KabarJakarta.com — Lupa menaruh kunci. Salah menyebut nama seseorang. Sesekali lupa hendak mengatakan sesuatu. Hal-hal semacam itu sering dianggap biasa, terutama ketika usia bertambah.
Namun, ada saat ketika lupa bukan lagi sekadar lupa.
Ketika seseorang mulai kesulitan melakukan pekerjaan yang selama puluhan tahun dikuasainya, berulang kali menanyakan hal yang sama, kesulitan berkomunikasi, atau kehilangan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, perubahan tersebut perlu mendapat perhatian. Sebab, demensia bukanlah bagian normal dari sebuah proses penuaan.
Demensia merupakan manifestasi dari perubahan atau penyakit yang terjadi pada otak. Karena itu, menganggapnya hanya sebagai “pikun” dapat membuat seseorang terlambat mendapatkan pemeriksaan dan dukungan yang dibutuhkan.
Pesan tersebut menjadi perhatian dalam peringatan Hari Alzheimer Sedunia pada 21 September 2026. Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama Alzheimer’s Disease International (ADI) menggelar kampanye global dengan satu ajakan sederhana: jika seseorang khawatir terhadap daya ingatnya atau perubahan pada orang terdekat, jangan diam. Bicarakan dan cari informasi lebih lanjut.
Kampanye sepanjang September itu mengusung tema “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters”, dengan tagar #DementiaDiagnosisMatters, #AlzheimerDiagnosisMatters, #EarlyDiagnosisMatters, dan #PentingnyaDeteksiDiniDemensia.
Pesannya sederhana, tetapi persoalannya tidak kecil.
Menurut badan kesehatan dunia (WHO), jumlah orang yang hidup dengan demensia di dunia diperkirakan mencapai 78 juta pada akhir dekade ini. Angka tersebut diproyeksikan akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 139 juta pada pertengahan abad.
Di tengah peningkatan itu, banyak orang masih hidup dengan demensia tanpa diagnosis formal. Secara global, jumlahnya diperkirakan mencapai 75 persen. Di sejumlah negara berpenghasilan rendah dan menengah, angkanya bahkan dapat mencapai 90 persen.
Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa demensia merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan dari bertambahnya usia.
“Sebagai neurolog, saya ingin menekankan bahwa demensia bukanlah sekadar masalah lupa, dan bukan bagian normal dari penuaan,” ujar Prof. Yuda Turana neurolog yang sekaligus Rektor Unika Atma Jaya.
Menurut Yuda, demensia berkaitan dengan perubahan atau penyakit yang terjadi pada otak. Pada beberapa jenis demensia, proses biologis tersebut bahkan bisa berlangsung bertahun-tahun sebelum gejalanya terlihat jelas.
Otak juga memiliki kemampuan dalam beradaptasi dan mempertahankan fungsi yang dikenal sebagai cognitive reserve. Karena itu, ketika keluhan mulai muncul, pemeriksaan tidak seharusnya ditunda sampai seseorang kehilangan kemandiriannya.
Pemeriksaan lebih awal akan membantu dalam mengenali penyebab perubahan kognitif, menilai kesehatan otak, sekaligus mengendalikan faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes. Langkah tersebut akan membuka peluang dalam melakukan intervensi guna mempertahankan fungsi otak selama mungkin.
“Kita tak harus menunggu sampai memori banyak yang hilang, untuk mulai menjaga otak. Semakin dini kita mengenali perubahan, semakin banyak yang bisa kita lakukan,” kata Yuda dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (18/9).
Bukan vonis akhir
Stigma menjadi salah satu penghalang terbesar. Sejumlah survei telah menunjukkan masih ada anggapan luas, bahwa demensia atau yang sering disebut “pikun” merupakan bagian alami dari penuaan. Bahkan, empat dari lima orang, dan dua pertiga tenaga kesehatan masih memiliki pemahaman yang keliru tersebut.
Ketika lupa dianggap wajar karena usia, keluarga bisa memilih menunggu. Rasa malu juga dapat membuat seseorang enggan membicarakan perubahan yang dialaminya.
Padahal, keterlambatan diagnosis dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk memperoleh dukungan awal yang lebih baik.
Imelda Theresia, Plt Direktur Eksekutif ALZI, menegaskan bahwa diagnosis dini bukanlah vonis. “Diagnosis dini bukanlah vonis. Itu merupakan pintu masuk untuk bertindak dan tetap menjalani hidup yang bermakna,” ujarnya.
Dengan mengetahui kondisi lebih awal, mereka yang mengalami demensia dan keluarganya memiliki lebih banyak waktu untuk merencanakan perawatan, mempertahankan kemandirian, serta tetap menjalani aktivitas sesuai kemampuan dan minat.
Mereka juga tetap dapat berkontribusi dalam lingkungan sosial. Dengan dukungan dan ruang yang inklusif, orang dengan demensia tetap dapat berkarya, bersosialisasi, bahkan menjadi advokat yang berbagi pengalaman dan menguatkan keluarga lain.
Kemajuan ilmu kedokteran juga membuat diagnosis dini semakin penting. Pengobatan baru untuk Alzheimer mulai tersedia di pasaran dan akan memperlambat perkembangan penyakit pada tahap awal tertentu.
Perkembangan pemeriksaan biomarker, termasuk tes darah terbaru, juga membuka peluang untuk mendeteksi patologi Alzheimer dengan cara yang semakin mudah.
“Namun teknologi tersebut tidak akan berarti, jika seseorang tidak berani mengambil langkah pertama untuk mencari pertolongan,” paparnya
Jangan menunggu sampai terlambat
Pencegahan juga menjadi bagian penting. Penelitian telah menunjukkan hingga 45 persen kasus demensia bisa ditunda atau dicegah dengan menangani sejumlah faktor risiko, antara lain merokok, tekanan darah tinggi, kurang aktivitas fisik, pola makan yang buruk, dan isolasi sosial.
Aktivitas fisik pun tidak hanya berkaitan dengan kebugaran tubuh.
“Bukti ilmiah terkini menunjukkan manfaat aktivitas fisik bagi otak paling besar, ketika dimulai pada tahap gangguan kognitif ringan,” ujar dr. Antonius Andi Kurniawan, spesialis kedokteran olahraga sekaligus CEO Klinik Utama Eminence dan ResepGerak.ID.
Menurutnya, ketika demensia sudah terdiagnosis pun, aktivitas fisik yang tepat tetap akan membantu dalam mempertahankan kemandirian, suasana hati, dan kualitas hidup orang dengan demensia maupun caregiver.
Artinya, menjaga otak tidak harus menunggu munculnya masalah besar. Yang juga dibutuhkan adalah sistem dukungan yang tidak hanya berpusat pada pengobatan medis.
“Rehabilitasi, aktivitas sosial, hingga lingkungan yang inklusif, serta dukungan keluarga dan caregiver menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup orang dengan demensia,” paparnya
Melani Budianta, Orang Dengan Demensia (ODD) sekaligus Dementia Advocate, menjelaskan kebutuhan tersebut memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh.
“Yang sangat dibutuhkan Orang Dengan Demensia di Indonesia adalah hadirnya satu sistem dukungan yang bersifat holistik,” ujarnya.
Menurut Melani, pendekatan medis perlu berjalan bersama penguatan aspek psikososial dan kultural, dengan melibatkan orang dengan demensia dan keluarganya.
Pada akhirnya, peringatan Hari Alzheimer Sedunia bukan sekadar tentang mengingat sebuah tanggal. Ini tentang mengubah cara memandang lupa.
Tidak semua lupa berarti demensia. Tetapi perubahan kemampuan berpikir dan menjalani aktivitas sehari-hari juga tidak seharusnya selalu dianggap sebagai bagian normal dari usia.
Mengenali perubahan, membicarakannya, lalu mencari pemeriksaan dapat menjadi langkah awal yang penting. Sebab, semakin cepat seseorang mengetahui apa yang terjadi pada otaknya, semakin banyak pilihan yang masih terbuka untuk menjaga fungsi, merencanakan masa depan, dan tetap menjalani hidup dengan bermakna.






