Kemnaker Andalkan MagangHub untuk Tekan Pengangguran Fresh Graduate

Arsip foto - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meninjau pelaksanaan Magang Nasional 2025 di RS Bunda Thamrin Medan, Sumatera Utara, Rabu (22/4/2026). Foto: Kemnaker RI

KabarJakarta.com – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus memperkuat upaya menekan angka pengangguran muda melalui Program Magang Nasional atau MagangHub. Program tersebut memang dirancang untuk membantu lulusan baru (fresh graduate) perguruan tinggi memperoleh pengalaman kerja yang selama ini menjadi salah satu syarat utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono mengungkapkan pentingnya program Magang Nasional menjadi salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan daya saing lulusan baru sekaligus mempersempit kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

“Kemnaker berharap program Magang Nasional bisa berkontribusi terhadap pengurangan pengangguran muda melalui peningkatan daya saing dan kesiapan kerja bagi lulusan baru,” kata Faried saat dihubungi di Jakarta, Senin (3/8).

Menurut Faried, salah satu persoalan yang paling sering dihadapi lulusan baru adalah adanya perbedaan antara kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja. Di sisi lain, banyak perusahaan menetapkan pengalaman kerja sebagai syarat utama dalam proses seleksi, sementara lulusan baru belum memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman tersebut.

Kondisi tersebut membuat banyak lulusan perguruan tinggi sulit memasuki pasar kerja meskipun telah memiliki bekal pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, Program Magang Nasional hadir sebagai jembatan agar lulusan baru dapat memperoleh pengalaman kerja sebelum memasuki dunia profesional.

Melalui program ini, peserta akan menjalani magang selama enam bulan di berbagai perusahaan mitra. Selama mengikuti program, mereka tidak hanya bekerja secara langsung, tetapi juga memperoleh pendampingan dari mentor yang telah berpengalaman di bidangnya.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan budaya kerja di perusahaan, mengasah kemampuan teknis sesuai bidang pekerjaan, sekaligus meningkatkan keterampilan nonteknis seperti komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, hingga kemampuan memecahkan masalah.

“Program ini memberikan tempat bagi para lulusan perguruan tinggi memperoleh pengalaman untuk kerja nyata selama 6 bulan, mendapat bimbingan dari mentor, memahami budaya kerja, hingga mengasah kompetensi teknis dan nonteknis, termasuk membangun portofolio dan jejaring profesional,” ujar Faried.

Ia menambahkan, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi peserta ketika memasuki dunia kerja secara penuh. Tidak hanya meningkatkan peluang diterima bekerja, peserta juga diharapkan mampu beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan kerja dan memiliki kemampuan untuk berkembang dalam kariernya.

“Dengan pengalaman tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya lebih siap mencari kerja, tetapi juga lebih siap bertahan, beradaptasi, dan berkembang lebih baik di tempat kerja,” katanya.

Kemnaker juga memaparkan hasil pelaksanaan Program Magang Nasional sebelumnya yang menunjukkan adanya peluang nyata bagi peserta untuk memasuki dunia kerja. Berdasarkan data evaluasi, sekitar 30 persen peserta berhasil memperoleh tawaran pekerjaan setelah menyelesaikan masa magang.

Sementara itu, sebanyak 34 persen peserta memang belum menerima tawaran kerja secara resmi, tetapi telah mendapatkan sinyal atau peluang untuk direkrut oleh perusahaan tempat mereka menjalani magang maupun perusahaan lainnya. Sedang sisanya, sekitar 36 persen peserta belum memperoleh tawaran pekerjaan setelah program berakhir.

Faried menilai angka tersebut perlu dipahami secara menyeluruh. Menurutnya, program magang memang bukan jaminan seluruh peserta langsung mendapatkan pekerjaan, tetapi menjadi jalur transisi yang efektif dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.

“Data ini penting dibaca secara utuh. Artinya, program magang tidak otomatis akan menjamin para peserta langsung bekerja, tetapi sudah menunjukkan adanya jalur transisi yang nyata dari magang menuju kesempatan kerja,” ´paparnya.

Dari peserta yang berhasil memperoleh tawaran kerja, sektor keuangan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi mencapai 23,4 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar (wholesale trade) sebesar 17,9 persen, sektor manufaktur 16,5 persen, dan sektor kesehatan sebesar 10,3 persen.

Data tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Kemnaker dalam mengembangkan Program Magang Nasional pada tahun-tahun berikutnya. Pemerintah berencana memperkuat kerja sama dengan sektor-sektor yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi, sekaligus memperluas keterlibatan industri lain agar pilihan tempat magang yang bisa dituju semakin beragam.

“Ini menjadi masukan bagi Kemnaker dalam memperkuat kolaborasi dengan sektor-sektor yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi, sekaligus memperluas peluang partisipasi dari sektor lain, agar kesempatan peserta semakin beragam,” ungkap Faried.

Pada pelaksanaan Magang Nasional 2026, Kemnaker menargetkan program ini mampu memberikan dampak dalam tiga aspek utama. Pertama, meningkatkan kompetensi, pengalaman, dan kesiapan kerja para peserta. Kedua, menyediakan talenta muda yang lebih siap bagi dunia usaha dan industri. Ketiga, mengurangi kesenjangan kompetensi yang selama ini menjadi tantangan yang dihadapi oleh pasar kerja nasional.

Faried menegaskan, Program Magang Nasional merupakan salah satu langkah konkret pemerintah untuk mengurangi pengangguran, khususnya di kalangan lulusan perguruan tinggi.

“Program Magang Nasional merupakan salah satu upaya konkret pemerintah dalam mengurangi pengangguran muda, utamanya pengangguran lulusan perguruan tinggi, melalui pendekatan yang lebih langsung,” katanya.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut dilakukan dengan mempertemukan lulusan baru dengan dunia kerja sejak awal, memberikan pengalaman profesional, memperkuat kompetensi, sekaligus membuka peluang rekrutmen setelah masa magang selesai. Dengan cara demikan, diharapkan semakin banyak lulusan muda yang mampu bersaing dan terserap di pasar kerja nasional.

Exit mobile version