Kampung Susun Bayam Setahun Kemudian: Dari Tenda Darurat ke Hunian yang Mandiri

Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat menghadiri acara Syukuran Satu Tahun Kampung Susun Bayam di Selasar Tower C, Kampung Susun Bayam, Jakarta Utara, Selasa (29/9/2026). Foto: Pemkot Jakarta Utara

KabarJakarta.com —  Setahun terakhir menjadi babak baru bagi warga Kampung Susun Bayam, Jakarta Utara. Setelah melewati masa sulit ketika sebagian warga harus menjalani kehidupan di tenda darurat, kini mereka memiliki ruang hidup yang lebih layak sekaligus kesempatan untuk kembali menata kehidupan keluarga dan ekonomi.

Perubahan itu menjadi bagian penting dalam perjalanan satu tahun Kampung Susun Bayam. Bagi pemerintah, penataan kawasan tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal. Hunian juga diharapkan menjadi ruang bagi warga untuk mendapatkan pelayanan dasar, membangun kehidupan sosial, serta perlahan mencapai kemandirian ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat dalam acara syukuran satu tahun Kampung Susun Bayam di Selasar Tower C, Selasa (29/9). Menurut Hendra, perjalanan satu tahun tersebut menjadi momentum untuk memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi warga.

“Satu tahun ini bukanlah sekadar waktu, tetapi perjalanan yang membangun kembali harapan. Kami hadir untuk memastikan warga mendapatkan pelayanan terbaik, utamanya di bidang pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan,” kata Hendra.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa konsep penataan permukiman yang diterapkan tidak semata-mata berorientasi pada bangunan. Pemerintah berupaya memastikan warga yang tinggal di dalamnya tetap terhubung dengan berbagai layanan dasar.

Di bidang kesehatan, misalnya, akses terhadap BPJS Kesehatan menjadi salah satu perhatian. Begitu pula dengan pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP). Administrasi kependudukan juga menjadi bagian dari pelayanan yang harus dipastikan berjalan agar warga dapat memperoleh hak-hak dasarnya sebagai penduduk.

Dengan demikian, keberlanjutan hunian tidak hanya ditentukan oleh apakah bangunannya dapat ditempati, tetapi juga oleh kemampuan lingkungan tersebut menyediakan ekosistem kehidupan yang mendukung penghuninya.

“Kalaupun masih ada kekurangan, segera akan kita perbaiki. Kami ingin memastikan seluruh warga bisa hidup lebih baik dari sebelumnya,” ujar Hendra.

Dari tempat tinggal menjadi ruang tumbuh

Perubahan paling terasa bagi warga tentu berkaitan dengan tempat tinggal. Sherly Aplonia, perwakilan warga Kampung Susun Bayam, masih mengingat masa ketika mereka harus menjalani kehidupan dalam kondisi serba terbatas.

“Dulu, anak-anak kami hidupnya dalam keterbatasan. Sekarang, kami bisa berkumpul kembali sebagai keluarga di tempat yang jauh lebih layak. Ini berkah yang luar biasa untuk kami,” ungkap Sherly.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penataan permukiman memiliki dimensi sosial yang tidak kalah penting dibandingkan aspek fisik. Rumah bukan sekadar tempat berteduh. Bagi keluarga, hunian yang lebih layak memberikan ruang untuk berkumpul, membangun kembali rutinitas, dan menjalani kehidupan secara lebih teratur.

Kondisi itu kemudian menjadi dasar bagi terbentuknya kehidupan sosial baru di lingkungan Kampung Susun Bayam. Semangat kebersamaan dan gotong royong tetap dijaga, sementara warga mulai berusaha membangun kembali kegiatan ekonomi.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui koperasi dan tabungan warga. Langkah ini menunjukkan adanya usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap bantuan sekaligus membangun kekuatan ekonomi dari lingkungan sendiri.

“Kami di sini, tidak ingin hanya menerima saja. Kami juga berusaha membangun kehidupan, menghidupkan kembali kegiatan ekonomi warga, seperti koperasi dan tabungan warga. Sedikit demi sedikit, kami pun belajar mandiri,” tutur Sherly.

Di titik inilah konsep hunian berkelanjutan menemukan maknanya. Keberhasilan penataan tidak cukup diukur dari tersedianya bangunan tempat tinggal, tetapi juga dari kemampuan warga memanfaatkan lingkungan tersebut untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Mengukur keberhasilan kehidupan warga

Model penataan seperti itu menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari proses yang terus berjalan. Pemerintah menyediakan akses pelayanan dasar dan pendampingan, sementara warga didorong mengambil peran dalam menjaga lingkungan serta membangun aktivitas ekonomi.

Hendra mengapresiasi semangat tersebut. Ia berharap Kampung Susun Bayam tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi berkembang menjadi lingkungan yang dihuni masyarakat yang mandiri, rukun, dan memiliki karakter.

“Kami berharap hunian ini tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat yang mandiri, rukun, dan berkarakter,” ujarnya.

Perbandingan kondisi warga sebelum dan sesudah menempati hunian tersebut menjadi gambaran penting. Dari kehidupan di tenda darurat dan keterbatasan, warga kini dapat kembali berkumpul dalam hunian yang lebih layak. Pada saat yang sama, akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan administrasi terus diperkuat.

Sementara dari sisi ekonomi, warga mulai membangun kembali aktivitas bersama melalui koperasi dan tabungan. Ini menunjukkan, kesejahteraan yang dibangun tidak hanya berkaitan dengan kondisi tempat tinggal, tetapi juga menyangkut akses terhadap layanan dasar, hubungan sosial, serta kemampuan warga mengembangkan kehidupan ekonomi.

Perjalanan satu tahun Kampung Susun Bayam memang belum berarti seluruh persoalan telah selesai. Pemerintah sendiri mengakui masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki.

“Namun, pendampingan yang berkelanjutan dan keterlibatan warga adalah dua unsur penting, agar penataan tidak berhenti setelah hunian ditempati,” jelas Hendra.

Karena itu, syukuran satu tahun Kampung Susun Bayam dengan tema Satu Tahun Merajut Asa: Sinergi Kampung Susun Bayam Menuju Hunian Mandiri, Rukun, dan Berkarakter bukan sekadar perayaan. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah permukiman pada akhirnya diukur dari kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Jika warga semakin mampu mengakses layanan dasar, hidup lebih layak, menjaga kebersamaan, dan membangun sumber penghidupan sendiri, maka penataan permukiman mulai bergerak dari sekadar pembangunan hunian menuju pembangunan kehidupan yang berkelanjutan.

Exit mobile version