Dari Pasar ke Rumah, Pilah Sampah jadi Budaya Baru Jakarta

Petugas mengangkut tong berisi bubur sampah organik di Kantor Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Makasar, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Pusat pengolahan sampah organik tersebut mampu mengolah sebanyak 50 ton sampah per hari yang telah dipilah dan dikumpulkan masyarakat di setiap kelurahan untuk dijadikan bubur organik pakan manggot dan pupuk kompos sebagai upaya mengurangi beban TPST Bantar Gebang yang akan hanya menerima sampah residu mulai Agustus 2026. Foto: ANTARA

KabarJakarta.comJakarta tidak hanya membutuhkan teknologi untuk mengatasi persoalan sampah. Perubahan yang lebih mendasar justru harus dimulai dari kebiasaan sederhana warga, yakni memilah sampah sejak pertama kali dihasilkan.

Pesan itu kembali ditegaskan Perumda Pasar Jaya yang mendorong gerakan pemilahan sampah dari sumber sebagai bagian dari upaya membangun budaya baru pengelolaan sampah di Ibu Kota. Rumah tangga, pasar, pedagang, hingga konsumen dinilai memiliki peran penting sebelum sampah masuk ke tempat pengumpulan atau fasilitas pengolahan.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan Widiyantoro menjelaskan keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan teknologi dan fasilitas. Menurut dia, perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

“Kuncinya itu tetap ada di masyarakat, yaitu mau memilah sampah dari rumah,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8).

Bagi Agus, kebiasaan tersebut harus dibangun secara konsisten. Pemilahan tidak seharusnya hanya dilakukan ketika ada program tertentu, tetapi menjadi rutinitas sehari-hari.

“Gerakan ini benar-benar menjadi budaya baru bagi warga Jakarta,” kata dia.

Perumda Pasar Jaya memiliki ruang yang cukup besar untuk ikut mendorong perubahan tersebut. Perusahaan daerah itu mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.

Pasar selama ini bukan hanya tempat transaksi jual beli. Setiap hari, pasar menjadi ruang pertemuan pedagang, pembeli, pekerja, dan masyarakat dalam jumlah besar. Karena itu, lingkungan pasar dinilai dapat menjadi tempat yang efektif untuk memperkenalkan kebiasaan baru dalam memperlakukan sampah.

Pengelolaan sampah di pasar didorong agar dilakukan lebih terstruktur. Langkahnya antara lain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Pedagang dan konsumen juga dapat dibiasakan mengenali sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu. Pemilahan tersebut sejalan dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), karena sampah yang masih mempunyai nilai guna atau nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali dan didaur ulang.

Sementara itu, sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan dapat diarahkan ke fasilitas pengolahan sesuai karakteristiknya.

Pengawas Lingkungan Hidup Cempaka Putih Agus Sasmita mengungkapkan pemisahan dari sumber merupakan tahapan penting sebelum sampah diolah lebih lanjut. Sumber yang dimaksud, kata dia, salah satunya adalah rumah tangga.

“Jadi enggak bisa langsung itu diolah organiknya, lalu nanti jadi bahan makanan atau pakan. Nah, salah satunya apa dari sumbernya? Dari sumbernya ini berarti dari sampah rumah tangga,” jelas Agus dalam Diskusi Publik Jakarta Bergerak Bersama, Pilah Sampah dari Sumber, Jadi Budaya Baru Warga Kota, Rabu (19/8).

Menurut dia, masyarakat juga perlu memahami tata cara atau standar operasional prosedur (SOP) dalam memilah sampah rumah tangga. Dengan pemilahan yang benar, proses pengangkutan sampah dapat berjalan lebih mudah dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi petugas.

“Jadi sama seperti SOP-nya, tetap dipisah. Mungkin ada 4 atau 3 kategori di situ. Salah satunya adalah B3,” ujarnya.

Agus menjelaskan sampah B3 rumah tangga memang tidak selalu muncul setiap hari. Namun, jenis sampah seperti obat-obatan, obat nyamuk, dan jarum suntik tetap perlu mendapat perlakuan berbeda karena berpotensi membahayakan.

Di sisi lain, Agus Himawan menilai persoalan sampah tidak sebatas urusan kebersihan kota. Cara masyarakat memperlakukan sampah juga mencerminkan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.

“Peradaban sebuah bangsa juga ditentukan dari bagaimana mereka memperlakukan sampah,” tuturnya.

Karena itu, penyelesaian persoalan sampah Jakarta membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, pengelola pasar, pedagang, konsumen, pelaku usaha, komunitas, hingga rumah tangga memiliki tanggung jawab sesuai perannya.

“Persoalan sampah Jakarta yang selama ini belum terselesaikan harus kita atasi bersama,” ujar Agus.

Pasar Jaya juga mendukung inovasi pengelolaan sampah, termasuk ekonomi sirkular dan teknologi Waste to Energy (WtE). Namun, teknologi tersebut dinilai tidak dapat berdiri sendiri. Sampah yang berkurang sejak awal dan sudah dipilah akan membuat proses pengolahan berikutnya menjadi lebih efektif.

Pada akhirnya, perubahan itu dapat dimulai dari tindakan yang sangat sederhana: membawa tas belanja yang bisa digunakan berulang kali, mengurangi plastik sekali pakai, dan menyediakan tempat terpisah untuk sampah di rumah.

Dari rumah, kebiasaan itu kemudian dibawa ke pasar. Dari pasar, kebiasaan tersebut diharapkan menyebar ke ruang-ruang publik lainnya.

Dengan cara itu, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan pemerintah atau petugas kebersihan semata. Sampah menjadi tanggung jawab bersama sejak pertama kali muncul, sekaligus menjadi bagian dari kebiasaan warga untuk menjaga Jakarta tetap bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan.

Exit mobile version