Dari Sudut Kumuh jadi Ruang Warga, Penataan Kawasan Bawa Perubahan

Penataan Kawasan Unggulan Triwulan III di Jalan Kramat Pela III, RT 01/04, Kelurahan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tuntas dikerjakan. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com —  Perubahan sebuah lingkungan tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Sudut kecil yang sebelumnya terabaikan pun bisa menjadi lebih hidup ketika ditata dengan baik. Hal itu terlihat di Jalan Kramat Pela III, Kelurahan Pulo, Jakarta Selatan, dan RT 09/04, Kelurahan Ciracas, Jakarta Timur.

Di kedua lokasi tersebut, kawasan yang sebelumnya terlihat kumuh dan kurang terawat perlahan berubah menjadi ruang yang lebih bersih, hijau, dan menarik. Penataan kawasan tidak hanya mengubah wajah lingkungan, tetapi juga memberi ruang baru bagi warga untuk beraktivitas sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kawasan di sekitar tempat tinggal mereka.

Di Jalan Kramat Pela III, RT 01/04, Kelurahan Pulo, perubahan dimulai dari lahan seluas sekitar 25 meter persegi. Lokasinya berada di perbatasan pemakaman dan akses jalan. Sebelum ditata, kawasan tersebut tampak kumuh. Sejumlah bagian tembok juga mengalami keretakan sehingga membuat sudut lingkungan itu terlihat kurang terawat.

Kondisi tersebut kemudian mendorong Kelurahan Pulo berkoordinasi dengan pengurus RW 04 untuk mencari solusi. Penataan pun dilakukan dengan melibatkan warga dan sejumlah perangkat daerah.

Lurah Pulo Anton Prihasan menjelaskan pengerjaan kawasan dimulai sejak Juli dengan melibatkan lima petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Konsep yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada kebersihan, tetapi juga berusaha memberikan karakter pada lingkungan.

“Kami berkoordinasi dengan pengurus RW 04 untuk menyusun kegiatan penataan kawasan. Berkat kerja sama yang baik, warga setempat turut mendukung penuh terlaksananya penataan kawasan,” ujarnya, Jumat (25/9).

Tembok kawasan dipercantik dengan mural yang mengangkat ornamen budaya Betawi dan Jakarta. Sementara itu, area di sekitarnya ditata menjadi taman dengan konsep menyerupai relief. Sentuhan tersebut membuat lokasi yang sebelumnya menjadi sudut kurang menarik kini memiliki tampilan yang lebih hidup.

“Berkat penataan kawasan ini, warga sekitar mengaku senang. Kini lingkungan menjadi jauh lebih indah, asri, dan bagus,” ucapnya.

Perubahan fisik itu kemudian membawa dampak yang langsung dirasakan warga. Kawasan menjadi lebih bersih, asri, dan tertata. Bagi warga yang setiap hari melintas, perubahan tersebut bukan sekadar persoalan estetika, tetapi juga menyangkut rasa nyaman ketika berada di lingkungan sekitar.

Warga setempat, Ahmad Junaedi, mengapresiasi hasil penataan tersebut. Menurut dia, perubahan terlihat dari berbagai sisi, mulai dari kebersihan, pencahayaan, hingga kondisi lingkungan yang kini lebih asri. Kawasan yang sebelumnya terkesan kurang nyaman pun menjadi lebih meyakinkan untuk dilalui, termasuk pada malam hari.

“Penataannya sungguh sangat bagus. Saya yakin, warga yang melintas saat malam hari, jadi tidak ada rasa ragu-ragu lagi saat melewati jalan tersebut,” tandasnya.

Lahan tidur di RT 09/04, Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur ditata menjadi area hijau yang lebih asri dan menarik. Penataan kawasan unggulan tersebut kini memasuki tahap akhir atau finishing. Foto: beritajakarta

Dari lahan terbengkalai menjadi ruang yang hidup

Cerita serupa muncul di Jakarta Timur. Jika di Pulo perubahan dilakukan pada sudut kecil yang berbatasan dengan pemakaman, di Kelurahan Ciracas penataan menyasar lahan tidur yang sebelumnya kembali ditumbuhi tanaman liar.

Lahan seluas kurang lebih 60 meter persegi di RT 09/04 tersebut sempat kembali gersang dan terlihat kumuh. Kondisi itu kemudian menjadi perhatian Kelurahan Ciracas untuk ditata ulang menjadi kawasan hijau.

Kepala Seksi Perekonomian dan Pembangunan Kelurahan Ciracas Annisa Rizqi membeberkan penataan melibatkan tujuh petugas PPSU yang dibantu warga sekitar. Pengerjaan dimulai sejak pertengahan Juli dan memasuki tahap akhir.

Seperti di Pulo, penataan di Ciracas tidak berhenti pada kegiatan membersihkan lahan. Sejumlah elemen visual ditambahkan agar kawasan memiliki daya tarik sekaligus identitas.

“Kami membuat mural dengan tujuan penataan semakin menarik. Targetnya, penataan yang dimulai pertengahan Juli ini, pada Senin pekan depan bisa rampung seluruhnya,” ujarnya, Jumat (25/9).

Salah satunya adalah miniatur Monumen Nasional atau Monas setinggi sekitar 1,5 meter. Tembok pembatas milik sebuah pabrik busi juga dimanfaatkan sebagai media mural. Berbagai tanaman hias kemudian ditanam untuk mengubah lahan yang sebelumnya gersang menjadi area yang lebih hijau dan sejuk.

Perubahan tersebut ternyata ikut mengubah cara warga memandang kawasan itu. Area yang sebelumnya hanya menjadi lahan kosong kini mulai menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Sejumlah tanaman hias turut ditambahkan, agar kawasan yang sebelumnya gersang jadi terlihat lebih hijau, asri, dan sejuk,” paparnya.

Ketua RW 04 Kelurahan Ciracas, Supriyadi, mengungkapkan kawasan tersebut bahkan mulai menjadi tempat warga untuk berswafoto. Orang yang pulang bekerja atau baru selesai berbelanja dari pasar kerap berhenti sejenak untuk mengambil gambar.

“Setiap hari selalu ada saja orang swafoto di sini. Pulang kerja atau habis dari pasar, mampir berfoto,” katanya.

Tidak hanya itu, kader PKK juga memanfaatkan kawasan tersebut sebagai latar foto setelah mengikuti kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) maupun kegiatan lainnya. Dengan kata lain, ruang yang sebelumnya nyaris tidak memiliki fungsi kini mulai memiliki kehidupan baru.

“Para kader PKK setelah kegiatan PSN, atau kegiatan lainnya juga ada saja yang swafoto untuk dimuat di medsos masing-masing,” ungkapnya.

Menata sekaligus membangun rasa memiliki

Perubahan di Pulo dan Ciracas memperlihatkan satu hal yang sama: penataan kawasan akan lebih berarti ketika masyarakat ikut merasa memiliki.

Di Pulo, kolaborasi dilakukan antara pihak kelurahan, Suku Dinas Bina Marga, Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, serta masyarakat. Sementara di Ciracas, warga ikut membantu proses penataan sekaligus memberikan respons positif terhadap perubahan kawasan.

Namun, pekerjaan tidak berhenti setelah mural selesai dibuat atau tanaman mulai tumbuh. Tantangan berikutnya adalah memastikan kawasan tersebut tetap bersih dan terawat.

Anton mengajak warga melalui pengurus RW untuk ikut menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan. Keterbatasan tenaga kelurahan membuat partisipasi warga menjadi penting, termasuk membantu menyiram tanaman secara rutin.

“Mengingat keterbatasan tenaga kerja kelurahan, warga sekitar juga diharapkan bantuannya untuk melakukan penyiraman tanaman secara rutin di kawasan ini,” ungkapnya.

Hal yang sama berlaku di Ciracas. Dukungan warga menjadi bagian penting agar lahan yang sudah ditata tidak kembali menjadi ruang kosong yang dipenuhi tanaman liar.

Pada akhirnya, penataan dua kawasan tersebut bukan semata-mata tentang mempercantik sudut kota. Ada proses mengubah ruang yang sebelumnya kurang terurus menjadi tempat yang lebih nyaman, hijau, dan memiliki identitas.

Lahan sempit di antara pemakaman dan jalan di Pulo kini tampil lebih menarik. Lahan tidur di Ciracas pun mulai menjadi ruang hijau yang bahkan dimanfaatkan warga untuk beraktivitas dan berswafoto.

Perubahan itu menunjukkan bahwa ruang kecil pun dapat memberi dampak besar ketika ditata dan dirawat bersama. Ketika lingkungan menjadi lebih bersih dan nyaman, rasa memiliki warga terhadap kawasan pun ikut tumbuh.

Dari situlah penataan kawasan tidak hanya mengubah wajah lingkungan, tetapi juga perlahan membangun kebiasaan untuk menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *