Dari Rumah, Bukan dari TPA: Jakarta Ubah Cara Mengelola Sampah

Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dalam program ini, lebih dari 400 rumah mendapatkan edukasi dan pendampingan secara door to door, sekaligus dukungan sarana pemilahan sampah. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Di sebuah permukiman di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, persoalan sampah mulai dilihat dari arah yang berbeda. Bukan lagi sekadar bagaimana sampah diangkut setelah menumpuk, melainkan bagaimana sampah diperlakukan sejak pertama kali dihasilkan dari rumah.

Perubahan itu menjadi bagian dari Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif yang menyasar lebih dari 400 rumah. Warga tidak hanya diminta memilah sampah, tetapi juga mendapat edukasi dan pendampingan langsung dari rumah ke rumah. Sarana pemilahan pun disiapkan agar kebiasaan baru tersebut dapat berjalan dalam keseharian.

Program ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah pola lama pengelolaan sampah yang selama ini identik dengan kumpul, angkut, dan buang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, memaparkan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperkuat pengelolaan di bagian hilir. Pengelolaan dari sumber dengan cara dipilah sangat diperlukan, sebelum masuk ke tempat pemrosesan akhir

“Penanganan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di hilir. Kita harus memperkuat pengelolaan dari sumber, agar sebanyak sampah bisa dipilah dan diolah, sebelum masuk ke pemrosesan akhir,” ujar Dudi di Jakarta, Senin (28/9).

Menurut dia, perubahan yang dibutuhkan bukan sebatas mengajak masyarakat memilah sampah. Pemerintah juga harus membangun sistem yang memastikan sampah yang sudah dipisahkan tidak kembali tercampur.

Karena itu, konsep yang didorong adalah pilah, angkut, dan olah. Sampah yang dipilah di rumah harus tetap terpisah ketika dikumpulkan, diangkut, hingga masuk ke fasilitas pengolahan.

“Yang kami dorong bukan hanya gerakan memilah saja, tetapi pembangunan sistem pilah, angkut, dan olah yang utuh dan menyeluruh,” katanya.

Pastikan sampah tidak kembali tercampur

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari, mengungkapkan penerapan program di RW 06 dirancang untuk menjawab persoalan yang sering muncul dalam pengelolaan sampah dari sumber.

Warga bisa saja sudah rajin memilah, tetapi upaya itu menjadi sia-sia apabila sampah kembali dicampur saat pengumpulan atau pengangkutan.

“Kita ingin bangun sistem di lapangan terkait rantai pengelolaan yang jelas. Warga memilah dari rumah, sampah dikumpulkan secara terpisah, lalu diangkut secara terpilah. Berikutnya diarahkan ke fasilitas pengolahan sesuai jenisnya,” kata Purwanti.

Untuk mendukung warga, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, Pemprov DKI menyediakan ember khusus untuk menampung sampah organik di setiap rumah.

Sampah tersebut kemudian dijemput secara berkala berdasarkan jadwal yang telah disusun. Selain itu, sejumlah drop point ditempatkan di sekitar gang agar sampah yang telah dipilah dapat diambil petugas atau pengemudi gerobak.

Jagakarsa dipilih sebagai lokasi percontohan karena tingkat pemilahan sampah di wilayah tersebut masih relatif rendah. Namun, kesadaran warga serta pengurus RT dan RW dinilai cukup baik untuk menjadi modal dalam membangun sistem baru.

Program tersebut juga menggunakan pendekatan co-design. Warga tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima program, tetapi dilibatkan bersama pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan perguruan tinggi untuk merancang pola pengelolaan yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Dari sampah menjadi sumber daya

Upaya mengubah kebiasaan pengelolaan sampah juga mulai terlihat di wilayah Jakarta Selatan secara lebih luas.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jakarta Selatan, Iwan Santoso, menyebutkan sekitar 21.000 rumah di Jakarta Selatan telah menjalankan pemilahan sampah dari sumber.

Pemilahan tersebut didukung berbagai fasilitas pengolahan sampah organik, antara lain biopori jumbo dan teba modern.

Menurut Iwan, pendampingan langsung menjadi penting karena masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga melihat praktik pemilahan secara langsung.

“Sampah organik yang sebelumnya dibuang begitu saja, bisa diolah menjadi kompos, maupun media tanam yang bermanfaat bagi lingkungan,” ujarnya.

Bagi Jakarta, perubahan tersebut bukan perkara sederhana. Kota dengan jumlah penduduk besar menghasilkan sampah setiap hari. Jika semuanya berakhir dalam satu alur pengumpulan dan pembuangan, beban pengelolaan di hilir akan terus meningkat.

Karena itu, RW 06 Srengseng Sawah menjadi ruang untuk menguji apakah perubahan bisa dimulai dari tempat paling dekat dengan persoalan: rumah warga.

Dudi berharap proyek percontohan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

“Pilot project ini diharapkan sebagai model yang dapat dievaluasi, diperbaiki, dan secara bertahap akan dikembangkan di wilayah lain,” katanya.

Dengan pendekatan itu, sampah Jakarta perlahan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Ia dipilah sejak sumbernya, dikumpulkan sesuai jenis, diangkut tanpa tercampur, lalu diolah kembali.

Paradigmanya sederhana: semakin banyak sampah selesai diolah dari sumber, semakin sedikit yang harus dikirim ke tempat pemrosesan akhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *