KabarJakarta.com – Festival Kalibaru ke-4 di Plaza Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, bukan hanya menghadirkan kemeriahan karnaval dan parade perahu. Di balik pesta rakyat yang berlangsung pada 29-30 Agustus 2026 itu, ada aktivitas ekonomi warga yang ikut bergerak melalui bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ribuan warga memadati kawasan festival. Sebanyak 2.300 peserta mengenakan kostum karnaval warna-warni, sementara sekitar 400 perahu turut meramaikan rangkaian kegiatan. Suasana tersebut membuat kawasan pesisir Kalibaru berubah menjadi ruang bersama bagi warga untuk merayakan budaya sekaligus mengembangkan potensi ekonomi mereka.
Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat menilai Festival Kalibaru memberikan peluang bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM, untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari ramainya pengunjung.
“Festival Kalibaru mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya para pelaku UMKM,” kata Hendra di Jakarta, Minggu (30/8).
Menurut Hendra, keberadaan bazar UMKM menjadi salah satu bagian penting dari festival. Ketika masyarakat berkumpul dalam jumlah besar, pelaku usaha lokal memiliki kesempatan untuk menawarkan berbagai produk kepada pengunjung.
Festival juga menjadi bukti bahwa kegiatan berbasis masyarakat tidak selalu berhenti pada hiburan. Jika dikelola secara konsisten, kegiatan semacam ini dapat membuka ruang bagi warga untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun jaringan usaha.
Hendra menegaskan Pemerintah Kota Jakarta Utara mendukung Festival Kalibaru sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Ia menyebut festival tersebut sebagai kegiatan yang tumbuh dari masyarakat, diselenggarakan oleh masyarakat, dan ditujukan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Tahun depan bisa lebih besar lagi, sekaligus menyambut 5 abad Kota Jakarta,” tegasnya.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Sejak pertama kali digelar pada 2023, Festival Kalibaru terus berkembang. Awalnya kegiatan tersebut lebih banyak menampilkan seni dan budaya masyarakat pesisir, khususnya warga nelayan. Kini, festival telah berkembang menjadi pesta rakyat yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Kemeriahan terlihat dari keterlibatan warga dari RW 01 hingga RW 015. Mereka turun langsung mengikuti karnaval budaya yang menjadi salah satu daya tarik utama festival.
Ketua Panitia Pelaksana Festival Kalibaru Abdul Karim mengatakan jumlah peserta yang mencapai 2.300 orang menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat.
“Motto kami ‘Kalibaru Bersatu dan Berdaya’. Ini yang keempat kalinya. Mudah-mudahan tahun depan, bisa lebih baik lagi dan rutin dilaksanakan,” jelas Abdul.
Selain karnaval, masyarakat juga disuguhi parade perahu, lomba bakar ikan, permainan tradisional, pentas seni, parade band pelajar, orkes melayu, bodoran Betawi, hingga penampilan bintang tamu.
Rangkaian kegiatan itu membuat festival tidak hanya menjadi tontonan. Warga menjadi bagian dari pertunjukan sekaligus ikut menghidupkan suasana kawasan selama dua hari penyelenggaraan.
Bagi Siti Juleha (28), warga RT 08 RW 05 Kelurahan Kalibaru, keterlibatan dalam festival merupakan cara sederhana untuk ikut menjaga semangat kebersamaan warga.
“Setiap tahun ada karnaval, tari-tarian, dan perlombaan. Senang bisa seru-seruan bersama warga lainnya. Saya ikut pawai untuk meramaikan, biar Kalibaru semakin maju dan meriah lagi. Ini ajang yang dinanti warga,” kata Siti.
Di tengah keramaian tersebut, keberadaan bazar UMKM menjadi sisi lain yang tak kalah penting. Festival menghadirkan peluang bagi warga untuk berjualan ketika ribuan orang datang dan berkumpul dalam satu kawasan.
Bagi kawasan seperti Kalibaru yang lekat dengan kehidupan masyarakat pesisir, festival juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas lokal. Tradisi, makanan, seni, dan aktivitas masyarakat pesisir tampil dalam satu perayaan.
Hendra mengungkapkan potensi tersebut harus dijaga dan dikembangkan agar tidak hilang di tengah perubahan Jakarta.
“Kalibaru adalah permata pesisir Jakut yang memiliki potensi luar biasa. Potensi alam, budaya, hingga kearifan lokal yang dimiliki harus tetap dijaga. Kita lestarikan dan kita kembangkan,” ujarnya.
Ia berharap Festival Kalibaru tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Lebih dari itu, festival diharapkan mampu memperkuat persatuan warga, mendorong pemberdayaan ekonomi, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas masyarakat pesisir.
Abdul pun mengakui keberhasilan festival tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Ini hasil kolaborasi dan kerja sama semua unsur masyarakat, pemerintah, dan stakeholder. Tanpa kebersamaan semua pihak, Festival Kalibaru tidak mungkin terselenggara,” katanya.
Dengan semangat “Kalibaru Bersatu dan Berdaya”, festival tahun ini menunjukkan bahwa pesta rakyat bisa memiliki makna lebih luas. Karnaval memang menarik perhatian, parade perahu membuat suasana semakin semarak, dan pertunjukan seni menghidupkan budaya.
Namun, di balik semua kemeriahan itu, ada warga yang mendapat ruang untuk berkarya dan pelaku UMKM yang memperoleh kesempatan untuk menawarkan dagangannya.
Festival Kalibaru akhirnya bukan sekadar perayaan dua hari. Ia menjadi gambaran bagaimana budaya, kebersamaan, dan aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan ketika masyarakat menjadi pelaku utama.






