KabarJakarta.com — Di tangan perajin, sehelai kain bukan sekadar bahan. Ada keterampilan, cerita, dan identitas budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, ketika industri bergerak semakin cepat, tradisi juga dituntut beradaptasi.
Persimpangan antara keterampilan tangan dan perkembangan teknologi itu akan menjadi sorotan dalam The Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2026. Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara tersebut mengusung tema Technocraft, yang menempatkan teknologi sebagai salah satu penggerak transformasi industri kriya.
INACRAFT 2026 dijadwalkan berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 7-11 Oktober 2026.
Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Muchsin Ridjan menjelaskan teknologi dalam industri kriya tidak dimaksudkan untuk menggantikan perajin. Sebaliknya, teknologi diharapkan menjadi alat untuk membantu meningkatkan kemampuan produksi dan memperluas pasar.
“Teknologi bukan untuk menggantikan tangan para perajin, tetapi sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas tanpa meninggalkan nilai karya,” kata Muchsin di Jakarta, Selasa (15/9).
Menurut dia, perkembangan teknologi kini telah masuk ke hampir seluruh rantai industri kriya. Pemanfaatannya tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga pengembangan material, desain, pemasaran, perdagangan digital hingga membuka akses ke pasar internasional.
Perubahan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran. Melalui tema Technocraft, INACRAFT mendorong para youthpreneurs atau wirausaha muda agar menggunakan teknologi untuk menciptakan produk kriya yang lebih inovatif dan efisien.
Namun, inovasi tersebut tetap harus berpijak pada identitas budaya Indonesia.
“Para Youthpreneurs didorong memanfaatkan teknologi guna mengembangkan produk kriya yang inovatif, memiliki nilai tambah, efisien, serta tetap mempertahankan identitas budaya Indonesia,” ujar Muchsin.
Tradisi tidak harus tertinggal
Bagi industri kriya, tantangan teknologi bukan semata-mata soal menggunakan mesin atau perangkat digital. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dapat membantu perajin menghasilkan karya dengan nilai tambah lebih tinggi tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
Project Officer INACRAFT 2026 Syamsul Huda mengungkapkan konsep Technocraft merupakan respons terhadap perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi industri kriya nasional.
Penerapannya akan diperkenalkan melalui sejumlah pendekatan. Di antaranya pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan lilin batik, modernisasi proses tenun, serta pengembangan pengolahan keramik dan kayu.
Inovasi tersebut diarahkan untuk membuat proses kerja lebih efisien sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk. Pada saat yang sama, karakter dan keterampilan tradisional tetap dipertahankan.
Dengan pendekatan itu, teknologi ditempatkan sebagai alat bantu. Kreativitas manusia dan pengetahuan yang dimiliki perajin tetap menjadi bagian penting dalam menghasilkan sebuah karya.
INACRAFT 2026 juga akan mempertemukan dunia usaha dengan lembaga riset dan pendidikan. ASEPHI berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), serta sejumlah perguruan tinggi dan institusi pendidikan, termasuk Universitas Indonesia (UI) dan Institut Seni Indonesia (ISI).
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan kapasitas riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Sejumlah isu akan masuk dalam agenda insight program INACRAFT 2026. Mulai dari pengembangan material baru, pewarna alami, teknologi produksi, pemanfaatan limbah, desain hingga pengembangan produk.
Dari Pameran ke Pasar
INACRAFT 2026 tidak hanya diposisikan sebagai ruang untuk memajang produk. Pameran ini juga menjadi tempat bertemunya pelaku usaha dengan buyer, distributor, mitra bisnis, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan industri kriya.
Sekitar 900 peserta dari berbagai daerah akan mengikuti pameran tersebut. Peserta berasal dari pelaku usaha, pemerintah daerah, BUMN, hingga mitra pendukung industri kriya.
Syamsul menjelaskan pertemuan bisnis diharapkan tidak berhenti pada transaksi selama pameran. Hubungan yang terbentuk diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama, jaringan distribusi, dan akses ke pasar baru.
Di titik inilah Technocraft mendapat makna yang lebih luas. Teknologi bukan hanya soal mempercepat produksi, tetapi juga membuka pintu agar karya perajin Indonesia dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
INACRAFT 2026 diselenggarakan ASEPHI bersama Mediatama Event sebagai penyelenggara acara, dengan Bank Mandiri sebagai sponsor utama.
Pameran ini sekaligus mempertemukan pelaku usaha, asosiasi, perbankan, pemerintah, akademisi, lembaga riset, mitra teknologi, dan pelaku perdagangan digital.
Bagi industri kriya Indonesia, pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang mampu menjawab perubahan zaman.
Sebab, di tengah derasnya perkembangan teknologi, masa depan kriya tidak selalu berarti meninggalkan cara lama. Justru, tantangannya adalah menemukan cara baru agar keterampilan lama tetap hidup, berkembang, dan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.






