1,5 Juta Perjalanan Sehari, Transjakarta Dorong Jakarta Beralih ke Mobilitas Hijau

Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan menjelaskan, besarnya jumlah perjalanan bersama Transjakarta menunjukkan pilihan masyarakat dalam bermobilitas memiliki dampak terhadap keberlanjutan lingkungan perkotaan. Foto: Transjakarta

KabarJakarta.com — Setiap hari, sekitar 1,5 juta perjalanan dilakukan masyarakat menggunakan layanan Transjakarta. Angka tersebut bukan hanya menunjukkan besarnya peran transportasi publik dalam kehidupan warga Jakarta, tetapi juga menjadi peluang untuk mengubah kebiasaan mobilitas menjadi lebih ramah lingkungan.

Di tengah persoalan kualitas udara dan tingginya penggunaan kendaraan pribadi, pilihan masyarakat dalam bepergian dinilai memiliki pengaruh terhadap keberlanjutan kota. Semakin banyak warga meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi publik, semakin besar pula peluang menekan emisi dari sektor transportasi.

Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan, menjelaskan jutaan perjalanan tersebut merupakan kesempatan untuk membangun pola mobilitas yang lebih berkelanjutan.

“Setiap harinya ada 1,5 juta perjalanan yang dilakukan bersama Transjakarta. Ini bukan sekadar angka, tetapi 1,5 juta kesempatan dalam memilih mobilitas yang lebih berkelanjutan,” ujar Deddy, Senin (7/9).

Menurut dia, transportasi publik tidak hanya berfungsi mengangkut masyarakat dari satu tempat ke tempat lain. Pilihan menggunakan transportasi publik juga menjadi bagian dari upaya bersama mengurangi emisi dan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat.

“Ketika semakin banyak warga beralih ke transportasi publik, semakin besar pula kontribusi yang bisa kita berikan dalam mengurangi emisi dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat,” terangnya.

Mengejar target bus listrik

Untuk memperkuat upaya tersebut, Transjakarta terus melakukan transformasi menuju sistem transportasi publik rendah emisi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperbanyak penggunaan bus listrik.

Saat ini, Transjakarta telah mengoperasikan 500 bus listrik dari total lebih dari 4.620 armada yang melayani masyarakat Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Jumlah bus listrik tersebut meningkat cukup cepat. Pada 2023, Transjakarta mengoperasikan 100 bus listrik. Setahun kemudian jumlahnya bertambah menjadi 300 unit. Pada 2025, jumlah tersebut kembali meningkat hingga mencapai 500 unit.

Transjakarta menargetkan proses elektrifikasi terus berlanjut. Pada 2027, sebanyak 50 persen armadanya ditargetkan sudah menggunakan tenaga listrik. Sementara pada 2030, seluruh armada bus Transjakarta ditargetkan telah beralih menjadi bus listrik.

Deddy mengungkapkan elektrifikasi merupakan salah satu langkah konkret untuk menekan emisi dari sektor transportasi. Namun, perubahan tersebut tidak hanya soal mengganti bus berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik.

“Transformasi ini tidak akan berhenti pada jumlah bus listrik, tetapi juga bagaimana menghadirkan layanan yang nyaman dan menjadi pilihan masyarakat dalam kesehariannya,” ujarnya.

Bus listrik juga menawarkan pengalaman perjalanan yang berbeda bagi penumpang. Kendaraan jenis ini memiliki karakteristik yang lebih senyap sehingga perjalanan dapat terasa lebih nyaman.

Berdasarkan sumber WRI Indonesia dalam TUMI E-Bus Mission 2022 yang tercantum dalam materi Transjakarta, penggunaan bus listrik dibandingkan mobil berbahan bakar bensin berpotensi menghasilkan pengurangan emisi hingga 99,9 persen.

Tak cukup hanya bus listrik

Meski elektrifikasi menjadi bagian penting, Transjakarta menilai transportasi hijau tidak dapat dibangun hanya dengan mengganti armada. Kemudahan masyarakat dalam mengakses berbagai moda transportasi juga menjadi faktor penting.

Karena itu, Transjakarta terus mengembangkan konsep urban multimodal transport. Konsep tersebut menghubungkan layanan Transjakarta dengan Mikrotrans serta berbagai moda pendukung, seperti jalur pejalan kaki, sepeda, dan fasilitas park and ride.

Integrasi ini diharapkan membuat perjalanan masyarakat lebih mudah sejak awal hingga akhir perjalanan. Warga tidak harus menggunakan kendaraan pribadi hanya karena sulit mencapai halte atau melanjutkan perjalanan setelah turun dari bus.

“Integrasi tersebut akan memperkuat konektivitas perjalanan masyarakat, dari first mile hingga last mile, sekaligus memberikan alternatif terhadap penggunaan kendaraan pribadi,” ujar Deddy.

Dengan pendekatan tersebut, transportasi publik tidak lagi berdiri sendiri. Bus, Mikrotrans, pejalan kaki, sepeda, dan fasilitas pendukung perlu menjadi bagian dari satu jaringan perjalanan yang saling terhubung.

Perubahan dimulai dari pilihan sehari-hari

Semangat membangun mobilitas rendah emisi juga dibawa Transjakarta dalam peringatan International Day of Clean Air. Melalui tema “Bersama Transjakarta untuk Melangkah Lebih Hijau”, sejumlah kegiatan digelar, mulai dari Green Mobility Talk, Electric Bus Experience, Green Mobility Exhibition, Clean Air Challenge, hingga Green Movement.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi upaya untuk memperkenalkan transportasi rendah emisi sekaligus mengajak masyarakat melihat bahwa persoalan kualitas udara tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau operator transportasi.

Bagi Deddy, perubahan besar justru dapat dimulai dari keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari.

“Kami percaya perubahan besar selalu dimulai dari pilihan-pilihan sederhana. Memilih menggunakan transportasi publik, menggunakan sepeda, berjalan kaki, dan memanfaatkan layanan yang terintegrasi merupakan langkah nyata yang bisa dilakukan masyarakat,” katanya.

Jika pilihan tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh jutaan orang setiap hari, dampaknya terhadap kota akan jauh lebih besar.

Pada akhirnya, 1,5 juta perjalanan Transjakarta setiap hari bukan sekadar statistik jumlah penumpang. Di balik angka itu terdapat jutaan keputusan warga dalam menentukan bagaimana Jakarta bergerak.

Semakin banyak perjalanan dilakukan dengan transportasi publik yang rendah emisi dan terintegrasi, semakin besar pula peluang Jakarta mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Perubahan menuju kota yang lebih hijau pun tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Bisa dimulai dari satu keputusan sederhana: memilih meninggalkan kendaraan pribadi dan menggunakan transportasi publik untuk perjalanan hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *