Sampah Menumpuk di Kedaung Kaliangke, Warga Khawatir Picu Banjir

Sampah menumpuk di kawasan RT 04/RW 03, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (7/8/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Tumpukan sampah kembali dikeluhkan warga di kawasan RT 04/RW 03, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat. Sampah yang didominasi limbah rumah tangga itu menumpuk hingga hampir menyamai atap bangunan tak berpenghuni di sekitar lokasi.

Pantauan di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB, tumpukan sampah terlihat memenuhi area yang selama ini digunakan sebagai tempat pembuangan sementara. Kondisi tersebut menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu aktivitas warga.

Akses menuju sebuah sekolah dasar yang berada tidak jauh dari lokasi juga ikut terdampak. Warga dan anak-anak yang hendak menuju sekolah harus melintas di sekitar tumpukan sampah.

Sejumlah petugas kebersihan terlihat berupaya mengurangi tumpukan tersebut. Dengan peralatan yang tersedia, mereka memindahkan sampah sedikit demi sedikit ke dalam truk untuk selanjutnya dibawa ke tempat pembuangan akhir.

Lili, warga sekitar, mengungkapkan penumpukan sampah sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Meski khawatir dengan kondisinya, warga tetap harus menjalani aktivitas di tengah lingkungan yang dipenuhi sampah.

“Ya, khawatir, sebenarnya. Cuma mau bagaimana lagi, memang sudah biasa seperti ini tiap harinya. Tapi kalau mau dibersihin, lebih bagus,” ujar Lili kepada wartawan, Jumat.

Menurut Lili, persoalan tersebut bukan baru pertama terjadi. Lokasi tersebut sebelumnya memang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah sementara. Namun, mekanisme pengangkutan sampah kini berbeda dibandingkan sebelumnya.

“Kalau dulu, dari gerobak langsung diambil mobil, jadi enggak ditumpuk. Sekarang, sudah sekitar dua bulan begini,” tuturnya.

Lili menjelaskan bau menyengat menjadi dampak yang paling dirasakan warga. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena lokasi tumpukan sampah berada dekat dengan jalur yang dilalui anak-anak menuju sekolah.

“Ya, bau, lah. Anak-anak juga kan enggak sehat kalau dekat sampah. Tapi kita mau enggak mau harus tetap jalanin,” ucapnya.

Selain persoalan kebersihan dan bau, warga juga mencemaskan dampak tumpukan sampah ketika hujan turun. Sampah yang tidak segera diangkut dikhawatirkan berserakan dan terbawa aliran air hingga menutup saluran atau memenuhi jalan.

“Harapannya, ya, buru-buru ditanggulangi. Jangan sampai sampahnya bleber ke jalan. Saya takut nanti kalau hujan hanyut dan bikin banjir,” ungkap Lili.

Menanggapi keluhan warga, Lurah Kedaung Kaliangke Ghufri Fatchani menjelaskan bahwa penumpukan terjadi karena adanya gangguan dalam distribusi pengangkutan sampah menuju TPST Bantar Gebang.

Ghufri mengungkapkan lokasi tersebut sebenarnya sempat dikosongkan karena berada di atas lahan milik Kementerian Agama. Lahan itu rencananya akan dimanfaatkan untuk pembangunan sehingga tidak lagi digunakan sebagai lokasi penumpukan sampah.

“Namun, setelah ada masalah di Bantar Gebang, penumpukan terjadi lagi sehingga sampah kembali menumpuk di lokasi ini,” tutur Ghufri.

Pihak kelurahan, lanjut Ghufri, terus mendorong warga agar memilah sampah sejak dari rumah. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi volume sampah yang harus diangkut.

Meski demikian, penerapannya belum merata. Salah satu wilayah yang dinilai berhasil mengurangi sampah adalah RT 03/RW 03. Warga di kawasan tersebut telah menjalankan pengolahan sampah organik menggunakan maggot, composting, serta bank sampah.

“Salah satu yang sudah berjalan baik ada di RT 3 RW 3. Mereka sudah melaksanakan maggot, composting, dan bank sampah, sehingga volume sampah yang dibuang berkurang,” terang Ghufri.

Untuk mengatasi kondisi saat ini, Ghufri menargetkan seluruh sampah di lokasi tersebut dapat diangkut dalam dua hingga tiga hari. Setelah lokasi dikosongkan, sistem pengangkutan akan diubah agar sampah tidak kembali menumpuk.

“Kami sudah meminta Sudin Lingkungan Hidup untuk mengosongkan wilayah ini dari sampah. Nantinya, gerobak sampah dari RT langsung bertemu dengan truk pengangkut, sehingga tidak ada lagi penumpukan di sini,” imbuh Ghufri.

Perubahan sistem tersebut diharapkan dapat mencegah lokasi kembali menjadi titik penumpukan sampah sekaligus mengurangi dampaknya terhadap warga dan anak-anak yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *