Ketika Pembaca Tak Lagi Datang ke Website: Media Memasuki Era GEO

Komisi Informasi (KI) DKI Jakarta dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk "Keterbukaan Informasi Publik di Era AI: Peran Pers dan Media Siber" di Jakarta, Senin (5/10/2026). Foto: KI DKI.

KabarJakarta.com  — Perubahan cara masyarakat mencari informasi mulai mengubah peta lalu lintas media digital. Jika sebelumnya pembaca harus membuka mesin pencari, mengetik kata kunci, memilih tautan, lalu masuk ke halaman media untuk membaca berita, kini proses itu semakin sering berhenti di layar kecerdasan buatan atau AI.

Perubahan tersebut menjadi perhatian Komisi Informasi (KI) DKI Jakarta. Lembaga itu menilai perkembangan kecerdasan buatan justru harus dimanfaatkan untuk memperluas distribusi informasi publik, tetapi pada saat yang sama media perlu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku pembaca.

Wakil Ketua KI DKI Jakarta Luqman Hakim Arifin menjelaskan pola konsumsi informasi masyarakat telah mengalami pergeseran. Menurut dia, pembaca tidak lagi semata-mata mengandalkan situs web sebagai pintu pertama untuk mendapatkan informasi.

“Konsumsi informasi masyarakat di era AI sekarang ini mengalami perubahan besar. Kalau dulu, orang mengakses berita di situs web, tetapi sekarang justru bergeser ke AI Overview,” kata Luqman dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk Keterbukaan Informasi Publik di Era AI: Peran Pers dan Media Siber di Jakarta, Senin (5/10).

Pergeseran itu sebenarnya mudah terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Ketika seseorang ingin mengetahui sebuah peristiwa, ia kini bisa langsung bertanya kepada ChatGPT atau layanan AI lain. Sistem kemudian merangkum berbagai informasi dan menyajikan jawaban dalam bentuk percakapan.

Bagi pembaca, cara tersebut terasa lebih praktis. Mereka tidak perlu membuka banyak situs, membaca sejumlah artikel, kemudian menyusun sendiri informasi yang dibutuhkan. AI melakukan sebagian pekerjaan tersebut dalam hitungan detik.

Dari pencarian menuju jawaban

Perubahan inilah yang membuat hubungan antara media dan pembaca ikut berubah. Mesin pencari tradisional pada dasarnya bekerja sebagai pintu menuju berbagai situs. AI generatif semakin berkembang menjadi pemberi jawaban langsung.

Narasumber FGD, Ilona Juwita, mengutip Reuters Institute Digital News Report 2026 yang menyebut 12 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan AI chatbot sebagai sumber berita mingguan. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia.

Menurut Ilona, setelah mencoba AI, tingkat kepercayaan pengguna mencapai 44 persen. Sementara itu, 33 persen masyarakat Indonesia disebut mengakses ChatGPT setiap bulan.

“Perubahan perilaku ini telah memicu fenomena zero-click, di mana 68 persen pencarian di Amerika Serikat (AS) pada awal 2026 berakhir tanpa klik ke situs web,” ujar Ilona.

Fenomena zero-click menjadi tantangan serius bagi perusahaan media. Sebuah berita bisa saja muncul sebagai sumber dalam jawaban AI, tetapi pembaca belum tentu mengunjungi situs yang membuat berita tersebut.

Dengan begitu, konten media dapat memperoleh perhatian tanpa memperoleh kunjungan.

Selama bertahun-tahun, media digital membangun strategi SEO untuk memenangkan persaingan di halaman hasil pencarian. Semakin tinggi posisi artikel di mesin pencari, semakin besar peluang pembaca mengeklik tautan dan masuk ke website.

“Kini pola tersebut mulai berubah,” terangnya.

Ketika AI memberikan jawaban langsung, posisi nomor satu di halaman pencarian tidak selalu menjadi tujuan akhir. Tantangannya adalah bagaimana sebuah berita dapat dipahami, dipercaya, dan kemudian dipilih oleh sistem AI sebagai sumber jawaban.

“Di sinilah GEO atau Generative Engine Optimization menjadi penting,” kata Ilona.

Media perlu beralih ke GEO

GEO pada dasarnya merupakan upaya mengoptimalkan konten agar mudah ditemukan, dipahami, dipercaya, dan dirujuk oleh mesin generatif berbasis AI. Jika SEO berorientasi pada memenangkan posisi dalam hasil pencarian, GEO lebih menekankan kemungkinan sebuah informasi digunakan AI ketika menyusun jawaban.

Perbedaannya cukup mendasar.

SEO banyak bertumpu pada kata kunci, struktur halaman, tautan, kecepatan situs dan berbagai faktor teknis lainnya. GEO membutuhkan fondasi yang lebih luas: fakta yang jelas, struktur informasi yang mudah dipahami mesin, sumber yang kredibel, konteks yang lengkap serta reputasi penulis dan media.

Karena itu, media tidak cukup hanya membuat artikel yang mengandung kata kunci populer. Berita juga harus mempunyai fakta yang kuat dan dapat diverifikasi.

Ilona menjelaskan kerangka GEO mengutamakan fakta yang jelas, struktur yang teruji serta kredibilitas berdasarkan prinsip Experience, Expertise, Authoritativeness, dan Trustworthiness atau E-E-A-T.

Dalam konteks jurnalistik, prinsip tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Reportase langsung, wawancara dengan sumber yang kompeten, data primer, atribusi yang jelas dan verifikasi fakta justru menjadi semakin penting.

Media lokal bahkan mempunyai peluang tersendiri. Reportase first-hand dan isu hyperlocal memiliki keunggulan karena menyediakan informasi yang mungkin tidak tersedia secara rinci di sumber nasional atau agregator.

Berita tentang kondisi sebuah jalan, pelayanan publik di kecamatan tertentu, kebijakan pemerintah daerah, persoalan lingkungan di sebuah wilayah atau pengalaman warga menjadi informasi yang memiliki nilai tinggi ketika masyarakat mencarinya melalui AI.

Namun, perubahan ini bukan berarti media boleh menyerahkan pekerjaan jurnalistik kepada mesin.

Narasumber dari PWI Jaya, Penerus Bonar, mengingatkan bahwa AI tetap hanya alat bantu. Informasi yang dihasilkan AI harus diperiksa kembali sebelum digunakan.

“AI ini hanya alat bantu saja, dan tetap butuh verifikasi. Karena pada akhirnya, yang akan bertanggung jawab adalah penulisnya, bukan AI,” tegas Bonar.

Pesan tersebut menjadi penting karena semakin besar peran AI dalam distribusi informasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap sumber berita yang dapat dipercaya.

Bagi media, masa depan bukan sekadar soal bagaimana membuat pembaca mengeklik tautan. Tantangannya adalah memastikan informasi yang mereka produksi tetap hadir ketika masyarakat mencari jawaban melalui AI.

Dengan kata lain, website mungkin bukan lagi satu-satunya tempat pembaca menemukan berita. Tetapi kualitas jurnalistik tetap menjadi alasan mengapa sebuah berita layak ditemukan, dirujuk, dan dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *