Karya Raya 2026: Saat Anak-Anak Menemukan Ruang untuk Menulis dan Bermimpi

Pelaksanaan Karya Raya Tahun 2026 menghasilkan sebanyak 2.053 buku yang dibuat oleh tidak hanya anak-anak dari Jakarta, tapi juga provinsi lain di Indonesia. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com —  Di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin akrab dengan layar ponsel, muncul sebuah ruang yang mengajak mereka kembali berhadapan dengan kertas, kata, dan cerita. Karya Raya 2026 menjadi salah satu ruang tersebut.

Tahun ini, sebanyak 2.053 karya buku berhasil dihimpun melalui Karya Raya. Menariknya, karya itu tidak hanya datang dari anak-anak di Jakarta. Peserta dari berbagai daerah, mulai dari Bali, Surabaya hingga Nusa Tenggara Timur, turut mengirimkan karya mereka.

Bagi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, jumlah tersebut bukan sekadar angka. Yang lebih penting adalah keberanian anak-anak untuk mulai menulis.

“Saat mereka berani menulis, biasanya ide-ide baru banyak yang muncul dari sana. Dari kegiatan menulis, mereka pasti akan membaca,” ujar Nasruddin saat pameran buku Karya Raya 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (3/10).

Karya Raya pertama kali digelar pada 2023. Saat itu, terkumpul 638 karya. Setahun kemudian jumlahnya melonjak menjadi 1.081 karya. Pada 2025, jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 1.870 karya. Tahun ini, angkanya mencapai 2.053 karya, atau meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Diki Lukman Hakim, melihat peningkatan itu sebagai tanda bahwa semakin banyak anak membutuhkan ruang untuk menuangkan gagasan.

“Dari tahun ke tahun jumlah karya yang terkumpul semakin banyak dan bertambah,” katanya.

Bukan sekadar membuat buku

Karya Raya tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan tulisan anak. Buku-buku tersebut dipamerkan dan sebagian ditempatkan di Karya Raya Corner di Perpustakaan Jakarta. Sebanyak 2.053 buku juga dibagikan ke 250 sekolah, baik negeri maupun swasta.

Langkah ini penting karena persoalan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca. Anak-anak juga membutuhkan kesempatan untuk menggunakan kemampuan tersebut: membaca, berpikir, membayangkan, lalu mengubah gagasan menjadi tulisan.

Diki menjelaskan, anak-anak membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka merasa aman ketika berekspresi.

“Mereka membutuhkan ruang yang aman, lingkungan yang mendukung, dan orang-orang dewasa yang percaya pada mereka,” tuturnya.

Karya yang dikirimkan dalam Karya Raya 2026 pun menunjukkan bahwa dunia anak tidak hanya berisi cerita imajinasi. Tulisan dapat menjadi tempat mereka menceritakan pengalaman, realitas di sekitar, gagasan, bahkan keluh kesah.

Di titik inilah kegiatan seperti Karya Raya memiliki arti lebih luas. Anak tidak hanya ditempatkan sebagai pembaca buku, tetapi juga sebagai pencipta pengetahuan dan cerita.

Tantangan membuat anak akrab dengan buku

Namun, membuat anak dekat dengan buku bukan pekerjaan mudah. Anak-anak hari ini hidup dalam lingkungan yang menawarkan hiburan instan melalui video pendek, gim, media sosial, dan berbagai konten digital.

Buku membutuhkan waktu. Membaca membutuhkan perhatian yang lebih panjang. Menulis bahkan menuntut keberanian untuk berpikir dan menyusun gagasan sendiri.

Persoalan ini menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan posisi literasi Indonesia dalam berbagai pengukuran internasional. Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.

Ini menunjukkan, tantangannya bukan sekadar membuat anak mau membuka buku, tetapi memastikan mereka mampu memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibacanya.

Dalam era banjir informasi, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Anak yang tidak terbiasa membaca secara mendalam akan lebih mudah menerima informasi tanpa memeriksa kebenarannya.

Karena itu, membangun budaya membaca tidak cukup dengan menambah jumlah buku atau membuat perpustakaan. Anak harus diberi alasan untuk mencintai buku dan ruang untuk menghubungkan buku dengan kehidupannya sendiri.

Karya Raya mencoba mengambil bagian dari proses tersebut. Ernest Junius Wiyanto, Co Founder Karya Raya, membeberkan tentang kualitas karya peserta yang terus berkembang.

“Kami ingin mereka bisa tumbuh akrab dengan buku, agar memiliki literasi yang baik,” ujarnya.

Ke depan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta bahkan mengkaji kemungkinan menghadirkan Karya Raya Corner di ruang publik lain, termasuk fasilitas transportasi seperti MRT dan LRT. Gagasannya sederhana: membawa buku dan karya anak mendekati masyarakat.

Sebab, mungkin yang dibutuhkan seorang anak untuk mulai membaca bukanlah ceramah panjang tentang pentingnya literasi. Bisa jadi, mereka hanya membutuhkan sebuah buku, sebuah ruang yang aman, dan seseorang yang percaya bahwa cerita mereka layak untuk dibaca.

Karya Raya 2026 menunjukkan satu hal penting: ketika ruang itu tersedia, anak-anak ternyata punya banyak cerita untuk ditulis.

Exit mobile version