KabarJakarta.com – Selama ini, Balai Kota DKI Jakarta lebih dikenal sebagai pusat pemerintahan. Di tempat inilah gubernur bersama jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menjalankan berbagai urusan pemerintahan dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan kehidupan warga Ibu Kota.
Namun, suasana di dalam Balai Kota tidak lagi sepenuhnya menjadi sesuatu yang hanya bisa dilihat dari luar. Melalui program “Namu Balai Kota”, Pemprov DKI Jakarta membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat lebih dekat sejumlah ruang dan fasilitas yang selama ini digunakan dalam aktivitas pemerintahan.
Program tersebut dikemas dalam bentuk walking tour. Warga nantinya dapat mengikuti tur secara langsung di dalam kompleks Balai Kota dan melihat sejumlah ruangan yang selama ini identik dengan aktivitas gubernur dan jajaran Pemprov DKI.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan pembukaan akses tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan fasilitas pemerintahan lebih dekat dengan masyarakat.
“Saya minta Kepala Dinas Kominfotik, Ibu Dewi, untuk Balai Kota dan sarana-prasarana yang dimiliki Balai Kota, yang selama ini tertutup bagi publik, saya izinkan agar dibuka bagi publik,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat.
Kesempatan pertama mengikuti Namu Balai Kota dibuka pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Kunjungan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 17.30 WIB.
Masyarakat yang mengikuti tur akan dibagi ke dalam beberapa shift agar kegiatan berjalan tertib dan setiap peserta memiliki kesempatan menikmati pengalaman kunjungan.
Ada sejumlah ruang yang dapat dilihat masyarakat dalam tur tersebut. Salah satunya adalah ruang kerja gubernur, tempat gubernur menjalankan aktivitas pemerintahan sehari-hari.
Warga juga dapat melihat ruang rapat gubernur bersama jajaran serta sejumlah fasilitas lain yang menjadi bagian dari kegiatan resmi Pemprov DKI Jakarta.
Selain itu, terdapat ruang yang memiliki fungsi penting dalam berbagai agenda pemerintahan, termasuk tempat pelantikan pejabat dan kegiatan resmi lainnya.
“Ruangan gubernur, kemudian tempat untuk melakukan pelantikan. Juga Balairung, Balai Kota, dan sebagainya,” ujar Pramono.
Bagi masyarakat, kunjungan ini bukan sekadar berjalan-jalan melihat ruangan pemerintahan. Program Namu Balai Kota memberi kesempatan untuk memahami bahwa gedung pemerintahan memiliki berbagai fungsi yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik dan pengambilan kebijakan.
Balai Kota selama ini menjadi salah satu pusat berlangsungnya aktivitas pemerintahan DKI Jakarta. Di tempat tersebut, berbagai agenda gubernur dan jajaran Pemprov DKI dilaksanakan, mulai dari rapat, pertemuan, kegiatan pelayanan pemerintahan hingga acara resmi.
Karena itu, membuka sebagian area Balai Kota kepada masyarakat dapat menjadi cara untuk memperkenalkan lingkungan kerja pemerintahan secara lebih dekat. Warga tidak hanya mengetahui Balai Kota dari pemberitaan atau melihat bangunannya dari luar, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai ruang-ruang yang digunakan dalam menjalankan pemerintahan.
Pramono secara khusus melihat program ini dapat memberikan pengalaman bagi kalangan pelajar. Menurut dia, kunjungan langsung ke Balai Kota dapat membuka wawasan anak-anak mengenai dunia pemerintahan dan pekerjaan yang berlangsung di dalamnya.
“Sehingga dengan demikian, saya meyakini ini, terutama bagi anak-anak pelajar akan memberi inspirasi bagi mereka yang berkeinginan suatu hari bekerja di Balai Kota,” ungkapnya.
Harapan tersebut membuat Namu Balai Kota memiliki sisi edukasi. Pelajar dapat melihat langsung lingkungan kerja pemerintahan, mengenal berbagai ruang yang digunakan untuk menjalankan tugas negara di tingkat daerah, sekaligus mendapatkan pengalaman yang sulit diperoleh hanya melalui buku pelajaran.
Program ini juga tidak berhenti pada ruang-ruang yang sudah ditentukan. Pramono menyebut masih ada sejumlah fasilitas lain yang terbuka kemungkinan untuk diperkenalkan kepada masyarakat.
“Tentunya akan ada beberapa yang lain, saya persilakan untuk bisa dibuka kepada publik. Mudah-mudahan dengan demikian, ini akan menjadi lebih baik,” katanya.
Namu Balai Kota dijadwalkan berlangsung dua kali dalam sebulan. Informasi mengenai jadwal dan mekanisme kunjungan dapat diakses masyarakat melalui laman smartcity.jakarta.go.id dan aplikasi JAKI.
Dengan program tersebut, Balai Kota tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya aktivitas pemerintahan. Gedung yang selama ini identik dengan urusan birokrasi itu juga mendapat ruang baru sebagai tempat belajar dan mengenal pemerintahan secara langsung bagi warga Jakarta.
