KabarJakarta.com — Jakarta bukan hanya pusat pemerintahan dan bisnis. Di balik padatnya aktivitas kota, ibu kota juga menjadi tempat bertemunya berbagai budaya dari seluruh Indonesia.
Salah satu yang paling mudah ditemui adalah kuliner. Beragam makanan khas daerah hadir di Jakarta, membawa cerita, tradisi, dan cita rasa dari tempat asalnya.
Kondisi tersebut membuat Jakarta dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi etalase kuliner Nusantara. Makanan khas dari berbagai daerah dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang belum pernah mencicipinya, termasuk generasi muda dan wisatawan mancanegara.
General Manager Mal Ciputra Jakarta, Ferry Irianto, mengatakan posisi Jakarta sebagai kota dengan masyarakat yang berasal dari berbagai daerah membuatnya cocok menjadi ruang pertemuan kuliner Indonesia. Hal itu disampaikannya saat ditemui pada pembukaan Festival Kuliner Kampung Legendaris di Jakarta, Rabu (12/8).
“Jakarta itu memang terkenal sebagai etalase. Jadi, etalase semua daerah itu bisa terangkum indah di Jakarta,” ujar Ferry.
Menurut dia, keberadaan makanan khas daerah di Jakarta bukan sekadar menghadirkan pilihan makanan bagi masyarakat. Lebih dari itu, kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia.
Setiap makanan memiliki cerita dan karakter yang berbeda. Ada makanan yang lahir dari tradisi masyarakat pesisir, daerah pegunungan, lingkungan keraton, hingga kehidupan masyarakat perkotaan. Ketika makanan tersebut hadir di Jakarta, cerita tentang daerah asalnya juga memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas.
Ferry berharap semakin banyak ruang yang diberikan kepada pelaku kuliner daerah untuk memperkenalkan makanan mereka. Dengan demikian, cita rasa yang selama ini hanya dikenal di wilayah tertentu dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Kami berharap adanya etalase akan memberikan ruang kepada kuliner-kuliner cita rasa Nusantara ini. Semuanya bisa diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat kita, maupun wisatawan dari luar negeri,” kata dia.
Dari meja makan menuju daerah asal
Festival kuliner juga dapat menjadi cara untuk mendorong wisata berbasis makanan. Pengunjung yang menemukan makanan khas suatu daerah di Jakarta bisa saja tertarik mencari tahu lebih jauh mengenai asal-usul makanan tersebut.
Ketertarikan itu pada akhirnya berpotensi berkembang menjadi keinginan untuk mengunjungi daerah asalnya. Dengan kata lain, makanan dapat menjadi penghubung antara konsumen di Jakarta dengan destinasi wisata di daerah.
Konsep tersebut akan semakin kuat apabila festival menghadirkan penjual yang memang berasal dari daerah asal makanan. Pengunjung tidak hanya mencicipi makanan, tetapi juga dapat memperoleh pengalaman langsung dari orang yang memahami sejarah dan proses pembuatannya.
Bagi daerah, kondisi tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya sekaligus potensi wisatanya. Sementara bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), festival dapat menjadi ruang untuk memperluas pasar.
Ferry mengungkapkan pengalaman mengkurasi gerai untuk mengikuti festival menunjukkan bahwa masih ada pelaku usaha daerah yang belum melihat pentingnya memperkenalkan produknya ke luar wilayah.
“Mereka kadang merasa tak perlu lagi cari peruntungan di tempat lain. Tapi kami yakinkan, jika tidak dipromosikan di luar daerah, produk mereka mungkin kurang dikenal secara nasional,” ujar Ferry.
Menurut dia, perluasan pasar menjadi penting agar makanan khas daerah tidak hanya bertahan sebagai produk lokal. Promosi di luar daerah dapat membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan konsumen baru dan memperkenalkan produknya secara nasional.
Pada saat yang sama, promosi tersebut juga dapat membantu makanan tradisional bersaing di tengah perubahan selera konsumen dan perkembangan industri makanan yang semakin cepat.
Menjaga rasa agar tidak hilang
Pengembangan kuliner sebagai daya tarik wisata juga sejalan dengan upaya pemerintah mengembangkan wisata gastronomi di Indonesia. Kementerian Pariwisata melalui Wonderful Indonesia Gourmet (WIG) mendorong gastronomi menjadi salah satu bagian dari pengembangan pariwisata Indonesia.
Gastronomi tidak hanya berbicara mengenai makanan sebagai sesuatu yang dikonsumsi. Di dalamnya terdapat unsur budaya, tradisi, sejarah, bahan pangan lokal, teknik pengolahan, hingga kebiasaan masyarakat.
Karena itu, memperkenalkan makanan khas daerah kepada masyarakat luas juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya. Terlebih, perubahan zaman membuat sebagian makanan tradisional berisiko semakin jarang dikenal oleh generasi berikutnya.
Generasi muda menjadi salah satu kelompok penting dalam menjaga keberlanjutan kuliner Nusantara. Mereka perlu mengenal makanan tradisional bukan hanya sebagai menu lama, tetapi sebagai bagian dari kekayaan budaya yang memiliki nilai.
Ferry menilai pengenalan tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan agar makanan khas daerah tidak berhenti pada satu generasi.
“Kita harus mampu memperkenalkannya kepada generasi mendatang agar tidak lenyap,” ujar Ferry.
Di tengah Jakarta yang terus berkembang sebagai kota metropolitan, makanan khas dari berbagai penjuru Indonesia dapat menjadi pengingat bahwa kekayaan kota ini juga berasal dari keberagaman daerah. Setiap piring makanan yang hadir membawa identitas dari tempat yang jauh, lalu mempertemukannya dengan masyarakat dalam satu ruang.
Jika ruang seperti festival kuliner terus diperluas, Jakarta tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati makanan Nusantara. Kota ini juga dapat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kuliner, budaya, UMKM, dan pariwisata daerah.
Pada akhirnya, menjaga keberagaman kuliner bukan hanya soal mempertahankan resep. Lebih jauh, hal itu berarti memastikan cerita dan identitas di balik makanan tersebut tetap dikenal ketika generasi terus berganti.






