KabarJakarta.com — Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi dalam waktu berdekatan kembali memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah erupsi satu gunung memiliki hubungan dengan meningkatnya aktivitas gunung api lain yang lokasinya tidak terlalu jauh?
Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (FTG Unpad), Prof. Nana Sulaksana, mengungkapkan aktivitas gunung api yang berada di wilayah berdekatan tidak serta-merta memiliki hubungan langsung.
Menurut Nana, setiap gunung api memiliki sistem magmatik masing-masing. Karena itu, perubahan aktivitas pada satu gunung tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda bahwa gunung lain di sekitarnya juga akan mengalami peningkatan aktivitas.
“Jadi secara langsung, tidak ada hubungan antara satu gunung dengan gunung api lainnya,” kata Nana di Sumedang, Jawa Barat, Senin (7/9).
Ia menjelaskan, sistem setiap gunung api dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya adalah kedalaman dapur magma, jalur yang dilalui magma menuju permukaan, hingga karakteristik geologi dan jenis batuan yang dilewati.
Perbedaan kondisi tersebut membuat respons setiap gunung terhadap aktivitas magma di bawah permukaan bumi juga tidak sama.
“Setiap gunung api memiliki sistemnya sendiri-sendiri. Tergantung dari kedalaman dapur magma, perjalanan magma, dan batuan yang dilalui,” paparnya.
Penjelasan itu disampaikan di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dalam periode yang berdekatan, sejumlah gunung api lain di Indonesia juga tercatat mengalami erupsi, antara lain Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.
Meski terjadi dalam waktu yang berdekatan, Nana meyakini fenomena tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan langsung antaraktivitas gunung api.
Menurut dia, aktivitas masing-masing gunung harus dibaca berdasarkan karakteristik dan data pemantauan gunung tersebut. Dengan demikian, peningkatan aktivitas pada satu gunung tidak dapat dijadikan indikator langsung terhadap kondisi gunung api lainnya.
Gunung Anak Krakatau dipantau intensif
Untuk mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, pemantauan dilakukan secara intensif menggunakan berbagai instrumen. Data dari sejumlah alat tersebut menjadi dasar penting untuk melihat perubahan aktivitas vulkanik.
Salah satu alat yang digunakan adalah seismograf. Perangkat ini berfungsi merekam aktivitas kegempaan yang dapat berkaitan dengan pergerakan magma di dalam tubuh gunung.
Menurut Nana, seismograf dipasang di sejumlah titik pada tubuh gunung untuk menangkap perubahan aktivitas tersebut.
“Dalam pemantauan itu, ada beberapa variabel yang diukur. Di antaranya, pergerakan magma dari dalam perut bumi. Pergerakan itu terlihat dari seismograf yang dipasang minimal di 3 titik di tubuh gunung api,” paparnya.
Pemantauan tidak hanya mengandalkan aktivitas kegempaan. Perangkat geodetik berbasis GPS juga digunakan untuk mengetahui perubahan atau pergerakan mikro pada tubuh gunung.
Pengamatan visual turut dilakukan dengan memantau kepulan asap dan kondisi kawah. Kamera CCTV yang terhubung dengan internet membantu petugas mengamati kondisi gunung dari jarak jauh.
Selain itu, analisis multi-gas digunakan untuk melihat perubahan komposisi gas yang keluar dari aktivitas vulkanik. Data tersebut kemudian dipadukan dengan catatan letusan masa lalu dan peta geologi.
Seluruh informasi itu diperlukan untuk memahami perkembangan aktivitas gunung sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan status vulkaniknya.
Hidup di negeri cincin api
Nana mengingatkan bahwa Indonesia memang memiliki tingkat kerawanan bencana geologi yang tinggi. Posisi Indonesia berada di kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik dan bagian dari Cincin Api Pasifik.
Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif dan menghadapi potensi gempa bumi maupun erupsi.
“Konsekuensinya, kita rawan gempa dan erupsi. Tetapi di sisi lain, kondisi ini memberikan potensi energi panas bumi dan sumber daya mineral,” katanya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah menghubungkan aktivitas satu gunung dengan gunung lainnya hanya berdasarkan waktu terjadinya erupsi.
Dalam menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait. Data ilmiah dan hasil pemantauan menjadi acuan yang lebih dapat dipercaya dibandingkan dugaan yang berkembang tanpa dasar.
Di tengah kekhawatiran terhadap aktivitas gunung api, pemahaman tersebut menjadi penting. Erupsi yang terjadi hampir bersamaan bukan berarti gunung-gunung tersebut saling memicu. Setiap gunung memiliki karakter, sistem, dan perilaku vulkanik yang perlu dipahami berdasarkan data masing-masing.






