KabarJakarta.com – Pengelolaan sampah di Jakarta Barat mulai diarahkan tidak hanya pada pengurangan volume sampah, tetapi juga pemanfaatan kembali material yang masih bisa diolah. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat tengah menjajaki kerja sama dengan pihak swasta yang memiliki teknologi dan kompetensi dalam mengolah sampah anorganik menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah menjelaskan, penjajakan kerja sama tersebut dilakukan setelah pihaknya mengevaluasi pengelolaan sampah di sejumlah lokasi, termasuk TPS 3R RW 01 Meruya Selatan. Menurutnya, teknologi pengolahan sampah diperlukan agar material yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomis tetap dapat dimanfaatkan.
“Ke depan kita akan rapat untuk membahas teknologi ini dan kerja samanya, agar bisa segera diimplementasikan,” kata Iin saat mengunjungi TPS3R RW 01 Meruya Selatan yang dikelola Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Jumat.
Iin menjelaskan, salah satu pilihan pengolahan sampah anorganik adalah menjadikannya bahan bakar alternatif berupa refuse-derived fuel (RDF). Material tersebut juga dapat digunakan sebagai bahan baku briket untuk kebutuhan industri semen.
Langkah tersebut dinilai penting karena tidak semua sampah anorganik memiliki nilai jual di tingkat masyarakat. Dengan teknologi yang tepat, sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan dapat dialihkan menjadi bahan yang kembali digunakan untuk kebutuhan industri.
Sementara itu, sampah organik di TPS 3R Meruya Selatan telah diolah menjadi kompos. Namun, Iin menilai proses tersebut masih menghadapi persoalan karena sampah organik yang masuk belum sepenuhnya bersih dari campuran sampah anorganik.
“Sampah organik telah diolah menjadi kompos. Tapi kualitas kompos masih perlu ditingkatkan, karena bahan organik yang masuk masih tercampur dengan sampah anorganik,” ujarnya.
Selain TPS 3R Meruya Selatan, Iin mengevaluasi pengelolaan sampah di Kompleks Puri Indah Blok B, RT 06/RW 08, Kelurahan Kembangan Selatan. Di kawasan tersebut, warga telah menjalankan pemilahan sampah organik dan anorganik selama kurang lebih dua tahun.
Menurut Iin, kebiasaan warga memilah sampah sejak dari sumber merupakan langkah penting dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Ia pun mengapresiasi keterlibatan masyarakat yang secara konsisten menjalankan pemilahan.
Meski demikian, pengolahan sampah organik menjadi kompos di kawasan tersebut masih membutuhkan penguatan. Bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga edukasi kepada warga serta keterlibatan berbagai pihak.
“Mengelola sampah organik untuk menjadi pupuk kompos tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Butuh waktu disertai edukasi berkelanjutan, sekaligus intervensi dari sejumlah komponen masyarakat,” kata Iin.
Di sisi lain, pengelolaan sampah anorganik di Kompleks Puri Indah melibatkan Komunitas Sirsak. Komunitas tersebut secara rutin bekerja sama dengan warga dan pihak swasta dalam menangani sampah yang telah dipilah.
Kolaborasi itu menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya oleh pemerintah. Peran warga, komunitas, pelaku usaha, dan penyedia teknologi dibutuhkan agar pemilahan dari rumah dapat terhubung dengan sistem pengolahan yang lebih efektif.
Bagi Jakarta Barat, penguatan kolaborasi tersebut menjadi bagian penting untuk mendorong sampah tidak sekadar dibuang, tetapi diolah menjadi sesuatu yang kembali memiliki manfaat. Dengan dukungan teknologi dan perubahan kebiasaan masyarakat, sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai pun berpeluang masuk kembali ke dalam rantai pemanfaatan.






