Saat Influencer Malaysia Berburu Fesyen di Jakarta, Ambisi jadi Pusat Fesyen Asia Muncul

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno melihat salah satu stan produk UMKM. Ajang ini mempertemukan pelaku usaha, investor, buyer, pemerintah, UMKM, serta mitra internasional melalui pameran, business matching, forum bisnis dan investasi, hingga berbagai kegiatan pendukung. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com —  Bukan Bali atau Singapura yang sedang ramai dibicarakan oleh sejumlah influencer Malaysia saat bertandang ke Indonesia. Yup, Jakarta telah mencuri perhatian mereka.

Dari pusat perbelanjaan hingga tempat kuliner, mereka membagikan pengalamannya selama berada di ibu kota Indonesia. Mereka menceritakannya lewat media sosial, yang secara tidak langsung turut memperkenalkan wajah lain Jakarta sebagai kota belanja, fesyen, dan industri kreatif.

Fenomena itu, dilihat Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa sebagai peluang yang tidak boleh dilewatkan. Malaysia merupakan salah satu negara yang disebutnya cukup aktif mengulas pengalaman saat berbelanja fesyen dan kuliner.

Ketika wisatawan dari negara tetangga mulai menjadikan Jakarta sebagai tujuan berburu produk fesyen dan kuliner, pemerintah daerah jangan tinggal diam. Ini merupakan momentum terbaik untuk bisa berkembang lebih jauh.

Jakarta, menurut Ni Luh, harus didorong untuk tidak sekadar menjadi tempat wisata belanja. Jakarta sudah selayaknya tumbuh sebagai salah satu pusat fesyen di Asia.

“Kita harus dorong terus Jakarta sebagai pusat fesyen, karena saya lihat, influencer-influencer Malaysia banyak yang mereview soal kunjungannya ke Jakarta, saat belanja fesyen dan kuliner,” kata Ni Luh dalam Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SMEs Expo (JITEX) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/9).

Bagi Ni Luh, daya tarik Jakarta tidak berhenti pada aktivitas perdagangan. Kota ini memiliki ekosistem yang mempertemukan pariwisata, jasa, investasi, ekonomi kreatif, serta berbagai kegiatan bisnis.

Jakarta juga menjadi salah satu dari tiga gerbang utama pariwisata Indonesia bersama Bali dan Batam. Namun, karakter wisatawan yang datang ke ibu kota berbeda dengan dua daerah tersebut.

Jika Bali lebih banyak dikenal sebagai tujuan wisata untuk berlibur, Jakarta memiliki kekuatan pada wisata bisnis dan MICE, yakni pertemuan, insentif, konferensi, serta pameran.

Potensi tersebut tercermin dari aktivitas perjalanan wisatawan. Pada 2025, Jakarta tercatat menerima 2,22 juta wisatawan nusantara dan 21.381 wisatawan mancanegara.

Angka itu, kata Ni Luh, masih dapat dikembangkan. Jakarta memiliki sejumlah pilihan wisata yang dapat dikemas lebih kuat, mulai dari kuliner, belanja, wisata urban, hingga wisata budaya dan kreativitas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan pergerakan wisatawan nusantara ke Jakarta masih cukup tinggi. Pada Juli 2026, jumlah perjalanan wisata nusantara ke Jakarta mencapai 8,84 juta perjalanan, meningkat 2,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada periode yang sama, tingkat penghunian kamar hotel bintang di Jakarta mencapai 58,28 persen.

Bagi pemerintah, data tersebut sebagai indikator bahwa pasar wisata Jakarta masih bergerak. Tantangannya bukan sekadar mendatangkan lebih banyak orang, tetapi membuat mereka mendapatkan pengalaman yang menarik, sehingga bersedia tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uangnya selama berada di Jakarta.

“Tantangannya, bagaimana kita meningkatkan quality of experience, length of stay hingga spending wisatawan di Jakarta. Experience merupakan kunci. Ini PR kita bersama, dan kami siap untuk mendukung dan berkolaborasi,” papar Ni Luh.

Kreativitas bagian ekonomi Jakarta

Upaya memperkuat Jakarta sebagai kota wisata dan pusat ekonomi kreatif ternyata tidak dapat dipisahkan dari karya masyarakatnya. Karena itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut Jakarta bukan hanya sebagai tempat investasi, perdagangan, dan pasar. Lebih jauh dari itu, ibu kota merupakan perwujudan karya kreatif serta kekayaan intelektual warganya.

“Kami ingin Jakarta jadi tempat lahir dan bertumbuhnya karya bertemu pasar yang menjangkau dunia,” kata Rano dalam JITEX 2026.

Semangat tersebut yang menjadi salah satu alasan mengapa Festival Kekayaan Intelektual (FKI) dimasukkan ke dalam rangkaian JITEX 2026.

Menurut Rano, JITEX dan FKI memiliki peran yang saling melengkapi. JITEX membuka pintu bagi investasi, perdagangan, dan pasar global. Sementara FKI membawa karya serta kreativitas ke dalam ekosistem bisnis tersebut.

Rano menilai sebuah karya kreatif tidak berhenti pada satu bentuk. Sebuah buku, misalnya, dapat berkembang menjadi film, musik, soundtrack, hingga berbagai produk turunan lainnya.

Karena itu, perlindungan terhadap hak cipta dan kekayaan intelektual menjadi penting. Para pencipta perlu memastikan karya mereka memiliki bukti kepemilikan serta perlindungan hukum ketika memasuki pasar yang semakin terbuka.

“Kadang-kadang kita ini, mengabaikan masalah hak cipta. Ini dunia sudah global. Kalau kita tidak melindungi masalah hak kekayaan intelektual, tentu sangat berbahaya,” ujarnya.

JITEX 2026 berlangsung pada 16-19 September 2026 di JIExpo Kemayoran. Ajang yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan itu menjadi ruang pertemuan produk Nusantara dengan pembeli, investor, serta mitra usaha.

Bagi Jakarta, agenda tersebut tidak hanya soal transaksi. Ada upaya yang lebih besar untuk membangun ekosistem yang mempertemukan karya, pasar, wisatawan, dan investasi.

Di titik inilah fesyen dan ekonomi kreatif mendapat ruang yang semakin penting. Ketika wisatawan datang untuk berbelanja, menikmati kuliner, menghadiri pameran atau mengenal karya lokal, Jakarta tidak hanya menjadi tempat persinggahan.

Ibu kota sedang berusaha membangun identitas baru sebagai kota global yang tetap membawa budaya dan kreativitas lokal ke panggung yang lebih luas. Termasuk fesyen di dalamnya.

Exit mobile version