KabarJakarta.com — Di balik pegunungan yang mengelilingi Bandung, tersimpan kenyataan yang tidak selalu terlihat dari kehidupan sehari-hari. Kota dan kawasan metropolitan yang menjadi rumah bagi lebih dari 9 (sembilan) juta orang itu berdiri di tengah lanskap geologi yang terus bergerak.
Di satu sisi terdapat Sesar Lembang yang telah lama menjadi perhatian para peneliti. Di sisi lain, ia berdekatan dengan sejumlah gunung api aktif, seperti Tangkuban Parahu, Guntur, Papandayan, dan Galunggung.
Kondisi tersebut bukan alasan untuk hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, pengetahuan mengenai karakter geologi Bandung menjadi penting agar masyarakat dan pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat dalam menghadapi kemungkinan bencana.
Persoalannya bukan sekadar di mana bahaya berada, tetapi juga siapa yang paling terpapar, infrastruktur apa yang terdampak, dan seberapa siap masyarakat menghadapinya.
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bagian dari penelitian Exposed: Physical and Social Exposure to Seismic and Volcanic Threats in Bandung, Indonesia, sebuah kolaborasi antara British Geological Survey (BGS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Penelitian tersebut menggabungkan berbagai bidang keilmuan, mulai dari geosains, pengamatan bumi berbasis satelit, kecerdasan buatan, demografi, pemodelan perkotaan hingga pengetahuan masyarakat.
Kolaborasi peneliti Indonesia dan Inggris itu didanai bersama oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dan British Council melalui International Science Partnerships Fund (ISPF).
Bukan meramal kapan bencana terjadi
Ada satu hal penting yang ditekankan dalam penelitian Exposed: riset ini bukan untuk meramalkan kapan gempa atau erupsi akan terjadi. Fokusnya adalah menyediakan bukti ilmiah agar pemerintah dan masyarakat dapat memahami risiko serta mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh kekuatan suatu ancaman alam. Dampaknya juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk, kepadatan bangunan, keberadaan infrastruktur penting, kondisi sosial ekonomi, hingga kemampuan masyarakat merespons ketika bencana terjadi.
Karena itu, penelitian ini melihat tiga hal yang saling berkaitan. Pertama, memahami berbagai ancaman geologi yang berpotensi memengaruhi Bandung dan dampaknya.
Kedua, mengidentifikasi masyarakat, infrastruktur, dan wilayah yang memiliki tingkat paparan lebih tinggi. Ketiga, memahami kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko tersebut.
Pendekatan itu membuat penelitian tidak berhenti pada peta patahan atau gunung api. Data geologi dipertemukan dengan realitas kehidupan manusia.
“Yang penting bagi kami, bukan hanya memahami di mana bahaya dapat terjadi dan seberapa besar potensinya, tetapi mengidentifikasi siapa dan apa yang paling terpapar, serta bagaimana pengetahuan tersebut akan membantu masyarakat dan pemerintah mempersiapkan diri secara lebih efektif,” kata Endra Gunawan yang merupakan Indonesian Project Lead dari ITB, di Bandung, Selasa (1/9).
Menurut Endra, kolaborasi dengan BGS dan mitra lainnya memungkinkan peneliti menggabungkan keahlian geosains, teknologi, analisis sosial, serta pengetahuan lokal untuk memperoleh gambaran risiko yang lebih utuh. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Sesar Lembang, misalnya, pengalaman sehari-hari juga menjadi sumber pengetahuan penting.
Mereka bukan sekadar penerima informasi mengenai bencana. Pengalaman warga mengenai lingkungan, kondisi permukiman, akses jalan, fasilitas umum, hingga cara menghadapi gangguan menjadi bagian yang penting dalam memahami kesiapsiagaan.
Dengan pendekatan tersebut, perencanaan bencana diharapkan tidak hanya dibuat berdasarkan data dari atas, tetapi juga mempertimbangkan kenyataan di lapangan.
Sains keluar dari laboratorium
Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat pengetahuan ilmiah yang rumit bisa dipahami masyarakat luas. Di sinilah pameran Setanah, Tak Diam mengambil peran.
Pameran yang berlangsung mulai 28 Agustus 2026 hingga Januari 2027 tersebut merupakan kolaborasi Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Gamma Metrics, dengan dukungan The Toyota Foundation dan Kemendiktisaintek RI.
Pameran menghadirkan keahlian sejumlah peneliti, antara lain Ekbal Hussain dari British Geological Survey, Endra Gunawan dan Prasanti Widyasih Sarli dari ITB, Rahma Hanifa dari BRIN, serta Prananda Luffiansyah Malasan dari ITB sekaligus kurator di Selasar Sunaryo.
Alih-alih menyampaikan risiko bencana hanya dalam bentuk angka dan grafik, Setanah, Tak Diam mempertemukan sains dengan seni, budaya, cerita, dan pengalaman masyarakat.
Tujuannya sederhana: membuat pembahasan tentang gempa, gunung api, dan perubahan lanskap terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pameran ini juga akan disertai kuliah, lokakarya, diskusi, serta kegiatan bersama komunitas. Ruang tersebut diharapkan menjadi tempat bertemunya peneliti, pemerintah, praktisi, jurnalis, komunitas, dan masyarakat untuk membicarakan bagaimana hidup berdampingan dengan lingkungan yang dinamis.
Membangun kota yang tangguh
Bagi British Council, kerja sama tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sebuah proyek penelitian.
Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, menjelaskan kolaborasi ini menunjukkan bagaimana keahlian Inggris dan Indonesia dapat menghasilkan pengetahuan baru sekaligus memperkuat kapasitas peneliti.
“Pengetahuan menjadi lebih bernilai ketika dapat dibagikan, dipahami, dan digunakan,” ujar Summer.
Menurut dia, Setanah, Tak Diam memperlihatkan bagaimana sains, seni, dan suara masyarakat dapat bertemu untuk mengubah pengetahuan menjadi pemahaman, dialog, dan aksi.
Dukungan terhadap penelitian juga diarahkan untuk memperkuat generasi peneliti berikutnya. Peneliti awal karier dilibatkan dalam proyek, sementara terdapat pula upaya membuka peluang beasiswa doktoral melalui LPDP untuk melanjutkan penelitian di Inggris.
Sedikitnya tiga peneliti Indonesia juga diharapkan memperoleh pelatihan di Inggris dalam bidang machine learning dan pemodelan tiga dimensi untuk memahami paparan perkotaan.
Langkah itu penting karena risiko bencana di kota besar semakin membutuhkan kemampuan membaca data secara cepat dan akurat.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey menilai kerja sama Inggris dan Indonesia di Bandung juga menjadi bagian dari kemitraan yang lebih luas dalam bidang iklim, energi, sains, inovasi, dan penguatan masyarakat.
Pada akhirnya, Bandung tidak membutuhkan narasi yang membuat warganya panik. Yang dibutuhkan adalah pemahaman yang membuat masyarakat lebih siap.
Sesar Lembang dan gunung-gunung di sekeliling Bandung merupakan bagian dari bentang alam yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kota. Tanah memang terus bergerak, tetapi cara manusia meresponsnya dapat dipersiapkan.
Sains membantu membaca ancaman. Data menunjukkan siapa yang paling rentan. Pengalaman warga memberikan konteks. Dan perencanaan yang baik mengubah pengetahuan menjadi kesiapsiagaan.
Di tengah kota yang tumbuh semakin padat, memahami bahwa tanah tidak pernah benar-benar diam mungkin merupakan langkah awal untuk membangun Bandung yang lebih tangguh.
