KabarJakarta.com — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di DKI Jakarta telah melewati target pelaksanaan pada triwulan III 2026. Hingga akhir September, sebanyak 4.030.702 orang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis tersebut. Jumlah itu setara dengan 36,46 persen dari total sasaran yang ditetapkan pemerintah.
Capaian tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target triwulan III sebesar 36 persen. Namun, angka itu belum membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhenti mengejar sasaran yang lebih besar hingga akhir tahun.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menjelaskan, pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan untuk memperluas jangkauan CKG kepada masyarakat yang belum mengikuti pemeriksaan.
“Hingga akhir September 2026, capaian CKG DKI Jakarta mencapai 4.030.702 orang atau 36,46 persen. Ini telah melampaui target Triwulan III sebesar 36 persen,” kata Ani di Jakarta, Rabu (7/10).
Target yang harus dicapai DKI Jakarta hingga akhir 2026 ditetapkan sebesar 46 persen dari total sasaran penduduk. Dengan capaian saat ini, masih ada sekitar 1,05 juta orang yang perlu dijangkau.
“Target hingga akhir 2026 sebesar 46 persen, sehingga masih perlu menjangkau sebanyak 1,05 juta orang,” ujar Ani.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan CKG tidak cukup diukur dari berapa banyak orang yang datang menjalani pemeriksaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil pemeriksaan benar-benar menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya dan mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah.
Pemeriksaan sebelum penyakit menjadi lebih berat
CKG pada dasarnya dirancang sebagai upaya menemukan gangguan kesehatan lebih awal. Pemeriksaan dilakukan tanpa biaya dan ditujukan untuk berbagai kelompok umur. Layanan tersebut tersedia melalui puskesmas, sekolah, kegiatan komunitas, hingga tempat kerja.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak harus menunggu sakit atau mengalami keluhan berat untuk datang ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan menjadi kesempatan untuk mengetahui faktor risiko yang sebelumnya mungkin tidak disadari.
Model seperti ini penting karena banyak penyakit tidak menular berkembang secara perlahan. Seseorang dapat memiliki tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, atau kolesterol tinggi tanpa merasakan gejala yang berarti.
Pada 2026, Kementerian Kesehatan memfokuskan tindak lanjut CKG pada tiga faktor risiko penyakit tidak menular, yakni hipertensi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Ketiganya berkaitan erat dengan munculnya penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Karena itu, pemeriksaan gratis bukan sekadar kegiatan administratif untuk mencatat jumlah peserta. Nilai pentingnya justru berada pada tahap setelah skrining: apakah seseorang yang memiliki faktor risiko kemudian memperoleh edukasi, perubahan pola hidup, pemantauan, atau pengobatan yang diperlukan.
Program kesehatan berskala nasional
Skala CKG membuat program ini berbeda dari kegiatan pemeriksaan kesehatan biasa. Pemerintah menyebutnya sebagai salah satu program pemeriksaan kesehatan terbesar yang pernah dijalankan pemerintah.
Program tersebut pertama kali diluncurkan pada 10 Februari 2025 dan telah berjalan lebih dari satu tahun. Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 73,8 juta penduduk telah mengikuti CKG hingga 31 Juli 2026.
Jumlah itu bahkan telah melampaui total peserta sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 70 juta orang.
Dari 73,8 juta peserta tersebut, sebanyak 62,7 juta orang menjalani skrining melalui puskesmas dan kegiatan komunitas. Sementara 11,1 juta peserta lainnya berasal dari kelompok anak sekolah.
Layanan CKG tersedia untuk seluruh kelompok umur melalui lebih dari 10 ribu puskesmas, sekolah, dan berbagai kegiatan berbasis komunitas. Artinya, pemerintah berusaha membangun sistem deteksi dini dengan cakupan yang luas, bukan hanya menyasar masyarakat yang sudah memiliki akses rutin ke layanan kesehatan.
Jakarta mengejar 1,05 juta peserta
Di Jakarta, strategi untuk mengejar target 46 persen dilakukan dengan memperluas titik akses pemeriksaan. Dinas Kesehatan tidak hanya mengandalkan layanan di puskesmas, tetapi juga mengoptimalkan jejaringnya serta mengembangkan CKG berbasis komunitas dan tempat kerja atau perkantoran.
Sosialisasi dan kolaborasi lintas sektor juga diperkuat untuk menggerakkan masyarakat yang belum melakukan pemeriksaan.
Pendekatan ini penting karena persoalan cakupan kesehatan sering kali bukan hanya soal tersedia atau tidaknya layanan. Kesibukan bekerja, kurangnya informasi, persepsi bahwa pemeriksaan belum diperlukan, hingga kebiasaan baru mencari pertolongan ketika sudah sakit dapat menjadi penghambat.
Dengan target tambahan sekitar 1,05 juta orang sampai akhir tahun, tantangan DKI Jakarta bukan lagi sekadar mempertahankan capaian 36,46 persen, tetapi mempercepat mobilisasi masyarakat dalam waktu yang tersisa.
Dari angka pemeriksaan menuju perubahan kesehatan
Lalu, apakah peningkatan jumlah peserta CKG otomatis berarti kesehatan masyarakat juga meningkat?
Jawabannya belum tentu. Ada korelasi yang kuat secara konsep, tetapi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat tidak bisa dinilai hanya dari jumlah peserta.
CKG dapat menjadi titik awal pencegahan. Ketika seseorang mengetahui dirinya mengalami hipertensi atau memiliki kadar gula dan kolesterol tinggi, ia memiliki informasi yang sebelumnya mungkin tidak diketahui.
Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk mengubah pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, melakukan pemeriksaan lanjutan, atau menjalani pengobatan. Namun, jika hasil skrining berhenti sebagai angka dalam sistem, dampak kesehatan masyarakat akan terbatas.
Karena itu, keberhasilan CKG seharusnya dilihat melalui rantai yang lebih panjang: masyarakat diperiksa, faktor risiko ditemukan, pasien mendapatkan tindak lanjut, kondisi dipantau, dan risiko berkembang menjadi penyakit berat ditekan.
Di sinilah hubungan CKG dengan penanganan penyakit menjadi penting. Deteksi hipertensi, misalnya, memberi peluang intervensi sebelum seseorang mengalami komplikasi seperti stroke atau penyakit jantung. Demikian pula temuan kadar gula darah tinggi dapat mendorong pemeriksaan lebih lanjut dan pengelolaan risiko diabetes, sementara kolesterol tinggi dapat ditangani sebelum berkontribusi pada gangguan pembuluh darah.
Dengan demikian, angka 4.030.702 peserta di Jakarta merupakan capaian penting, tetapi bukan garis akhir. Target 46 persen pada 2026 justru harus dipandang sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar: membangun kebiasaan masyarakat untuk memeriksa kesehatan sebelum sakit menjadi berat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan CKG bukan hanya seberapa banyak orang yang diperiksa secara gratis. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak penyakit dan faktor risiko yang ditemukan lebih awal, berapa banyak warga yang kemudian mendapatkan penanganan, dan seberapa jauh intervensi tersebut mampu mencegah masyarakat jatuh ke kondisi yang lebih parah.






