KabarJakarta.com — Musim kemarau mulai terasa di sejumlah permukiman Jakarta Selatan. Sumur warga yang selama ini menjadi sumber utama air bersih perlahan menyusut. Kondisi itu membuat sebagian warga harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menyadari kondisi demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Selatan menyiapkan armada mobil tangki yang siap digunakan untuk membantu memasok air bersih kepada warga yang mengalami kesulitan air.
Mobil tangki yang dikerahkan memiliki kapasitas 5.000 liter. Armada tersebut disiapkan untuk mendistribusikan air ke wilayah yang membutuhkan, terutama kawasan yang sumurnya mulai mengering selama musim kemarau.
Kepala Satuan Tugas BPBD Wilayah Jakarta Selatan, Sukendar, mengungkapkan sejumlah laporan mengenai kesulitan air telah diterima petugas. Salah satunya datang dari kawasan Kecamatan Cilandak dan sempat ramai dibicarakan di media sosial.
Menurut Sukendar, warga di kawasan tersebut masih banyak mengandalkan air tanah. Persoalan muncul karena sumur yang digunakan sebagian warga sudah dibuat cukup lama dan memiliki kedalaman kurang dari 20 meter.
“Untuk wilayah itu, sebenarnya warga yang datang mengadu. Kami sudah koordinasikan dan ditangani. Secara teknis, kedalaman sumur warga berkisar di bawah 20 meter, dan pembuatannya sudah cukup lama,” ujar Sukendar, Selasa (15/9).
Saat ini, penanganan krisis air bersih tengah difokuskan di sejumlah titik. Dua wilayah yang menjadi perhatian ada di Kelurahan Pondok Labu dan Cilandak Barat.
BPBD Jakarta Selatan tidak bekerja sendiri. Pendistribusian air dilakukan dengan berkoordinasi bersama sejumlah unsur pemerintah daerah, termasuk Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) serta Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.
“Untuk armada, kami siap dalam membantu suplai air bersih. Tentu juga berkoordinasi dengan unsur terkait, seperti Sudin Gulkarmat dan Sudin LH Jakarta Selatan,” kata Sukendar.
Siapkan sumber air alternatif
Penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan air menggunakan mobil tangki. BPBD bersama pemerintah wilayah juga mencari sumber air alternatif agar kebutuhan warga dapat dipenuhi secara lebih berkelanjutan.
Hasil peninjauan bersama pihak kelurahan dan pengurus RT/RW menunjukkan sejumlah langkah telah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan sumur warga mengering. Salah satunya, dengan menyediakan sarana pendukung untuk bisa menarik air dari wilayah sekitar.
Di Pondok Labu, misalnya, pengurus RW telah membuat sumur satelit yang disebut masih memiliki aliran air. Namun, penggunaannya tetap dibatasi untuk menjaga ketersediaan air.
“Kalau di Pondok Labu sudah ada RW yang membuat sumur satelit, yang airnya tetap mengalir. Namun, di sana ada pembatasan pemakaian air, khususnya di lingkungan rumah kos-kosan,” papar Sukendar.
Pemerintah setempat juga telah menyediakan fasilitas khusus untuk membantu menambah kedalaman sumur bor di sejumlah wilayah. Warga yang membutuhkan cukup menyiapkan lokasi serta tempat penampungan air yang memadai.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi kekeringan yang dapat terjadi ketika kemarau berlangsung lebih panjang.
Warga diminta segera melapor
BPBD Jakarta Selatan mengimbau warga tidak menunggu sampai persediaan air benar-benar habis sebelum melapor. Jika mulai mengalami kesulitan mendapatkan air, warga dapat menyampaikan laporan melalui ketua RT/RW atau kelurahan.
Laporan dari tingkat lingkungan tersebut, selanjutnya akan diteruskan kepada petugas agar penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat.
Sukendar memastikan, BPBD bersama jajaran Pemkot Jakarta Selatan akan selalu bersiaga selama musim kemarau. Armada tangki akan digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan suplai air bersih.
“Kami BPBD bersama jajaran Pemkot Jaksel selalu berkomitmen untuk siaga melayani kebutuhan air bersih warga, selama musim kemarau ini,” ucapnya.
Di sisi lain, persoalan kekeringan juga menjadi pengingat bagi warga yang masih bergantung pada air tanah. Sukendar mendorong masyarakat agar mulai beralih menggunakan layanan air bersih perpipaan yang disediakan PAM Jaya.
Menurut dia, penggunaan air perpipaan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. Kebijakan tersebut juga sejalan dengan upaya menjadikan wilayah Jakarta sebagai Zona Bebas Air Tanah (ZOBAT).
“Sampai saat ini, kami juga masih mengandalkan air PAM Jaya dalam memenuhi dan membantu kebutuhan warga. Artinya, air selalu tersedia dalam kondisi cuaca apa pun,” tandasnya.
Bagi warga Jakarta Selatan yang sumurnya mulai kehilangan air, mobil tangki BPBD menjadi pertolongan sementara. Namun, di balik distribusi ribuan liter air itu, ada persoalan yang lebih panjang: bagaimana memastikan kebutuhan air warga tetap terpenuhi ketika kemarau datang, tanpa terus bergantung pada air tanah.






