Dari Panggung Bandung, Svadara Warna Indonesia Buktikan Tari Tradisi Tetap Memikat

Sanggar binaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan, Svadara Warna Indonesia mengukir prestasi di panggung dalam ajang Bandung International Dance Competition (BIDC), Bandung, Selasa (25/8/2026). Foto: Svadara Warna Indonesia

KabarJakarta.com — Denting musik, gerak tubuh yang serempak, dan kekayaan budaya Nusantara menjadi warna yang dibawa Svadara Warna Indonesia dalam ajang Bandung International Dance Competition (BIDC) 2026. Sanggar binaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan itu pulang membawa prestasi sekaligus pengalaman berharga bagi para penari mudanya.

BIDC 2026 berlangsung di Bandung pada 14–16 Agustus 2026. Dalam kompetisi tersebut, Svadara Warna Indonesia menurunkan dua tim tari dengan membawa karya yang terinspirasi dari tradisi berbagai daerah di Indonesia.

Hasilnya cukup membanggakan. Tari Sasmita Selaras dari Jawa Timur meraih medali emas, sementara Tari Bawi Seraung yang terinspirasi dari budaya Kalimantan Timur mendapat Honorable Mention.

Ketua Svadara Warna Indonesia, Devi Alviani, menjelaskan pencapaian tersebut menjadi kebahagiaan bagi seluruh keluarga besar sanggar. Namun, menurutnya, penghargaan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan para penari.

“Kami sangat bersyukur atas hasil yang diperoleh anak-anak di Bandung International Dance Competition (BIDC) 2026. Medali emas untuk Tari Selaras Sasmita dan Honorable Mention untuk Tari Bawi Seraung tentu jadi kebahagiaan dan kebanggaan kami,” kata Devi di Jakarta, Selasa (25/8).

Ia menilai proses panjang sebelum tampil di atas panggung justru menjadi bagian paling penting. Sebanyak 31 penari muda dan empat pendamping dibawa dalam keikutsertaan Svadara di kompetisi tersebut.

Bagi para penari, kompetisi menjadi kesempatan untuk menguji hasil latihan sekaligus berhadapan dengan peserta lain dari berbagai daerah. Pengalaman itu membuat mereka belajar bahwa dunia tari tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghafal gerakan dan tampil di atas panggung.

“Bagi Svadara, kompetisi ini bukan sekadar tentang mengejar penghargaan. Ini merupakan ruang bagi anak-anak untuk belajar mengenai disiplin, keberanian, tanggung jawab, kerja sama, sportivitas, serta kemampuan mengapresiasi keberagaman budaya,” papar Devi.

Proses tersebut juga menjadi cara bagi sanggar untuk membentuk mental para penari sejak usia muda. Mereka diajak memahami bahwa sebuah penampilan tidak lahir dalam waktu singkat. Ada latihan berulang, rasa lelah, evaluasi, hingga keharusan untuk bangkit ketika menghadapi kesalahan.

“Kami ingin agar anak-anak memahami bahwa prestasi tidak datang secara instan. Ada latihan, ada rasa lelah, ada evaluasi, ada kegagalan, dan juga proses untuk kembali bangkit,” kata Devi.

Menurut dia, pengalaman tampil dalam kompetisi juga membuka pandangan para penari mengenai keberagaman seni tari di Indonesia. Mereka dapat melihat langsung bagaimana peserta lain mengolah budaya daerah menjadi karya yang menarik di atas panggung.

Ke depan, Svadara Warna Indonesia ingin membawa para penari muda ke lebih banyak panggung, baik di tingkat nasional maupun internasional. Prestasi di Bandung diharapkan tidak berhenti sebagai catatan penghargaan, tetapi menjadi motivasi untuk terus berlatih dan berkarya.

“Kami berharap prestasi ini tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi jadi energi baru untuk terus belajar dan berkarya. Ke depan, kami ingin membawa anak-anak Svadara ke lebih banyak ruang pertunjukan dan kompetisi, baik tingkat nasional maupun internasional,” tutur Devi.

Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa seni tradisi memiliki ruang untuk terus berkembang. Di tangan generasi muda, tari daerah tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi dapat tampil dengan pendekatan yang dinamis, artistik, dan tetap relevan di panggung kompetisi masa kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *