KabarJakarta.com — Blok M, Jakarta Selatan, akan memasuki babak baru. Kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat transportasi, perdagangan, kuliner, hiburan, dan tempat berkumpul anak muda itu akan direvitalisasi secara menyeluruh dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) menargetkan terminal, area ritel, dan podium dapat selesai serta mulai beroperasi pada 2029. Sementara pengembangan kawasan multifungsi atau mixed-use akan dilanjutkan secara bertahap dan ditargetkan selesai pada 2030.
Namun, proyek tersebut bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul pada Oktober 2026. Penataan Blok M telah mulai berjalan sejak awal 2025. MRT Jakarta sejak Januari 2025 melakukan revitalisasi Terminal dan Mal Blok M, antara lain dengan pembenahan area untuk mendukung pelaku UMKM dan meningkatkan kualitas fasilitas kawasan.
Kini, proses tersebut masuk ke tahap yang jauh lebih besar melalui konsep Transformasi Blok M Fase Ultimate yang diluncurkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Bukan sekadar mempercantik Blok M
Revitalisasi kali ini tidak sekadar mengecat ulang bangunan atau memperbaiki fasilitas yang sudah ada. Pemerintah dan MRT Jakarta ingin mengubah Blok M menjadi kawasan perkotaan yang menghubungkan transportasi, kegiatan ekonomi, ruang publik, dan aktivitas masyarakat dalam satu ekosistem.
Langkah itu sekaligus menjadi respons terhadap kondisi aset Blok M yang telah berusia puluhan tahun. MRT Jakarta menyebut bangunan yang menjadi bagian dari Blok M Hub telah berusia sekitar 34 tahun sehingga aspek keselamatan dan keamanan struktur menjadi salah satu pertimbangan dalam transformasi kawasan.
Di sisi lain, Blok M tidak bisa begitu saja dikosongkan selama pembangunan. Kawasan tersebut saat ini masih menjadi tempat aktivitas ratusan tenant dan dikunjungi lebih dari 25.000 orang setiap hari.
Karena itu, Pramono memastikan denyut aktivitas Blok M tetap berjalan selama proses pembangunan.
“Yang jelas, Blok M tidak boleh berhenti. Blok M enggak boleh napasnya itu, tidak tersambungkan,” kata Pramono saat peluncuran konsep desain Transformasi Blok M Fase Ultimate di Blok M Hub, Jakarta, Selasa (6/10).
Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat juga memastikan kegiatan usaha tidak akan dihentikan. Sebelum pembangunan fisik dimulai, tenant akan ditransisikan ke lokasi yang telah disiapkan sehingga tetap dapat berjualan.
“Pada saat nanti kita akan melakukan pembangunan, sebelum groundbreaking, kami pasti menjamin semua tenant ada 332. Itu kami lakukan transisi,” ujar Tuhiyat.
Transjakarta pun tetap beroperasi. Pengaturan sirkulasi dan tata letak selama pembangunan akan dilakukan bersama organisasi perangkat daerah, khususnya Dinas Perhubungan.
Lima wajah baru Blok M
Konsep akhir revitalisasi Blok M bertumpu pada lima transformasi utama.
Pertama, terminal akan diubah menjadi terminal modern dan terintegrasi. Terminal tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat naik dan turun penumpang bus, tetapi menjadi bagian dari satu kawasan transit yang terhubung dengan MRT, Transjakarta, pedestrian, dan berbagai fungsi komersial.
Gagasan ini penting karena kekuatan utama Blok M sebenarnya sudah terbentuk: kawasan ini memiliki akses ke MRT dan Transjakarta sekaligus menjadi tujuan masyarakat untuk berbelanja, makan, nongkrong, dan menikmati hiburan.
Dalam rancangan yang sebelumnya dipaparkan MRT Jakarta, salah satu elemen yang disiapkan adalah skybridge Blok M Direct Link yang menghubungkan Stasiun MRT Blok M BCA, Blok M Hub, dan terminal bus. Ada pula konsep Grand Hub Façade sebagai wajah baru kawasan serta ruang hijau dan area aktivitas yang menghubungkan bagian atas dan bawah kawasan.
Kedua, kawasan Blok M-ASEAN akan dikembangkan menjadi kawasan mixed-use. Artinya, berbagai fungsi perkotaan akan berada dalam satu kawasan, bukan berdiri sendiri-sendiri. Pengembangan ini akan dilakukan secara bertahap dan ditargetkan selesai pada 2030.
Ketiga, aksesibilitas kawasan akan diperbaiki. Hubungan antara satu moda transportasi dengan moda lainnya akan dibuat lebih mudah. Begitu pula hubungan antara terminal, stasiun, pusat perdagangan, dan ruang publik.
Orientasinya adalah membuat orang lebih nyaman berjalan kaki dan berpindah moda tanpa harus keluar-masuk kawasan yang terpisah.
Terminal sekaligus mesin ekonomi
Transformasi keempat menyasar sisi ekonomi. Blok M akan dikembangkan sebagai destinasi komersial baru yang menggabungkan ritel, makanan dan minuman, gaya hidup, hingga ruang publik.
Dengan demikian, terminal bukan lagi sekadar fasilitas transportasi. Orang datang karena kebutuhan perjalanan, tetapi dapat melanjutkan aktivitas dengan makan, berbelanja, menikmati hiburan, mengikuti kegiatan komunitas, atau bekerja di kawasan tersebut.
Model semacam ini sejalan dengan prinsip TOD: semakin banyak aktivitas yang dapat dilakukan dalam kawasan yang mudah dijangkau transportasi publik, semakin besar pula peluang kawasan tersebut menjadi pusat ekonomi baru.
Perkembangan Blok M Hub dalam satu tahun terakhir menunjukkan potensi tersebut. MRT Jakarta mencatat kawasan itu telah menjadi salah satu pusat aktivitas kuliner dan ekonomi kreatif, dengan rata-rata kunjungan sekitar 25.000 orang per hari serta ratusan UMKM lokal yang beraktivitas di dalamnya.
Transformasi kelima adalah memperluas ruang terbuka publik. Kawasan ini akan dibuat lebih hijau, aktif, dan nyaman untuk berinteraksi.
Tuhiyat menyebut luas ruang terbuka publik setelah pembangunan akan menjadi sekitar lima kali lipat, sedangkan luas kawasan secara keseluruhan ditargetkan menjadi 10 kali lebih besar dibandingkan kondisi saat ini.
Berapa anggarannya?
Untuk angka investasi final, MRT Jakarta hingga kini belum mengumumkan nilai definitif proyek keseluruhan. Namun, pada Mei 2025, Tuhiyat memperkirakan kebutuhan investasi revitalisasi kawasan Terminal Blok M berada di kisaran lebih dari Rp2 triliun. Saat itu MRT Jakarta juga tengah melakukan market sounding untuk mencari mitra atau investor.
Karena itu, angka Rp2 triliun lebih sebaiknya dipahami sebagai perkiraan kebutuhan investasi, bukan nilai kontrak final seluruh revitalisasi Blok M. Skema pendanaan juga berpotensi melibatkan mitra swasta, sementara tahap revitalisasi sebelumnya menggunakan anggaran perusahaan MRT Jakarta.
Yang jelas, proyek ini akan berlangsung bertahap. Terminal, ritel, dan podium ditargetkan selesai pada 2029, sedangkan kawasan mixed-use menyusul pada 2030.
Tantangan terbesar proyek ini bukan hanya membangun gedung baru. Pemerintah harus memastikan Blok M tetap hidup ketika pembangunan berlangsung.
Sebab, yang hendak dipertahankan bukan hanya bangunan, tetapi juga ekosistem ekonomi dan sosial yang sudah terbentuk selama puluhan tahun.
Pramono pun mengingatkan agar modernisasi tidak menghapus karakter kawasan tersebut.
“Saya berharap Blok M tidak akan kehilangan ruh utamanya,” ujarnya.
Dengan kata lain, Blok M akan berubah secara fisik, tetapi tidak boleh kehilangan alasan mengapa orang datang ke sana.
Modern, terintegrasi, hijau, dan lebih luas menjadi tujuan. Namun kuliner, perdagangan, transportasi publik, kreativitas, dan ruang berkumpul tetap harus menjadi denyut utamanya.
Itulah pekerjaan rumah terbesar revitalisasi Blok M hingga 2029: membangun kawasan baru tanpa mematikan Blok M yang sudah hidup.
