kawasan. Warga diharapkan bisa mencapai berbagai tujuan tanpa harus selalu menggunakan kendaraan pribadi.
Skybridge jadi penghubung utama
Salah satu perubahan yang paling mudah dibayangkan warga adalah pembangunan Skybridge Blok M Direct Link.
Jembatan ini dirancang untuk menghubungkan tiga titik penting: Stasiun MRT Blok M, Blok M Hub, dan Terminal Blok M. Dengan koneksi tersebut, perpindahan dari MRT ke bus atau menuju pusat aktivitas di Blok M diharapkan menjadi lebih sederhana.
Bagi warga Jakarta, konektivitas semacam ini bukan sekadar persoalan estetika. Perjalanan menggunakan transportasi publik sering kali terasa tidak nyaman ketika seseorang harus keluar-masuk bangunan, menyeberang jalan, atau berjalan cukup jauh untuk berpindah moda.
Jika koneksi antarmoda dibuat lebih langsung, perjalanan bisa menjadi lebih praktis. Rencana ini juga sejalan dengan gagasan MRT Jakarta untuk membuat kawasan TOD bukan hanya sebagai titik naik dan turun penumpang, tetapi sebagai tempat yang tetap hidup sepanjang hari.
Selain skybridge, desain Ultimate Development Blok M mencakup Grand Hub Façade, yang akan memberikan wajah baru bagi Blok M Hub sebagai kawasan mixed-use. Ada pula konsep Bridging Nature and Urban Activity, yakni menghubungkan ruang luar dan ruang dalam melalui koridor hijau.
Ruang publik juga mendapat tempat. MRT Jakarta menyiapkan konsep The Landscape and Third Space, antara lain melalui taman dan amphitheater. Ruang semacam ini dapat digunakan untuk berkumpul, menggelar kegiatan komunitas, pertunjukan, maupun aktivitas warga lainnya.
Dengan desain tersebut, aktivitas di Blok M tidak hanya dipusatkan di dalam gedung.
Tower, hotel hingga hunian
Bagian yang membuat Ultimate Development Blok M berbeda dari penataan kawasan sebelumnya adalah skala pengembangannya. MRT Jakarta membuka kemungkinan hadirnya sejumlah tower. Fungsi bangunan tersebut dapat mencakup apartemen, hotel, serviced apartment, serta hunian untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Konsep ini membuat Blok M berpotensi menjadi kawasan yang tidak hanya dikunjungi pada siang atau malam hari. Ada orang yang tinggal, bekerja, berbelanja, menggunakan transportasi publik, berwisata, dan beraktivitas dalam area yang sama.
Model semacam itu juga menjadi salah satu karakter kawasan TOD yang dikembangkan di sejumlah kota dunia. Bimo menyebut MRT Jakarta melihat pengembangan kawasan transit di Hong Kong sebagai salah satu referensi konsep mixed-use.
Namun, rencana tersebut masih berada dalam tahap persiapan. MRT Jakarta masih menjajaki mitra dan investor untuk merealisasikan pengembangan berskala besar itu. Salah satu upayanya dilakukan melalui forum investasi di Singapura dengan menyasar calon investor, terutama dari kawasan Asia Tenggara.
Karena itu, detail akhir mengenai jumlah tower, bentuk bangunan, kapasitas hunian, nilai investasi, maupun jadwal pembangunan belum sepenuhnya ditetapkan kepada publik.
Dampak bagi warga Jakarta
Jika direalisasikan sesuai konsep, perubahan Blok M akan terasa pada beberapa sisi kehidupan warga. Pertama, mobilitas. Integrasi MRT, terminal bus, Blok M Hub, dan jaringan pejalan kaki dapat mengurangi kebutuhan warga untuk berpindah menggunakan kendaraan pribadi ketika berada di kawasan tersebut.
Kedua, aktivitas ekonomi. Saat ini saja Blok M Hub telah menjadi tempat bagi ratusan UMKM lokal. Dengan jumlah pengunjung yang mencapai sekitar 25.000 orang per hari, keberadaan kawasan yang lebih terintegrasi berpotensi memperbesar arus calon pelanggan bagi pelaku usaha.
Ketiga, ruang publik. Kehadiran taman, koridor hijau, dan amphitheater membuka peluang bagi Blok M untuk tetap menjadi ruang berkumpul warga, bukan sekadar kawasan komersial.
Keempat, hunian dekat transportasi publik. Rencana hunian bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah menjadi bagian yang penting untuk dicermati. Bila diwujudkan sesuai konsep, hunian tersebut dapat mendekatkan tempat tinggal dengan transportasi dan berbagai fasilitas kota.
Namun, aspek keterjangkauan, mekanisme penyediaan, dan siapa yang dapat mengaksesnya masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Di sisi lain, proyek sebesar ini juga berarti perubahan fisik dan aktivitas yang besar. Karena itu, keberhasilan pengembangan tidak hanya bergantung pada bangunan baru. Kualitas pedestrian, akses bagi penyandang disabilitas, ruang publik, keterjangkauan hunian, keberlanjutan UMKM, serta kelancaran transportasi selama pembangunan akan ikut menentukan bagaimana warga merasakan perubahan tersebut.
Blok M pintu masuk baru Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan Pemprov DKI melalui MRT Jakarta akan bekerja sama dengan salah satu pengembang besar untuk penataan kawasan Blok M Hub. Desain transisi kawasan tersebut telah dibahas dan mendapat persetujuannya.
Pramono berharap pekerjaan fisik dapat segera dimulai, termasuk melalui groundbreaking yang ditargetkan berlangsung pada awal Oktober 2026.
“Sehingga dengan begitu, Blok M akan menjadi kawasan yang lebih teratur, terencana terstruktur, dan mudah-mudahan secara ekonomi bisa membawa perbaikan untuk kawasan itu,” jelas Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (1/10)
Penataan Blok M juga ditempatkan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas. Setelah Blok M, Pemprov DKI menyatakan akan berkonsentrasi pada Pasar Baru, Glodok-Pancoran, dan Kota Tua.
Target akhirnya adalah menciptakan sejumlah hub baru Jakarta, termasuk untuk wisatawan yang datang ke ibu kota.
Dengan demikian, Blok M Ultimate bukan sekadar proyek mempercantik kawasan lama. Ia merupakan upaya mengubah cara sebuah kawasan kota digunakan: dari tempat transit menjadi tempat hidup.
MRT menjadi tulang punggung mobilitas. Blok M Hub menjadi ruang aktivitas. Skybridge menjadi penghubung. Tower dan hunian menambah fungsi kawasan. Hotel dan area komersial mendatangkan aktivitas ekonomi. Sementara taman dan third space memberi ruang bagi warga untuk berhenti sejenak.
Jika seluruh bagian itu dapat terhubung dengan baik, Blok M akan memiliki wajah baru tanpa harus kehilangan alasan mengapa kawasan ini sejak dulu selalu ramai: karena orang datang bukan hanya untuk menuju tempat lain, tetapi memang ingin berada di sana.






