KabarJakarta.com – Pagi itu, kawasan Hunian Sementara (Huntara) Senen, Jakarta Pusat, tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi warga yang sebelumnya menghuni kawasan pinggir rel. Di tengah keterbatasan lingkungan baru tersebut, sebuah ruang disiapkan agar anak-anak tetap bisa belajar, bermain, dan mendapatkan kesempatan pendidikan.
Ruang itu bernama Taman Bermain dan Belajar “Garuda Huntara”. Kehadirannya didorong oleh DPRD DKI Jakarta bersama Komite Nasional Pencegahan Stunting (KNPS) Indonesia sebagai upaya mencegah anak-anak di Huntara kehilangan akses pendidikan.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rani Mauliani menjelaskan taman belajar tersebut diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang mendukung pendidikan.
“Mudah-mudahan tempat ini bisa kita manfaatkan dan bermanfaat bagi anak-anak di Huntara,” kata Rani saat peresmian Taman Belajar dan Bermain “Garuda Huntara” di Huntara Senen, Jakarta, Sabtu (8/8).
Menurut Rani, kebutuhan terhadap ruang belajar menjadi penting karena penyelenggaraan pendidikan formal di kawasan Huntara belum dapat dilakukan dengan mudah. Salah satunya adalah penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang membutuhkan proses administrasi dan payung hukum.
Kondisi itu berkaitan dengan status kawasan Huntara yang hingga kini belum memiliki struktur RT/RW. Karena itu, pembangunan fasilitas pendidikan formal tidak bisa dilakukan secara langsung.
“Karena kalau kita mau membangun PAUD pasti ada payung hukumnya, ada prosesnya. Nggak bisa kita langsung bangun karena Huntara sendiri belum ada RT/RW-nya,” ujarnya.
Di tengah proses tersebut, Taman Belajar Garuda Huntara menjadi ruang alternatif yang dapat digunakan anak-anak untuk belajar. Tempat ini sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat dan relawan yang ingin ikut memberikan pelajaran.
Rani menyebut pihaknya terbuka terhadap kerja sama dengan berbagai pihak. Ia berharap taman belajar tersebut tidak berhenti sebagai tempat kegiatan sementara, tetapi dapat menjadi awal untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi.
“Kami terbuka kerja sama secara fleksibel. Mudah-mudahan wadah ini bisa jadi cikal bakal bahwa anak Indonesia, apa pun latar belakangnya, punya hak mendapatkan pendidikan dan tidak boleh ada yang putus sekolah,” kata Rani.
Ke depan, DPRD DKI Jakarta juga menjalin koordinasi dengan pihak terkait untuk membantu anak-anak di Huntara yang masih putus sekolah. Harapannya, mereka dapat kembali memperoleh pendidikan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Mengisi Kekosongan Pendidikan
Ketua Umum KNPS Indonesia David mengungkapkan keberadaan taman belajar bermula dari kebutuhan yang terlihat setelah pemerintah memindahkan warga dari kawasan pinggir rel Senen ke Huntara.
Menurut dia, pembangunan hunian telah menjawab kebutuhan tempat tinggal warga. Namun, ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting, terutama bagi anak-anak.
“Sebagai organisasi yang selalu menyukseskan program Bapak Presiden, kami melihat ketika Bapak Presiden membangunkan Huntara ini dari Senen (pinggir rel kereta) ke sini, ada kekosongan yaitu pendidikan. Dari situlah KNPS berperan aktif mengisi kekosongan itu,” ujar David.
KNPS menyiapkan sejumlah kegiatan pendidikan yang akan dilakukan secara berkala. Pendongeng dan guru mengaji direncanakan hadir sebulan sekali. Sementara kegiatan PAUD akan dijadwalkan dua kali dalam sepekan.
“Berkat arahan Bu Rani, kita sebulan sekali akan kirimkan pendongeng, guru ngaji, dan PAUD-nya seminggu 2 kali kita jadwalkan. Kalau bisa 3 kali kita jadwalkan, kita akan bentuk relawan-relawan untuk mengajar,” paparnya.
Program di Huntara tidak hanya menyasar anak-anak. KNPS juga akan memberikan edukasi kepada ibu hamil mengenai pencegahan stunting serta pentingnya pemenuhan gizi.
Huntara Senen saat ini dihuni 69 kepala keluarga dengan total 324 unit hunian. Di tengah kehidupan baru tersebut, keberadaan Taman Belajar Garuda Huntara menjadi pengingat bahwa pemenuhan kebutuhan warga tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal.
Bagi anak-anak, ruang belajar itu diharapkan menjadi jembatan agar mereka tetap dekat dengan pendidikan. Sebab, perpindahan tempat tinggal seharusnya tidak membuat mereka kehilangan kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan merencanakan masa depan.






