RSUD Cipayung Perkuat Gerakan Pilah Sampah dari Sumber

Ilustrasi - Ruang IGD RSUD Cipayung Jakarta Timur, terlihat lengang, Jumat (28/5/2021). Foto: Anisyah Rahmawati.

KabarJakarta.com — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cipayung, Jakarta Timur, berkomitmen memperkuat penerapan pemilahan sampah dari sumber. Langkah ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan rumah sakit yang bersih, sehat, sekaligus mendukung upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengurangi persoalan sampah.

Direktur RSUD Cipayung Agustina menjelaskan rumah sakit memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Menurut dia, lingkungan rumah sakit juga harus menjadi contoh dalam penerapan perilaku hidup bersih dan pengelolaan sampah.

“Rumah sakit tak hanya berperan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung gerakan pengurangan sampah dan pelestarian lingkungan di Jakarta,” kata Agustina di Jakarta, Jumat (11/8).

Komitmen tersebut sejalan dengan Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

Diawali edukasi

Agustina mengungkapkan penerapan gerakan tersebut diawali dengan sosialisasi yang dilakukan Komisi Informasi (KI) DKI Jakarta. Kegiatan itu memberikan pemahaman sekaligus arahan kepada jajaran RSUD Cipayung mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari tempat sampah pertama.

Menurut Agustina, sosialisasi tidak hanya memberikan pengetahuan baru. Materi yang disampaikan juga menjadi dorongan bagi pegawai rumah sakit untuk lebih aktif membangun kebiasaan memilah sampah dalam aktivitas sehari-hari.

“Materi yang disampaikan dalam sosialisasi tak hanya menambah wawasan, namun juga menjadi motivasi bagi jajaran RSUD Cipayung agar semakin aktif menerapkan budaya pemilahan sampah di lingkungan rumah sakit,” ujarnya.

Dia menilai pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari budaya kerja. Karena itu, tanggung jawab menjaga kebersihan tidak boleh hanya dibebankan kepada petugas kebersihan.

Agustina berharap edukasi tentang pemilahan sampah dapat dilakukan secara terus-menerus. Dengan begitu, kebiasaan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi bagian dari keseharian pegawai maupun masyarakat yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Kami bersyukur mendapat kesempatan memperoleh arahan langsung dari KI DKI Jakarta. Sosialisasi ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan kerja masing-masing,” katanya.

Sampah tanggung jawab bersama

Ketua KI DKI Jakarta Harry Ara Hutabarat menjelaskan kesadaran untuk memilah sampah tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Menurut dia, masyarakat membutuhkan edukasi dan informasi yang mudah dipahami serta dapat diakses secara luas.

Harry menegaskan persoalan sampah tidak dapat lagi hanya dianggap sebagai urusan pemerintah. Seluruh lapisan masyarakat, termasuk badan publik dan institusi pelayanan, perlu mengambil bagian dalam pengelolaannya.

“Masalah sampah bukan hanya masalah pemerintah saja, tapi masalah kita semua. Apa yang terjadi hari ini, merupakan hasil dari kebiasaan yang kita lakukan setiap hari,” kata Harry.

Dia menjelaskan Ingub Nomor 5 Tahun 2026 menjadi salah satu langkah konkret untuk menghadapi persoalan sampah yang semakin besar di Jakarta. Volume sampah yang terus bertambah membuat upaya pengurangan dari sumber menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Harry juga menyoroti risiko yang dapat muncul dari penumpukan sampah organik. Salah satunya adalah produksi gas metana yang dapat meningkatkan risiko kebakaran di lokasi pengelolaan sampah.

Menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi peringatan bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan kota, tetapi juga dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan dan keselamatan.

“Ini bisa jadi bom waktu yang bisa menimbulkan persoalan lebih besar. Karena itu, kita tidak bisa membiarkan kondisi ini berjalan begitu saja,” ujarnya.

Harry menilai pemilahan dari sumber merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di hilir. Namun, perubahan kebiasaan membutuhkan waktu sehingga edukasi harus dilakukan secara konsisten.

“Edukasi itu tidak bisa ‘simsalabim’. Hari ini sosialisasi, lalu besok semua orang langsung milah sampah. Itu tidak mungkin. Harus ada proses, ada pemahaman, dan perlu contoh yang terus-menerus diberikan,” kata Harry.

Dia pun mengajak seluruh badan publik ikut menyukseskan gerakan tersebut. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan memilah sampah sejak dari sumber diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang akhirnya dibawa ke tempat pembuangan akhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *