Menjemput Warga di Pulau, Tracing TB Dipadukan dengan Cek Kesehatan Gratis

Sudin Kesehatan Kepulauan Seribu melakukanTracing Penyakit Tuberkulosis (TB) Terintegrasi serta Program Cek Kesehatan Gratis. Foto: Istimewa untuk kabarjakarta

KabarJakarta.com – Bagi warga Kepulauan Seribu, mendapatkan layanan kesehatan tidak selalu semudah bagi masyarakat yang tinggal di daratan Jakarta. Jarak antarpulau dan keterbatasan akses membuat pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan lebih dekat dengan tempat tinggal warga.

Kondisi itu menjadi perhatian Suku Dinas Kesehatan Kepulauan Seribu. Sejumlah upaya yang kini diperkuat adalah investigasi kontak atau tracing tuberkulosis (TB) yang dipadukan dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menemukan penderita TB lebih cepat, tetapi juga memutus mata rantai penularan sejak dini.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Seribu Ghamal Ahmad Pramana menjelaskan, setiap lokus kegiatan menargetkan 100 orang. Sasaran pemeriksaan mencakup orang yang tinggal serumah dengan pasien TB, kontak erat, serta masyarakat yang masuk kelompok berisiko.

“Target dari sasaran masing-masing lokus adalah 100 orang, dengan kelompok sasaran terdiri dari kontak serumah, kontak erat dan populasi berisiko,” kata Ghamal di Jakarta, Jumat (28/8).

Menurut Ghamal, TB masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius, baik di tingkat global maupun nasional. Berdasarkan laporan terbaru dari Global TB Report 2025, diperkirakan terdapat sekitar 1.080.000 kasus TB di Indonesia.

Karena itu, pelacakan terhadap orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien TB menjadi bagian penting dalam menemukan kasus baru.

“Tracing adalah kunci utama dalam mempercepat penemuan kasus TB dan pencegahan penularan,” ujarnya.

Upaya tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Kesehatan untuk mempercepat penemuan kasus secara aktif. Seluruh kabupaten dan kota di Indonesia telah diarahkan untuk melaksanakan Tracing TB yang terintegrasi dengan Program CKG hingga Desember 2026.

Di Kepulauan Seribu, integrasi kedua layanan tersebut menjadi penting mengingat pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih dekat dengan masyarakat. Warga tidak harus selalu menempuh perjalanan ke wilayah daratan hanya untuk memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan.

“Kami juga memperluas manfaat layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat, utamanya kelompok berisiko. Sehingga bisa berdampak dalam menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB,” kata Ghamal.

Dalam pelaksanaannya, pemeriksaan tidak hanya mengandalkan wawancara mengenai gejala. Warga akan mendapatkan skrining TB dan pemeriksaan menggunakan alt Portable X-Ray yang dipandu oleh radiografer. Kegiatan ini turut melibatkan pihak dari Poltekkes Kemenkes Jakarta III.

“Selain melakukan skrining gejala TB pada pasien, juga diadakan pemeriksaan Portable X-Ray oleh radiografer. Kegiatan itu melibatkan Poltekkes Kemenkes Jakarta III,” jelasnya.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya warga yang diduga menderita TB, proses pemeriksaan dilanjutkan dengan pengambilan dahak untuk memastikan diagnosis.

Pada setiap lokus, tenaga kesehatan juga memberikan CKG dan edukasi kesehatan yang disampaikan dokter umum bersama petugas kesehatan. Kader kesehatan dari masing-masing wilayah juga turut dilibatkan dalam membantu menjangkau masyarakat.

Bagi pemerintah daerah, pendekatan ini bukan sekadar mencari sebanyak mungkin kasus TB. Lebih jauh, layanan kesehatan dibawa mendekati warga agar pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat dan stigma terhadap pasien TB perlahan berkurang.

Ghamal berharap kegiatan tersebut membuat akses layanan kesehatan di Kepulauan Seribu semakin merata. Penemuan kasus yang lebih cepat juga memungkinkan pasien segera memperoleh pengobatan.

“Sehingga pemberian pengobatan lebih cepat, demi mewujudkan masyarakat Kepulauan Seribu yang sehat,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *