Habis Pesta Rakyat, 80,4 Ton Sampah Menumpuk di Pusat Jakarta

Petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta membersihkan sampah sisa rangkaian Upacara HUT RI dan Pesta Rakyat di Jakarta yang beratnya 80,4 ton. Foto: DLH DKI

KabarJakarta.comPesta rakyat dan rangkaian upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia meninggalkan pekerjaan besar bagi petugas kebersihan. Setelah kerumunan masyarakat berangsur meninggalkan kawasan pusat perayaan, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta harus kembali menyisir ruang-ruang publik yang dipenuhi sisa aktivitas warga.

Total sampah yang ditangani mencapai sekitar 365 meter kubik atau setara 80,4 ton. Jumlah tersebut dikumpulkan dari sejumlah lokasi kegiatan, terutama kawasan Monumen Nasional (Monas), Bundaran Hotel Indonesia (HI), serta koridor Jalan Jenderal Sudirman-Thamrin.

Angka 80,4 ton tentu bukan sekadar angka di atas kertas. Jika dibayangkan, jumlah tersebut menunjukkan betapa besar konsekuensi lingkungan dari sebuah perayaan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.

Humas DLH DKI Jakarta Yogi Ikhwan menjelaskan, sebanyak 1.200 personel dikerahkan untuk memastikan kawasan yang menjadi pusat kegiatan kembali bersih. Mereka bekerja dalam dua shift sejak kegiatan berlangsung hingga pembersihan selesai pada pagi hari.

“Setelah kegiatan selesai, petugas melakukan pembersihan dan penyisiran secara bertahap hingga pagi hari, agar ruang-ruang publik yang digunakan untuk perayaan kembali nyaman bagi masyarakat,” kata Yogi dalam keterangan resminya, Selasa (18/8).

Sampah meningkat dalam semalam

Pada hari-hari biasa, volume sampah di Jakarta sudah menjadi persoalan tersendiri. Namun, kegiatan dengan konsentrasi massa dalam jumlah besar dapat membuat timbulan sampah meningkat secara tajam dalam waktu singkat.

Artinya, 80,4 ton sampah yang muncul setelah rangkaian perayaan kemerdekaan bukan merupakan gambaran produksi sampah Jakarta dalam sehari. Angka tersebut merupakan sampah yang berhasil ditangani di titik-titik kegiatan perayaan, sehingga tidak tepat jika dibandingkan langsung dengan total produksi sampah harian seluruh Jakarta.

Meski begitu, perbandingan tersebut penting untuk menunjukkan skalanya. Sampah sebanyak 80,4 ton dalam satu rangkaian kegiatan berarti petugas harus menangani timbulan yang terkonsentrasi di kawasan tertentu dalam waktu singkat.

Di Monas, misalnya, pembersihan dilakukan dalam dua sesi. Petugas bekerja sejak pukul 10.00 hingga 18.00 WIB, kemudian dilanjutkan dari pukul 18.00 WIB hingga dini hari. Sementara di Bundaran HI dan kawasan sekitarnya, penanganan dilakukan sejak sore sampai proses penyisiran selesai.

Pekerjaan itu tidak hanya soal mengumpulkan sampah. Petugas harus memastikan tidak ada sampah yang tertinggal di ruang publik, trotoar, jalan, hingga area yang digunakan masyarakat berkumpul.

Bukan sekadar persoalan kebersihan

Sampah dalam jumlah besar memiliki konsekuensi yang lebih luas jika tidak segera ditangani. Sampah yang tertinggal di ruang terbuka dapat mengganggu kenyamanan masyarakat, menyumbat saluran air ketika terbawa hujan, menimbulkan bau, serta berpotensi menjadi sumber pencemaran.

Jenis sampah yang mendominasi kegiatan publik biasanya juga beragam, mulai dari kemasan makanan dan minuman, kantong plastik, botol, hingga berbagai sampah sekali pakai. Jika tercampur sejak awal, proses pemilahan dan pengolahan berikutnya menjadi lebih sulit.

Karena itu, DLH DKI tidak hanya mengandalkan petugas setelah sampah terbentuk. Tempat sampah terpilah juga ditempatkan di sejumlah titik kegiatan. Langkah ini ditujukan agar masyarakat bisa membuang sampah sesuai jenisnya sejak dari sumber.

“Kami melihat semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kebersihan ruang publik. Ini yang kami ingin terus bangun bersama,” ujar Yogi.

DLH juga mengerahkan berbagai peralatan untuk mempercepat proses pembersihan. Sarana tersebut antara lain 16 truk typer anorganik, 12 mini dump truck, 12 truk compactor, 14 unit road sweeper, dan 35 unit dust bin.

Selain itu, disiapkan 1.200 karung atau plastik serta fasilitas sanitasi berupa 20 bus toilet, sembilan tangki air bersih, dan 7 (tujuh) tangki air kotor.

Penanganan tidak boleh berhenti di pengangkutan

Besarnya sampah dari sebuah perayaan seharusnya menjadi evaluasi, bukan hanya keberhasilan petugas membersihkan lokasi setelah acara.

Pengangkutan memang penting agar sampah tidak menumpuk di ruang publik. Namun, persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana mengurangi sampah sejak awal dan memastikan sebanyak mungkin material masih memiliki nilai guna.

Penyelenggara acara dapat memperkuat penggunaan wadah yang dapat digunakan kembali, mengurangi kemasan sekali pakai, menyediakan titik pengumpulan sampah yang mudah terlihat, serta memastikan pemilahan berjalan sejak lokasi kegiatan.

Masyarakat juga memiliki peran yang sama penting. Membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan tidak meninggalkan sampah di lokasi acara merupakan tindakan sederhana yang dapat mengurangi beban petugas.

Pengelolaan acara berskala besar pada akhirnya tidak cukup hanya dengan menyiapkan ribuan personel kebersihan. Sistem pengurangan, pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah harus dirancang sejak sebelum acara dimulai.

“Perayaan kemerdekaan merupakan ruang kebersamaan. Kami berharap semangat itu juga tercermin dalam cara kita menjaga Jakarta,” ungkap Yogi.

Sebanyak 80,4 ton sampah yang muncul dari rangkaian perayaan HUT ke-81 RI menjadi indikator kuat bahwa sebuah pesta publik selalu meninggalkan jejak. Tantangannya bukan hanya membuat Jakarta kembali bersih setelah kerumunan bubar, tetapi memastikan setiap perayaan berikutnya menghasilkan sampah sesedikit mungkin.

Sebab, keberhasilan sebuah pesta rakyat semestinya tidak hanya diukur dari meriahnya acara, tetapi juga dari seberapa kecil beban yang ditinggalkannya bagi lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *