KabarJakarta.com – Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya akan memperluas jaringan perpipaan di Jakarta dengan membangun sekitar 7.000 kilometer (km) pipa baru dalam beberapa tahun ke depan. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengejar target cakupan layanan air perpipaan 100 persen pada 2029.
Direktur Teknik PAM Jaya Akhmad Santika mengungkapkan pembangunan jaringan baru akan dilakukan secara masif. Jika seluruh rencana tersebut terealisasi, total panjang jaringan pipa PAM Jaya akan bertambah dari sekitar 13.000 km menjadi 20.000 km.
“Pekerjaan pembangunan jaringan ke depan akan dibuat semakin masif,” kata Akhmad di Jakarta, Senin (10/8).
Menurut dia, penambahan jaringan pipa menjadi langkah penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan air perpipaan. Namun, besarnya skala pembangunan juga menghadirkan tantangan, terutama dalam hal pengawasan pekerjaan di lapangan.
Proyek tersebut melibatkan banyak perusahaan mitra kerja. Karena itu, PAM Jaya menilai pengawasan perlu diperkuat agar setiap pekerjaan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan, termasuk dari sisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Saat ini, PAM Jaya tengah menyusun sistem monitoring pekerjaan lapangan. Sistem tersebut disiapkan untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh perusahaan mitra yang terlibat dalam pembangunan jaringan pipa.
Akhmad menegaskan penerapan standar keselamatan kerja harus menjadi perhatian utama dalam setiap proyek. Menurut dia, peningkatan pembangunan jaringan tidak boleh mengurangi perhatian terhadap keselamatan para pekerja maupun masyarakat di sekitar lokasi proyek.
“Implementasi Standar Operasional Prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SOP K3) harus menjadi perhatian utama dalam setiap pekerjaan,” tegas Akhmad.
Selain memperkuat sistem pengawasan, PAM Jaya juga akan memasang identitas perusahaan mitra di setiap lokasi proyek. Identitas tersebut nantinya ditempatkan pada standar Pagar Proyek Daur Ulang (PPDU), pembatas, maupun barrier yang digunakan untuk mengamankan area pekerjaan.
Langkah tersebut diharapkan membuat pelaksanaan proyek lebih terbuka. Masyarakat dapat mengetahui perusahaan yang bertanggung jawab ketika melihat adanya pekerjaan pembangunan jaringan pipa di lingkungan mereka.
Akhmad juga menekankan bahwa keselamatan kerja bukan hanya menjadi tanggung jawab PAM Jaya atau perusahaan pelaksana proyek. Seluruh pihak yang terlibat harus memiliki komitmen yang sama dalam menjalankan standar K3.
“Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama, sehingga seluruh mitra harus mempunyai kepedulian yang sama terhadap penerapan K3 tanpa terkecuali,” ungkap Akhmad.
Sementara itu, Direktur Strategi dan Bisnis PAM Jaya Anugrah Esa menjelaskan pembangunan jaringan perpipaan memiliki tantangan yang cukup besar. PAM Jaya tidak hanya harus membangun jaringan baru, tetapi juga menangani jaringan pipa lama yang masih digunakan.
Esa menyebut sebagian jaringan perpipaan yang ada di Jakarta bahkan telah berusia lebih dari 100 tahun. Kondisi tersebut membuat pengelolaan jaringan membutuhkan perhatian khusus agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
Menurut Esa, kondisi tersebut menjadi alasan penerapan K3 harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam budaya kerja. Keselamatan tidak cukup hanya dipenuhi sebagai persyaratan dalam dokumen atau prosedur proyek.
“Penerapan K3 tidak boleh dipandang hanya sekadar kewajiban administratif, melainkan menjadi budaya kerja yang dijalankan secara konsisten,” ujar Esa.
Dengan pembangunan 7.000 km jaringan baru tersebut, PAM Jaya berharap cakupan layanan air perpipaan di Jakarta dapat terus meningkat hingga mencapai 100 persen pada 2029. Di saat yang sama, pengawasan proyek dan penerapan K3 menjadi bagian penting untuk memastikan pembangunan berjalan aman dan sesuai target.






