KabarJakarta.com — Penggunaan transportasi umum di Jakarta masih menunjukkan tren pertumbuhan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat jumlah penumpang MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Transjakarta pada Agustus 2026 masing-masing tumbuh 1,80 persen, 9,94 persen, dan 7,19 persen secara tahunan.
Namun, jika dibandingkan dengan Juli 2026, pergerakannya tidak seragam. Penumpang MRT Jakarta turun 12,56 persen, sementara Transjakarta berkurang 5,82 persen. Hanya LRT Jakarta yang mencatat pertumbuhan, yakni 6,31 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan transportasi publik Jakarta tidak cukup dibaca hanya dari angka tahunan. Ada faktor musiman, aktivitas masyarakat, kebijakan tarif, hingga pola operasional yang ikut memengaruhi jumlah pengguna dari satu bulan ke bulan berikutnya.
MRT dan Transjakarta turun setelah Juli
Data BPS menunjukkan penumpang MRT Jakarta pada Juli mencapai sekitar 4,64 juta orang. Angka ini menjadi salah satu titik tinggi sepanjang tahun berjalan, setelah pada Juni tercatat sekitar 4,35 juta penumpang.
Pada Agustus, jumlah tersebut turun 12,56 persen secara bulanan. Dari sisi operasional, MRT juga mencatat 8.081 perjalanan, turun 2,74 persen dibandingkan Juli. Meski demikian, jumlah perjalanan masih meningkat tipis 0,01 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
Kendati demikian, penurunan penumpang MRT tidak semata-mata menunjukkan berkurangnya kemampuan layanan. Jumlah perjalanan memang ikut turun, tetapi skalanya jauh lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah penumpang. Ada kemungkinan perubahan aktivitas dan mobilitas masyarakat lebih berpengaruh terhadap angka pengguna.
Pola serupa terlihat pada Transjakarta. Pada Juli, jumlah penumpang mencapai sekitar 40,32 juta orang, setelah pada Juni mencapai 37,59 juta.
Karena itu, penurunan 5,82 persen pada Agustus perlu dibaca sebagai koreksi dari tingginya mobilitas pada Juli, bukan sebagai perubahan tren tahunan. Apalagi secara tahunan pengguna Transjakarta masih tumbuh 7,19 persen.
Faktor kalender dan pola aktivitas masyarakat juga patut diperhitungkan. Pada Juli terdapat masa libur sekolah yang dapat mengubah pola perjalanan keluarga dan aktivitas di berbagai kawasan Jakarta.
Sementara Agustus kembali memasuki pola aktivitas yang lebih normal. Namun, BPS tidak menyebutkan faktor tertentu sebagai penyebab langsung penurunan tersebut, sehingga penjelasan itu lebih tepat ditempatkan sebagai konteks, bukan kesimpulan kausal.
LRT justru bergerak naik
Berbeda dari dua moda tersebut, LRT Jakarta mencatat pertumbuhan penumpang 6,31 persen secara bulanan. Dari sisi operasi, LRT menjalankan 6.324 perjalanan, relatif tidak berubah dari bulan sebelumnya dan hanya meningkat 0,03 persen secara tahunan.
Dengan jumlah perjalanan yang nyaris sama tetapi penumpang meningkat, kenaikan pengguna LRT lebih mungkin berkaitan dengan tingkat keterisian perjalanan dan perubahan pola mobilitas, bukan karena penambahan perjalanan secara signifikan.
Momentum 17 Agustus juga menjadi salah satu konteks penting. Pemprov DKI memberlakukan tarif khusus Rp1 untuk MRT, LRT Jakarta, dan Transjakarta pada Hari Kemerdekaan. Pemerintah menyebut kebijakan tersebut ditujukan untuk mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.
Selain itu, pada 17 Agustus pemerintah melakukan rekayasa lalu lintas di sejumlah kawasan pusat Jakarta dan menganjurkan masyarakat menuju lokasi perayaan menggunakan transportasi umum. Layanan transportasi juga disesuaikan untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu konteks yang membantu menjelaskan kenaikan LRT pada Agustus. Tetapi lagi-lagi, belum ada data BPS yang secara khusus menghubungkan kenaikan 6,31 persen itu dengan kebijakan tarif Rp1 atau kegiatan HUT RI.
Armada Transjakarta lebih sedikit ketimbang tahun lalu
Persoalan lain terlihat pada jumlah armada Transjakarta. Pada Agustus 2026, sekitar 4.741 unit bus beroperasi. Jumlah tersebut naik 0,8 persen dibandingkan Juli, tetapi turun 6,17 persen dibandingkan Agustus 2025.
Dua angka itu sebenarnya tidak bertentangan. Kenaikan bulanan menunjukkan adanya penambahan armada yang dioperasikan dibanding Juli. Sementara penurunan tahunan menunjukkan bahwa jumlah bus yang aktif masih lebih rendah daripada kondisi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menariknya, jumlah penumpang justru meningkat 7,19 persen secara tahunan meski armada turun 6,17 persen. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pengguna tidak selalu harus diikuti pertumbuhan jumlah kendaraan secara proporsional. Faktor seperti efisiensi rute, tingkat okupansi, integrasi antarmoda, dan pola perjalanan dapat memengaruhi jumlah penumpang yang dilayani.
Transjakarta sendiri pada Agustus memperkuat kerja sama dengan operator transportasi lain untuk meningkatkan integrasi dan ketahanan layanan. Pemprov DKI menilai tantangan transportasi Jakarta bukan hanya memperluas jangkauan, tetapi juga memastikan konektivitas antarmoda dan akses first-mile serta last-mile.
Pada akhirnya, data Agustus memperlihatkan dua wajah transportasi publik Jakarta. Secara tahunan, masyarakat semakin banyak menggunakan MRT, LRT, dan Transjakarta. Namun secara bulanan, mobilitas pengguna sangat dinamis dan tidak bergerak seragam.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan transportasi publik bukan sekadar soal menambah bus atau perjalanan kereta. Tantangan berikutnya adalah memastikan layanan tetap menarik ketika pola aktivitas masyarakat berubah, terhubung dengan moda lain, dan mampu mempertahankan pertumbuhan pengguna secara konsisten.
