KabarJakarta.com — Upaya mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang mulai didorong dari tingkat lingkungan. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat menetapkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Meruya Selatan sebagai percontohan pengelolaan sampah.
TPS3R ini ditargetkan mampu mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang hingga 70 persen. Target tersebut tidak hanya mengandalkan kemampuan fasilitas pengolahan, tetapi juga membutuhkan perubahan cara masyarakat memperlakukan sampah sejak dari rumah.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Muthmainah mengungkapkan, saat ini terdapat 5 (lima) TPS3R yang tersebar di wilayah Jakarta Barat. Namun, TPS3R Meruya Selatan lebih dahulu dipilih sebagai model untuk melihat bagaimana pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih efektif di tingkat kawasan.
“TPS3R berperan sangat penting dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke Bantar Gebang,” ucap Iin di Jakarta, Jumat (2/10).
Menurut Iin, persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengangkut sampah dari permukiman menuju tempat pembuangan. Sebagian sampah harus diselesaikan di tingkat hulu melalui pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali, dan pengolahan.
Gambaran kebutuhan tersebut terlihat dari jumlah sampah Jakarta Barat yang selama ini dikirim ke TPST Bantar Gebang. Dari sekitar 2.220 ton sampah atau setara 220 rit truk, jumlah tersebut kini telah ditekan menjadi sekitar 110 rit.
Data memperlihatkan, masih terdapat sekitar 1.000 ton sampah atau setara 100 rit truk yang perlu ditangani sebelum masuk ke sistem pembuangan akhir.
“Berarti kita harus pikirkan bagaimana 1.000 ton sampah atau 100 rit truk itu, bisa kita selesaikan di hulu. Karena itu lah, kita membuat sejumlah percontohan,” ujar Iin.
Dalam konteks tersebut, TPS3R Meruya Selatan tidak hanya diposisikan sebagai tempat mengolah sampah. Fasilitas ini diharapkan menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat dibangun bersama oleh pemerintah dan masyarakat.
Rencananya, TPS3R Meruya Selatan akan diresmikan sebagai percontohan pada November mendatang. Empat TPS3R lain di Jakarta Barat kemudian dapat mempelajari sistem yang diterapkan di Meruya Selatan untuk menyesuaikannya dengan kondisi wilayah masing-masing.
“4 TPS3R lainnya bisa belajar ke sini. Mereka bisa melihat bagaimana sistem yang dibangun untuk dilakukan secara bersama,” kata Iin.
Target pengurangan 70 persen
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat Aldi Jansen menjelaskan, TPS3R Meruya Selatan ditargetkan mampu mengolah sekaligus mengurangi sampah hingga 70 persen pada November.
Target itu cukup signifikan jika dibandingkan kondisi sebelum TPS3R tersebut ditetapkan sebagai percontohan. Saat itu, sampah dari kawasan tersebut yang berakhir di TPST Bantar Gebang mencapai sekitar 50 ton.
Dengan adanya penguatan sistem pengolahan, sebagian besar sampah diharapkan tidak lagi langsung dibawa ke tempat pembuangan akhir. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah dan diolah, sedangkan hanya sisa yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dikirim ke TPST Bantar Gebang.
Namun, pencapaian target 70 persen tidak semata-mata ditentukan oleh fasilitas TPS3R. Kualitas sampah yang masuk juga menjadi faktor penting. Sampah yang sudah tercampur sejak dari rumah akan lebih sulit dan membutuhkan proses lebih panjang untuk dipilah dan diolah.
Karena itu, pemilahan sampah dari sumber menjadi bagian penting dari sistem ini.
Masyarakat dapat memisahkan sampah organik, seperti sisa makanan dan daun, dari sampah anorganik seperti plastik, kertas, kaca, dan logam. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi juga dapat dikumpulkan untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
Pemilahan sejak dari rumah membuat proses pengolahan di TPS3R menjadi lebih mudah. Sampah tidak lagi datang dalam kondisi tercampur sehingga petugas tidak harus memilah seluruh jenis sampah dari awal. Pada saat yang sama, semakin banyak material yang dapat dimanfaatkan kembali dan semakin sedikit residu yang harus dibuang.
Dengan demikian, keberadaan TPS3R bukan berarti masyarakat dapat menyerahkan seluruh persoalan sampah kepada pemerintah. Justru, keberhasilan pengurangan sampah sangat bergantung pada kebiasaan warga sejak dari sumbernya.
Model bagi kawasan Lain
Aldi mengingatkan, partisipasi masyarakat diperlukan agar optimalisasi TPS3R Meruya Selatan dapat berjalan lebih cepat. Pemerintah akan memantau perkembangan program tersebut secara berkala setelah percontohan mulai berjalan.
“Setelah progres percontohan siap berjalan, nanti akan kita monev secara berkala. Baik, dari sisi efektivitas residu yang akan ditangani, juga sisi pengolahannya yang ada di TPS3R ini,” ujar Aldi.
Pemantauan tersebut penting untuk mengetahui apakah target pengurangan sampah benar-benar tercapai. Evaluasi juga dapat menunjukkan jenis sampah apa yang paling banyak dihasilkan, seberapa efektif proses pengolahannya, serta berapa banyak residu yang pada akhirnya tetap harus dibawa ke TPST Bantar Gebang.
TPS3R Meruya Selatan juga dirancang agar pendekatan pengelolaan sampah tidak berhenti di lingkungan permukiman. Model tersebut dapat diterapkan pada berbagai sumber sampah, termasuk gedung perkantoran, kampus dan kawasan lainnya.
Jika sistem tersebut berjalan sesuai target, TPS3R Meruya Selatan tidak hanya menjadi tempat pengolahan sampah di satu wilayah. Fasilitas ini dapat menjadi laboratorium bagi Jakarta Barat untuk mengembangkan pola pengelolaan sampah dari tingkat kawasan.
Pada akhirnya, pengurangan sampah di Bantar Gebang bukan hanya persoalan menambah kapasitas pengolahan. Persoalannya dimulai jauh sebelum sampah masuk ke truk pengangkut, yakni ketika seseorang memilih membuang sampah tanpa memilahnya.
Karena itu, target pengurangan hingga 70 persen di TPS3R Meruya Selatan akan sangat ditentukan oleh dua hal yang saling berkaitan: kemampuan fasilitas mengolah sampah dan kesediaan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah. Jika keduanya berjalan bersama, semakin sedikit sampah yang perlu menempuh perjalanan hingga berakhir di TPST Bantar Gebang.






