KabarJakarta.com — Bank Jakarta memperluas akses pembiayaan bagi pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, melalui program kredit massal. Langkah ini ditujukan untuk membantu pelaku usaha mikro memperoleh tambahan modal, menjaga keberlangsungan usaha, sekaligus meningkatkan skala bisnis.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo menjelaskan, pendekatan pembiayaan harus dibuat lebih dekat dengan kebutuhan pedagang. Bank tidak ingin pelaku usaha harus menghabiskan waktu mencari layanan perbankan untuk mendapatkan modal.
“Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari pinjaman bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan benar-benar hadir di tengah-tengah pedagang,” kata Agus di Jakarta, Selasa (1/9).
Menurut dia, Bank Jakarta menyiapkan dua skema pembiayaan bagi pedagang, yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan Non-KUR. Kedua pilihan tersebut disiapkan untuk menyesuaikan kebutuhan serta kemampuan pelaku usaha dalam mengakses permodalan.
Untuk KUR, pedagang dapat memperoleh pinjaman dengan plafon hingga Rp100 juta. Salah satu kemudahan yang ditawarkan dalam program tersebut adalah pembiayaan tanpa jaminan.
Sementara itu, pedagang yang membutuhkan plafon lebih besar dapat memanfaatkan program Non-KUR. Dalam skema ini, lapak dagangan dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh pembiayaan.
Plafon pinjaman melalui program Non-KUR mencapai Rp500 juta dengan bunga sekitar 10 persen per tahun. Skema tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi pedagang untuk menambah modal kerja maupun mengembangkan kegiatan usahanya.
Agus menegaskan, keberhasilan program pembiayaan tidak semata-mata dilihat dari jumlah kredit yang berhasil disalurkan kepada pedagang. Menurut dia, dampak pembiayaan terhadap perkembangan usaha menjadi ukuran yang lebih penting.
“Bagi Bank Jakarta, keberhasilan bukan diukur dari seberapa besar kredit yang dikucurkan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pembiayaan membuat usaha pedagang berkembang, omzet bertambah, lapangan kerja tercipta dan semakin banyak pelaku UMKM Jakarta naik kelas,” ujarnya.
Program pembiayaan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperluas akses keuangan formal bagi pelaku usaha mikro. Pemprov DKI mendorong kolaborasi Bank Jakarta dengan Perumda Pasar Jaya untuk menjangkau pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.
Pasar Induk Kramat Jati menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan yang melibatkan banyak pelaku usaha. Dengan akses pembiayaan yang lebih mudah, pedagang diharapkan memiliki kemampuan untuk mempertahankan usaha sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan di Jakarta. Pembiayaan formal dinilai dapat menjadi salah satu instrumen bagi UMKM untuk berkembang, terutama bagi pedagang yang selama ini menghadapi keterbatasan modal.
Melalui program ini, Bank Jakarta dan Pemprov DKI Jakarta berharap semakin banyak pedagang dapat memperoleh modal dari lembaga keuangan formal dan secara bertahap mengembangkan usahanya.






