Menanam Integritas di Ragunan, Melawan Korupsi Sejak Bangku Sekolah

Inspektorat DKI Jakarta bersinergi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, terus konsisten membangun budaya antikorupsi sejak dini di tengah masyarakat. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Pagi di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (20/9), tidak hanya diisi aktivitas wisata. Di tengah suasana ruang terbuka dan hiruk-pikuk pengunjung, pesan tentang kejujuran dan integritas justru menjadi perhatian utama.

Sekitar 200 pelajar SMP, SMA, SMK bersama warga mengikuti Safari Integritas bertema “Jujur Itu Petualangan, Integritas Itu Kebiasaan”. Kegiatan yang digelar Inspektorat DKI Jakarta bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI itu dikemas dengan permainan dan aktivitas edukatif agar pesan antikorupsi lebih mudah diterima.

Pendekatan tersebut sengaja dipilih. Pendidikan antikorupsi tidak selalu harus disampaikan melalui ruang kelas, seminar, atau materi yang penuh istilah. Nilai kejujuran dan keberanian menolak penyimpangan justru diharapkan dapat dikenalkan melalui pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Inspektur Provinsi DKI Jakarta Dhany Sukma menjelaskan, Safari Integritas merupakan bagian dari upaya membangun budaya antikorupsi sejak dini melalui pendekatan yang lebih interaktif dan menyenangkan.

“Safari Integritas melalui pendidikan dan kampanye antikorupsi bagi masyarakat dengan pendekatan interaktif, rekreatif, dan berbasis pengalaman di ruang publik Taman Margasatwa Ragunan,” ujar Dhany.

Pemilihan Taman Margasatwa Ragunan sebagai lokasi kegiatan juga memiliki alasan tersendiri. Menurut Dhany, TMR merupakan salah satu unit kerja di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang pertama kali meraih predikat Zona Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di Indonesia.

Karena itu, ruang publik tersebut tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi lokasi untuk memperkenalkan nilai integritas kepada masyarakat.

Bagi para pelajar yang mengikuti kegiatan, pesan antikorupsi pun tidak berhenti pada pengertian tentang korupsi sebagai tindakan mengambil uang negara. Integritas diperkenalkan melalui perilaku yang lebih sederhana: berkata jujur, bertanggung jawab, berani menolak sesuatu yang salah, serta tidak membiarkan penyimpangan terjadi di lingkungan sekitar.

Dhany menjelaskan, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman pelajar dan masyarakat mengenai nilai-nilai integritas dan antikorupsi. Peserta juga diajak mengenali perilaku sederhana yang mencerminkan integritas dalam kehidupan sehari-hari.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memahami dampak korupsi. Praktik korupsi tidak hanya berkaitan dengan kerugian keuangan negara, tetapi juga dapat berdampak pada kualitas pelayanan publik dan kehidupan masyarakat.

“Ini menjadi ikhtiar bersama dalam menumbuhkan nilai integritas sebagai budaya yang kuat yang berawal dari diri sendiri, lingkungan sekitar dan terus meluas,” kata Dhany.

Dari kejujuran kecil ke budaya besar

Pendidikan antikorupsi sejak usia sekolah menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut. Pelajar dipandang sebagai kelompok penting karena mereka merupakan bagian dari generasi yang kelak akan mengisi berbagai posisi di masyarakat, termasuk menjadi pemimpin.

Karena itu, pembentukan karakter tidak cukup menunggu seseorang memasuki dunia kerja atau menduduki jabatan publik. Kebiasaan untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab perlu dibangun sejak sekarang.

Dhany juga menekankan pentingnya keberanian dalam menghadapi penyimpangan. Peserta tidak hanya didorong untuk mengetahui mana tindakan yang benar dan salah, tetapi juga berani bertanya, menolak, mengingatkan, hingga melaporkan apabila menemukan dugaan penyimpangan.

Dengan cara itu, integritas tidak berhenti sebagai slogan. Ada tindakan nyata yang diharapkan tumbuh dari setiap peserta.

Direktur Pembinaan Peran Serta Masyarakat KPK RI Kunto Ariawan mengungkapkan, pemberantasan korupsi tidak hanya mengandalkan penindakan setelah pelanggaran terjadi. Pencegahan harus dilakukan sejak awal, termasuk dengan menanamkan nilai integritas kepada anak-anak.

Menurut dia, generasi muda yang mendapatkan pendidikan antikorupsi sejak dini diharapkan dapat tumbuh menjadi pemimpin yang amanah.

“Safari Integritas ini sebagai bentuk sosialisasi pencegahan korupsi yang sangat baik,” ujar Kunto.

Gerakan tak berhenti di sekolah

Upaya membangun budaya integritas di Jakarta sebenarnya telah dilakukan melalui berbagai kegiatan. Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta bersama KPK juga menggelar kampanye antikorupsi bertema “Semangat Kemerdekaan Menuju 5 Abad Kota Global: Jaga Jakarta, Jaga Integritas di Taman Dukuh Atas, Jakarta Pusat, pada 16 Agustus 2026.

Kegiatan yang digelar bersamaan dengan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) tersebut melibatkan 10.530 peserta. Mereka berasal dari ASN Pemprov DKI Jakarta dan berbagai unsur masyarakat, termasuk Lembaga Musyawarah Kelurahan, PKK, Karang Taruna, Dasawisma, serta Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat itu menekankan pentingnya koordinasi dan pendampingan dengan KPK, terutama dalam kegiatan yang memiliki risiko dan nilai strategis.

Kampanye tersebut juga mengenalkan kanal pengaduan resmi kepada masyarakat, termasuk SIPADU untuk melaporkan dugaan kecurangan dan JAKI untuk menyampaikan pengaduan.

Wakil Ketua KPK Johanis Tanak menyatakan dukungan terhadap upaya Pemprov DKI dalam menjaga pelaksanaan pembangunan agar berjalan secara bertanggung jawab. KPK juga mendorong masyarakat ikut mengawasi pembangunan dan melaporkan apabila menemukan dugaan penyalahgunaan kewenangan.

Dua kegiatan tersebut menunjukkan bahwa membangun budaya antikorupsi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, lembaga antirasuah, sekolah, keluarga, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing.

Pada akhirnya, integritas memang tidak lahir dari satu kampanye. Ia terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.

Dari berani berkata jujur ketika tidak ada yang melihat. Dari menolak keuntungan yang bukan hak. Dari berani mengingatkan ketika menemukan sesuatu yang keliru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *