KabarJakarta.com — Ketika ancaman bencana datang, kepanikan sering kali muncul karena masyarakat belum tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu, kesiapan tidak bisa dibangun ketika bencana sudah terjadi. Langkah antisipasi perlu disiapkan sejak sekarang, mulai dari memahami jalur evakuasi hingga menyiapkan kebutuhan darurat di rumah.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengingatkan masyarakat agar memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana alam, termasuk gempa bumi dan erupsi.
Yuke meminta warga tidak menganggap remeh setiap potensi bencana. Setiap ada imbauan pemerintah perlu diikuti sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.
“Kita harus selalu siap, menyiapkan,” kata Yuke, di Jakarta, Selasa (8/9).
Menurut Yuke, kesiapsiagaan bukan hanya soal mengetahui adanya ancaman bencana. Masyarakat juga harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan sehingga tidak kehilangan kendali ketika situasi darurat terjadi.
“Kita harus mempersiapkan diri terhadap segala macam situasi. Termasuk untuk mempersiapkan mitigasi dan sebagainya,” ujar dia.
Salah satu hal yang dinilai penting adalah memperbanyak sosialisasi dan pelatihan kebencanaan. Kegiatan tersebut, kata Yuke, perlu dilakukan secara rutin dan tidak berhenti pada penyampaian informasi semata.
Sekolah dan perkantoran menjadi tempat yang perlu mendapat perhatian. Warga perlu dibiasakan mengenali jalur evakuasi, mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat gempa, serta memahami hal-hal yang sebaiknya dihindari ketika bencana terjadi.
“Lebih baik kita siap siaga, dan mungkin pelatihan-pelatihan bencana juga. Itu mutlak harus dilatih,” katanya.
Menyiapkan tas bencana
Kesiapan juga dapat dimulai dari lingkungan rumah. Yuke mendorong masyarakat memiliki tas bencana yang mudah dibawa dan berisi kebutuhan dasar untuk menghadapi kondisi darurat.
Tas tersebut dapat berisi dokumen penting, lampu darurat, baterai cadangan, makanan instan, serta berbagai perlengkapan lain yang dibutuhkan ketika warga harus meninggalkan rumah dalam waktu singkat.
Bagi Yuke, langkah sederhana seperti menyiapkan tas bencana dapat membantu masyarakat bertindak lebih cepat. Warga tidak perlu mencari barang satu per satu ketika keadaan sudah mendesak.
Namun, kesiapsiagaan menghadapi bencana saat ini juga berkaitan dengan persoalan lain, yakni ketersediaan air. Di tengah kondisi kekeringan, masyarakat diminta tidak menggunakan air secara berlebihan.
Yuke menjelaskan penyiraman tetap diperlukan untuk membantu mengantisipasi dampak erupsi. Akan tetapi, kebutuhan tersebut harus berjalan beriringan dengan penghematan air.
“Kita sekarang lagi kering. Kita sekarang lagi erupsi, kita harus terus lakukan penyiraman rutin. Tetapi di sisi lain, kita juga harus menghemat air,” tuturnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menggunakan air secukupnya dan menjaga persediaan air. Terlebih, sejumlah embung dan sungai mulai mengalami kekeringan.
Menurut Yuke, kondisi tersebut membutuhkan kesadaran bersama. Penggunaan air yang tidak terkendali dapat menambah persoalan ketika cadangan air semakin terbatas.
“Yang terpenting, betul masyarakat itu, harus sadar bahwa saat ini, kita harus menyiapkan itu. Sampai mungkin berapa bulan ke depan. Jadi betul-betul harus hemat air,” tandasnya.
Pesan tersebut pada akhirnya mengarah pada satu hal: kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan, bukan reaksi sesaat. Memahami risiko bencana, berlatih melakukan evakuasi, menyiapkan perlengkapan darurat, sekaligus menghemat air merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat sejak sekarang.
Dengan persiapan yang lebih baik, warga diharapkan tidak hanya mampu menghadapi bencana dengan lebih tenang, tetapi juga dapat mengurangi risiko dan menjaga kebutuhan dasar tetap tersedia selama kondisi sulit.
