KabarJakarta.com — Perjalanan menyusui sering dibayangkan sebagai urusan antara ibu dan bayi. Padahal, di balik keberhasilan seorang ibu memberikan ASI, ada banyak hal yang ikut menentukan: pengetahuan, kesiapan, kondisi lingkungan, hingga dukungan dari orang-orang terdekat.
Hal itu menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta terus memperkuat edukasi dan dukungan bagi ibu menyusui untuk meningkatkan jumlah bayi berusia kurang dari enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif.
Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta Dwi Oktavia menjelaskan, pada 2025 persentase bayi usia kurang dari 6 (enam) bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Jakarta mencapai 74,1 persen.
Angka tersebut, menurut Dwi, masih perlu terus diperkuat melalui edukasi dan dukungan yang diberikan kepada ibu sejak masa kehamilan.
“Capaian ini, tentu menjadi perhatian kita, untuk terus memperkuat edukasi dan dukungan bagi ibu menyusui,” kata Dwi dalam seminar daring, Rabu (16/9).
Ibu butuh lebih dari sekadar informasi
Persoalan menyusui tidak berhenti pada pemahaman tentang manfaat ASI. Seorang ibu juga perlu mengetahui bagaimana mempersiapkan diri, memahami teknik menyusui yang tepat, serta mendapatkan informasi yang benar ketika menghadapi kesulitan.
Dwi mengungkapkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terdapat lebih dari 2.000 ibu hamil di DKI Jakarta pada 2024. Kelompok itu menjadi bagian penting yang perlu mendapatkan informasi sejak sebelum bayi lahir.
Menurut dia, masa kehamilan merupakan waktu yang tepat untuk mulai membangun kesiapan menyusui. Dengan begitu, ibu tidak baru mencari informasi ketika menghadapi persoalan setelah melahirkan.
Namun, pengetahuan saja tidak selalu cukup.
Seorang ibu bisa saja sudah mengetahui pentingnya ASI eksklusif, tetapi tetap membutuhkan bantuan ketika menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan menyusui. Karena itu, dukungan pasangan, keluarga, lingkungan kerja, hingga masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
“Pengetahuan saja tidak selalu cukup. Ibu juga butuh dukungan dari pasangan, keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat,” ujar Dwi.
Dari webinar ke lingkungan keluarga
Untuk memperluas edukasi tersebut, Dinas PPAPP DKI Jakarta menggelar seminar daring bertajuk Ibu Tidak Sendiri: Dukungan dalam Perjalanan Menyusui. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan, konselor PUSPA Dinas PPAPP DKI Jakarta, serta Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.
Pesan yang dibawa cukup jelas: keberhasilan menyusui bukan hanya tanggung jawab ibu seorang.
Dalam perspektif pemberdayaan perempuan, Dwi menilai perempuan yang berdaya bukan berarti perempuan yang harus mampu mengurus semuanya seorang diri. Pemberdayaan justru berarti perempuan memiliki pengetahuan, kemampuan dan kepercayaan diri, sekaligus berada dalam lingkungan yang mendukung.
Karena itu, peran kader, TP PKK, dan organisasi perempuan dinilai penting. Mereka berada dekat dengan keluarga sehingga dapat menjadi penghubung informasi sekaligus sumber dukungan ketika ibu hamil atau ibu menyusui membutuhkan bantuan.
Dwi berharap pengetahuan dari seminar tidak berhenti sebagai materi di ruang webinar. Informasi tersebut perlu diteruskan kepada ibu hamil dan ibu menyusui di lingkungan masing-masing.
Keluarga jadi pintu masuk
Penguatan dukungan untuk ibu menyusui juga sejalan dengan upaya Dinas PPAPP membangun ketahanan keluarga melalui Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) Satyagatra.
Dwi menjelaskan, Satyagatra menjadi wadah untuk mengintegrasikan berbagai program yang berkaitan dengan keluarga. Layanannya mencakup informasi, edukasi, konsultasi, konseling, hingga pendampingan.
Sasarannya pun luas, mulai dari keluarga dengan balita dan anak, remaja, calon pengantin, pasangan usia subur, hingga keluarga yang memiliki anggota lansia.
Ada pula layanan konseling balita dan anak, konseling pranikah, konseling remaja, konseling keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, serta pemberdayaan ekonomi keluarga.
Bagi Dwi, berbagai program tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membangun keluarga yang berdaya, memiliki ketahanan, dan mampu menjadi tempat yang aman bagi seluruh anggotanya.
Sebab, menurut dia, pembangunan keluarga merupakan salah satu fondasi untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat, tangguh, dan berdaya.
Pada akhirnya, dukungan terhadap ibu menyusui menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar: bagaimana keluarga hadir sejak awal kehidupan seorang anak.
Ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Ketika informasi tersedia, keluarga ikut mendukung, lingkungan memberi ruang, dan masyarakat ikut peduli, perjalanan menyusui memiliki lebih banyak peluang untuk berjalan dengan baik.
