September Festival Sehat Jakarta Utara: Empat Agenda untuk Pangan, Hewan, Keluarga, dan Ekonomi Warga

Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara mengadakan September Festival Sehat 2026 di Plaza Barat Kantor Wali Kota setempat, Selasa (29/9). Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — September Festival Sehat 2026 di Jakarta Utara tidak sekadar menjadi kegiatan pelayanan masyarakat. Festival yang digelar Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara di Plaza Barat Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (29/9), merangkai 4 (empat) agenda yang saling berkaitan, yakni gerakan makan ikan (Gemarikan), pencegahan rabies melalui sterilisasi hewan penular rabies (HPR), bimbingan teknis diversifikasi olahan hasil pertanian, serta Cultura Market.

Keempat agenda tersebut dikemas dalam tema “Sinergi Gemarikan, Cegah Rabies, Bimtek, dan Cultura Market Menuju Jakarta Utara Sehat”. Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa konsep hidup sehat tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan manusia, tetapi juga menyentuh pola konsumsi pangan, kesehatan hewan dan lingkungan, keterampilan pengolahan pangan, hingga penguatan ekonomi keluarga.

Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat menjelaskan, pendekatan lintas sektor diperlukan agar berbagai persoalan tersebut dapat ditangani secara bersama-sama. Menurut dia, ketahanan pangan, kesehatan lingkungan, dan ekonomi masyarakat memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan.

“Tidak boleh lagi ada ego sektoral. Semua pihak harus bergerak bersama agar manfaatnya bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Hendra di Jakarta, Selasa (29/9).

Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah Gemarikan. Program ini diarahkan untuk membangun kebiasaan mengonsumsi ikan sejak usia dini, terutama bagi anak-anak. Sebagai wilayah pesisir, Jakarta Utara memiliki akses dan potensi hasil laut yang besar sehingga konsumsi ikan dinilai dapat menjadi bagian penting dari pola pangan keluarga.

Ketua TP PKK Jakarta Utara Fida Hendra berharap edukasi Gemarikan dalam festival tersebut menyasar sekitar 200 anak TK dan PAUD dari enam lembaga. Namun, pendekatannya tidak sekadar mengajak anak makan ikan secara langsung.

Anak-anak diperkenalkan dengan berbagai bentuk olahan ikan yang lebih dekat dengan selera mereka, seperti bakso, katsu, dan nugget. Cara tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan ikan sebagai pangan yang mudah dikonsumsi dan dapat diolah menjadi berbagai menu.

“Ikan itu kaya protein, DHA, omega-3, vitamin, dan mineral penting untuk tumbuh kembang anak. Konsumsinya memang perlu dibiasakan sejak dini,” kata Fida.

Persoalan gizi menjadi salah satu alasan pentingnya edukasi pangan sejak usia anak. Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menyebut terdapat sekitar 19.000 anak yang terindikasi stunting di Jakarta. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.080 anak berada di Jakarta Utara.

Pemprov DKI Jakarta menargetkan prevalensi stunting turun dari 17,4 persen menjadi 14,2 persen. Dalam konteks itu, Gemarikan menjadi salah satu upaya memperkenalkan sumber protein kepada keluarga sekaligus membangun kebiasaan pangan yang lebih baik.

Namun, festival sehat tersebut tidak hanya berbicara mengenai manusia. Aspek kesehatan hewan juga mendapat ruang melalui layanan sterilisasi HPR secara gratis.

Sebanyak 250 kucing menjadi target layanan sterilisasi, terdiri atas 150 kucing jantan dan 100 kucing betina. Pelaksanaannya dilakukan melalui kerja sama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Hendra mengapresiasi layanan tersebut karena pencegahan rabies berkaitan langsung dengan kesehatan lingkungan. DKI Jakarta sendiri mempertahankan status sebagai daerah bebas rabies sejak 2004.

Dengan menyediakan layanan sterilisasi secara gratis, pemerintah tidak hanya memberikan pelayanan kepada pemilik hewan, tetapi juga mendorong pengelolaan populasi hewan secara lebih bertanggung jawab. Edukasi dan tindakan pencegahan menjadi bagian dari upaya menjaga interaksi antara manusia dan hewan tetap aman.

Dua agenda lainnya membawa festival ini ke aspek keterampilan dan ekonomi. Melalui bimbingan teknis diversifikasi olahan hasil pertanian, masyarakat mendapatkan pengetahuan untuk mengolah komoditas pertanian menjadi produk dengan nilai tambah.

Pengolahan tersebut penting karena bahan pangan tidak selalu harus dijual dalam bentuk mentah. Dengan pengetahuan mengenai diversifikasi produk, hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi makanan olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Kegiatan itu kemudian terhubung dengan Cultura Market yang menghadirkan 22 pelaku usaha binaan Jakpreneur. Produk mereka dipromosikan dan diperkenalkan kepada masyarakat dalam satu rangkaian festival.

Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Utara Novy Christine Palit mengungkapkan, penyatuan berbagai kegiatan tersebut memang dirancang agar manfaat festival tidak berhenti pada satu bidang.

“Ini merupakan pola kolaborasi terintegrasi antarseksi yang akan memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat,” ujarnya.

Cultura Market dengan demikian menjadi ruang pertemuan antara aspek pangan dan ekonomi. Masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi mengenai pangan sehat, tetapi juga dapat melihat produk yang dihasilkan pelaku usaha lokal. Sementara bagi pelaku UKM, kegiatan tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan produk sekaligus membuka akses pasar.

Selain empat agenda utama tersebut, warga juga mendapatkan bibit tanaman gratis dan pemeriksaan kesehatan. Anak-anak memperoleh konsumsi serta bingkisan dari sejumlah mitra yang mendukung pelaksanaan kegiatan.

Hasudungan menilai penyatuan empat agenda dalam satu festival menjadi bentuk kolaborasi untuk memperkuat ketahanan pangan, kesehatan hewan, dan ekonomi masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Empat agenda menjadi satu rangkaian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, kesehatan hewan, dan ekonomi masyarakat,” katanya.

Rangkaian September Festival Sehat pada akhirnya menunjukkan bahwa isu kesehatan di tingkat masyarakat memiliki banyak pintu masuk. Anak yang dibiasakan mengonsumsi ikan berkaitan dengan pemenuhan gizi. Hewan yang mendapat layanan sterilisasi berkaitan dengan kesehatan lingkungan.

Hasil pertanian yang diolah menjadi produk bernilai tambah berkaitan dengan keterampilan dan ketahanan ekonomi. Sedangkan produk UKM yang dipasarkan melalui Cultura Market menghubungkan pangan dengan penguatan usaha warga.

Novy berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

“Ke depan, kami berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut setiap tahun, dengan melibatkan lebih banyak masyarakat,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *