KabarJakarta.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diminta memperkuat kesiapan layanan kesehatan untuk mengantisipasi meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah fenomena El Nino dan cuaca panas yang terjadi saat ini.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan kesiapan tersebut perlu dilakukan mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit. Pelayanan kesehatan juga harus mudah dijangkau masyarakat dan didukung sarana pemeriksaan yang memadai.
“Siapkan pelayanan kesehatan di berbagai tingkatan yang memadai dan mudah diakses masyarakat, lengkap dengan sarana diagnostik dan obat-obatannya,” kata Tjandra di Jakarta, Sabtu (8/8).
Menurut Tjandra, kondisi El Nino yang ditandai dengan cuaca panas dan kering dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit menular. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah ISPA.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu meningkatkan kewaspadaan dan memastikan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan cepat ketika mengalami gangguan pernapasan.
Tjandra juga mengingatkan pentingnya kesiapan rumah sakit. Fasilitas tersebut perlu dipastikan mampu menangani pasien apabila terdapat kasus ISPA yang kondisinya cukup berat hingga membutuhkan perawatan inap.
“Kalau ada kasus yang memerlukan rawat inap maka juga tentu perlu disiapkan rumah sakit untuk penanganannya,” ujarnya.
Selain memperkuat fasilitas kesehatan, Pemprov DKI melalui Dinas Kesehatan juga diminta meningkatkan edukasi kepada masyarakat. Penyuluhan mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dinilai penting untuk membantu warga mengurangi risiko tertular penyakit.
Edukasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai saluran agar informasi mengenai cara menjaga kesehatan selama cuaca panas dapat diterima masyarakat secara luas. Warga juga perlu mengetahui kondisi lingkungan yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Tjandra menyarankan pemerintah memberikan informasi secara berkala mengenai perkembangan cuaca, suhu udara, tingkat polutan, dan kondisi lingkungan lainnya. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan masyarakat dalam menentukan aktivitas sehari-hari.
Dengan mengetahui kondisi cuaca dan kualitas udara, warga dapat menyesuaikan kegiatan di luar rumah dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.
Menurut Tjandra, langkah antisipasi juga dapat dilakukan pemerintah melalui modifikasi cuaca apabila kondisi panas dan kering berlangsung berlebihan.
“Pemerintah tentu perlu melakukan upaya modifikasi cuaca. Kalau ada panas kering berlebihan maka mungkin dapat dibuat hujan buatan,” kata Tjandra yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Kewaspadaan terhadap ISPA menjadi penting karena penyakit tersebut cukup banyak ditemukan di Jakarta. Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebelumnya mencatat 1.966.308 kasus ISPA sepanjang Januari hingga Oktober 2025.
ISPA juga menjadi penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi di puskesmas pada periode tersebut. Tingginya kasus antara lain berkaitan dengan karakteristik penularan ISPA yang relatif mudah.
Penularan dapat terjadi melalui percikan droplet maupun partikel aerosol di udara. Karena itu, selain kesiapan layanan kesehatan, pencegahan di tingkat masyarakat tetap menjadi bagian penting untuk menekan penyebaran penyakit.
Dengan kondisi cuaca yang perlu diwaspadai, Pemprov DKI diharapkan tidak hanya bertindak ketika kasus meningkat. Kesiapan fasilitas kesehatan, ketersediaan obat dan alat diagnostik, edukasi PHBS, serta informasi cuaca dan kualitas udara perlu berjalan secara bersamaan agar risiko ISPA dapat ditekan.
