Belajar Bahasa Inggris dari Gang: RT 11 Gandaria Utara Buka Kelas Gratis untuk Semua Usia

Warga di RT 11/RW 07, Kelurahan Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kini memiliki akses belajar Bahasa Inggris secara gratis melalui program bertajuk RT Inggris. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Bagi sebagian warga, belajar Bahasa Inggris mungkin masih identik dengan kursus berbayar, ruang kelas formal, dan jadwal yang kaku. Namun, anggapan itu coba dipatahkan warga RT 11/RW 07, Kelurahan Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Di lingkungan tersebut, pengurus RT menghadirkan RT Inggris, sebuah kelas Bahasa Inggris gratis yang bisa diikuti warga tanpa mengenal batas usia. Anak-anak, remaja, orang tua hingga lanjut usia bisa duduk bersama untuk belajar bahasa asing dari lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.

Program ini merupakan salah satu bagian dari konsep RT 11 Smart yang dikembangkan pengurus lingkungan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan ditempatkan sebagai salah satu pilar penting dalam upaya menyiapkan warga menghadapi Jakarta sebagai kota global.

Ketua RT 11/07 Gandaria Utara, Imam Basori, menjelaskan RT Inggris dibuat bukan sekadar sebagai kegiatan tambahan bagi warga. Program tersebut diharapkan menjadi ruang belajar yang benar-benar dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Belajar tanpa takut salah

Menurut Imam, pengurus RT ingin mengubah pandangan bahwa Bahasa Inggris merupakan pelajaran yang sulit dan hanya bisa dikuasai melalui lembaga pendidikan tertentu.

Pada pilar pendidikan RT 11 Smart, terdapat 2 (dua) inovasi yang dikembangkan, yakni pojok baca dan RT Inggris. Keduanya dirancang khusus, agar warga memiliki akses belajar yang mudah di lingkungan sendiri.

“Kita ingin membuat sesuatu yang bermanfaat, yakni belajar bahasa Inggris, namun dengan konsep yang menyenangkan,” ujar Imam, Minggu (13/9).

Untuk menjaga kualitas pembelajaran, pengurus RT sengaja menggandeng tenaga pendidik profesional yang berasal dari Kampung Inggris, Pare, Kediri. Kehadiran pengajar dari kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia itu diharapkan membuat materi lebih terarah.

Menariknya, kelas ini gratis selama tiga bulan pertama. Pesertanya juga tidak dibatasi hanya untuk warga RT 11. Warga dari luar wilayah tersebut tetap diperbolehkan ikut belajar.

Jadwal pembelajaran dibuat menyesuaikan aktivitas warga. Untuk anak-anak, kelas berlangsung pada Senin hingga Jumat, mulai pukul 17.00 WIB.

Peserta anak-anak kemudian dibagi menjadi dua kelompok, berdasarkan atas tingkat pendidikan. Pembagian ini dilakukan agar materi yang diberikan lebih sesuai dengan kemampuan dan usia peserta.

Sementara itu, kelas khusus remaja, orang tua, dan lansia digelar setiap hari, mulai pukul 20.00 WIB. Peserta dewasa juga turut dibagi menjadi dua kelompok, setelah mengikuti observasi kemampuan Bahasa Inggris selama dua pekan pertama.

Bahasa Inggris membuka peluang

Bagi Imam, kemampuan Bahasa Inggris bukan sekadar kemampuan mengucapkan atau memahami kata-kata dalam bahasa asing. Lebih jauh, keterampilan tersebut dapat menjadi bekal untuk pendidikan, pekerjaan, bahkan kehidupan sehari-hari.

Anak-anak diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mendukung pendidikan dan mengejar cita-cita. Sementara bagi remaja hingga lansia, Bahasa Inggris dapat menjadi tambahan keterampilan yang berguna ketika memasuki dunia kerja maupun menghadapi kebutuhan sehari-hari.

“Mudah-mudahan saat mereka bisa bahasa Inggris, untuk anak sekolah, bisa lebih baik menggapai cita-citanya. Sementara untuk remaja hingga lansia, bisa memenuhi kriteria atau kualifikasi dalam menjalankan pekerjaan di kehidupan sehari-hari,” kata Imam.

Bukan kelas yang membebani

Cara mengajar juga menjadi perhatian. Rizki Afrizal, pelajar RT Inggris asal Kampung Inggris, Pare, mengungkapkan metode pembelajaran dibuat sesederhana mungkin agar warga tidak merasa sedang mengikuti pelajaran yang berat.

Pendekatan learning by doing digunakan supaya peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung mencoba menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Kita coba bikin metode baru. Caranya mengaplikasikan bahasa Inggris yang lebih ringan, agar warga bisa menyerap pembelajaran lebih santai. Tanpa harus terbebani, tetapi dampaknya sama,” ujar Rizki.

Menurut dia, setiap kelompok peserta memiliki tantangan berbeda. Mengajar anak-anak, misalnya, tidak cukup hanya dengan menyiapkan materi. Pengajar juga harus mampu menjaga suasana dan mood peserta sebelum pembelajaran dimulai.

Dari sebuah lingkungan kecil di Gandaria Utara, RT Inggris menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus menunggu hadirnya program besar. Ruang belajar bisa dimulai dari tingkat RT, dengan kebutuhan yang sederhana tetapi manfaat yang langsung dirasakan warga.

Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa langkah menuju kota global tidak hanya berbicara soal gedung tinggi, teknologi, atau infrastruktur. Kemampuan warganya juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *