KabarJakarta.com – Komisi Informasi (KI) Provinsi DKI Jakarta menyampaikan duka mendalam atas korban gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lembaga tersebut juga mendorong pemerintah dan pihak terkait memastikan informasi mengenai kondisi korban serta penanganan bencana dapat diterima masyarakat secara cepat dan akurat.
Ketua Komisi Informasi DKI Jakarta Harry Ara Hutabarat menjelaskan, musibah tersebut tidak hanya menimbulkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia.
“Kami sampaikan rasa duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa. Serta turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban,” kata Harry di Jakarta, Sabtu (15/7).
Harry berharap para korban yang meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi kehilangan.
Selain itu, Harry menyampaikan doa bagi warga yang mengalami luka-luka akibat gempa. Ia berharap seluruh korban segera mendapat penanganan dan kesembuhan.
“Kami juga mendoakan saudara-saudara kita yang menjadi korban luka-luka agar segera diberikan kesembuhan,” ujarnya.
Menurut Harry, kondisi bencana membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak. Masyarakat terdampak tidak hanya membutuhkan bantuan fisik, tetapi juga informasi yang jelas mengenai situasi di lapangan, proses evakuasi, kebutuhan mendesak, hingga distribusi bantuan.
Karena itu, Komisi Informasi DKI Jakarta mendorong penyampaian informasi serta-merta yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas. Informasi tersebut mencakup kondisi korban, kebutuhan warga terdampak, proses evakuasi, bantuan kemanusiaan, serta berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dalam menangani bencana.
“Kami juga mendorong agar informasi terkait kondisi korban, proses evakuasi, kebutuhan masyarakat terdampak, bantuan kemanusiaan, serta langkah-langkah penanganan bencana agar disampaikan secara cepat, akurat, transparan. Informasi itu harus mudah diakses oleh masyarakat,” kata Harry.
Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi harus tetap dilakukan dengan memperhatikan perlindungan data pribadi. Informasi mengenai korban dan warga terdampak tidak boleh disebarkan secara sembarangan, terutama data yang bersifat sensitif.
Harry menilai bencana di Nagekeo menjadi pengingat pentingnya solidaritas dan gotong royong. Dalam situasi darurat, keterbukaan informasi dapat membantu masyarakat memahami kondisi sebenarnya sekaligus mencegah munculnya informasi yang keliru.
“Semua itu diharapkan agar memperhatikan perlindungan data pribadi. Semoga seluruh elemen bangsa bersatu membantu masyarakat NTT melewati masa yang sulit ini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengunkapkan gempa utama di Nagekeo diikuti sejumlah gempa susulan. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Sabtu pukul 15.00 WIB tercatat 31 kali gempa susulan.
“BMKG sudah memberikan informasi bahwa sampai pukul 15.00 hari ini, sudah terjadi 31 kali gempa susulan,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring di Jakarta, Sabtu (15/8).
Dari puluhan gempa susulan tersebut, 4 (empat) di antaranya tercatat memiliki magnitudo cukup besar. Kondisi ini membuat kewaspadaan masyarakat dan petugas di wilayah terdampak perlu terus dijaga.
Harry berharap perhatian dan bantuan terhadap masyarakat NTT terus mengalir selama proses penanganan bencana berlangsung.
“NTT tidak sendirian dan Indonesia bersama NTT. Duka NTT merupakan duka kita bersama,” kata dia.






