KabarJakarta.com — Sebanyak 84,99 persen perempuan berusia lima tahun ke atas di Jakarta tercatat telah mengakses internet dalam tiga bulan terakhir pada 2023. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan di Ibu Kota sudah terhubung dengan ruang digital.
Namun, keterhubungan tersebut bukanlah tujuan akhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi benar-benar memberi manfaat bagi kehidupan perempuan, bukan sekadar menjadi alat untuk mengonsumsi informasi dan berkomunikasi.
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, mengingatkan agar perempuan perlu didorong dalam memanfaatkan teknologi secara produktif, aman, kreatif, dan menghasilkan nilai tambah.
“Tantangan hari ini, bukan lagi sekadar bagaimana perempuan bisa terhubung dengan teknologi, tetapi memastikan perempuan mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, aman, kreatif, dan memberikan nilai tambah,” ujar Dwi dalam Pelatihan HerTech: Perempuan Berdaya AI, Sabtu (3/10).
Pernyataan tersebut menjadi semakin relevan ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai masuk ke berbagai sisi kehidupan. AI tidak lagi sebatas teknologi yang dibicarakan di perusahaan teknologi atau dunia penelitian. Teknologi ini mulai digunakan untuk membantu pekerjaan, mencari informasi, membuat materi pemasaran, menghasilkan konten, mendukung proses belajar, hingga memberikan layanan kepada masyarakat.
Dalam situasi tersebut, perempuan menghadapi peluang sekaligus tantangan. Akses internet yang tinggi perlu dilanjutkan dengan kemampuan menggunakan teknologi secara cerdas. Perempuan tidak cukup hanya menjadi pengguna, tetapi perlu berkembang menjadi pencipta nilai, inovator, dan bagian dari talenta digital Jakarta.
AI dan peluang baru bagi perempuan
Dwi menjelaskan, AI dapat dimanfaatkan perempuan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang dapat dibantu dengan teknologi, mulai dari mengolah informasi, membuat rancangan tulisan, menyusun ide, menganalisis data hingga membantu pekerjaan administratif.
Bagi perempuan yang menjalankan usaha, AI juga dapat digunakan untuk mengembangkan pemasaran. Pelaku usaha dapat memanfaatkannya untuk mencari ide konten, menyusun materi promosi, mengenali kebutuhan konsumen, hingga membantu membuat strategi komunikasi yang lebih sesuai dengan target pasar.
Peluang lainnya terdapat pada sektor kreatif. AI dapat membantu menghasilkan gagasan, membuat konsep visual, menyusun naskah, mengembangkan materi media sosial, maupun mempercepat proses produksi konten. Di bidang pendidikan, AI dapat menjadi alat untuk mencari pengetahuan dan membantu proses pembelajaran.
“Melalui AI, perempuan kini bisa meningkatkan produktivitas kerja, mengembangkan usaha dan pemasaran, menghasilkan konten kreatif, memperoleh informasi hingga pengetahuan dengan lebih cepat, termasuk membuka peluang-peluang ekonomi baru,” kata Dwi.
Perubahan ini membuat kemampuan menggunakan AI berpotensi menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi pasar kerja dan ekonomi digital. Perempuan yang mampu memahami teknologi dan menggunakannya secara tepat memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan pekerjaan, usaha maupun keterampilan baru.
Tetapi kemampuan teknis saja tidak cukup. Semakin mudah teknologi digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap kemampuan berpikir kritis.
Cerdas menggunakan, bukan sekadar mencoba
Kemudahan AI juga membawa risiko. Informasi yang dihasilkan sistem AI tidak selalu benar. Ada kemungkinan muncul informasi keliru, bias, manipulasi maupun persoalan terkait perlindungan data pribadi.
Karena itu, literasi AI perlu berjalan bersama dengan literasi digital. Pengguna harus memahami kapan informasi perlu diverifikasi, data apa yang aman untuk dibagikan, serta bagaimana menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab.
HerTech dirancang dengan pendekatan tersebut. Pelatihan ini tidak hanya memperkenalkan perangkat dan aplikasi AI, tetapi juga mengajak peserta memahami cara menggunakannya untuk mendukung pekerjaan, usaha, organisasi, keluarga dan kehidupan sehari-hari.
Ketua Umum BKOW Provinsi DKI Jakarta, Dewi Indriati Rano Karno, menjelaskan peningkatan literasi digital menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas perempuan menghadapi perubahan teknologi.
“Literasi digital penting agar perempuan tak hanya mampu memanfaatkan teknologi, namun memahami manfaat dan risiko serta menggunakannya secara produktif, aman, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peserta pelatihan. Perempuan yang telah memiliki kemampuan menggunakan AI dapat menjadi penghubung pengetahuan di lingkungan masing-masing, baik dalam organisasi, tempat kerja maupun keluarga.
Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menilai kemampuan memahami AI juga penting dalam keluarga. Perempuan dapat berperan dalam mendampingi anak dan anggota keluarga lainnya memahami cara kerja teknologi sekaligus mengenali manfaat dan risikonya.
Dengan demikian, pemberdayaan digital tidak berhenti pada kemampuan menggunakan sebuah aplikasi. Tujuannya adalah membangun kepercayaan diri, daya kritis dan kemampuan menciptakan manfaat dari teknologi.
Menyiapkan manusia untuk kota global
Agenda tersebut juga berkaitan dengan ambisi Jakarta menjadi kota global. Pemprov DKI Jakarta melalui Jakarta RISE#20 menargetkan Jakarta masuk dalam 20 kota global teratas dunia pada 2045.
Dwi menyebut posisi Jakarta dalam Global Cities Index meningkat dari peringkat ke-74 pada 2024 menjadi peringkat ke-71 pada 2025. Namun, kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari gedung, infrastruktur atau pertumbuhan ekonominya.
Kualitas manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting. “Menuju Top 20 Global City bukan hanya tentang seberapa maju kotanya, tapi tentang seberapa siap manusianya. Dan perempuan haruslah menjadi bagian penting dari perjalanan Jakarta,” tegas Dwi.
Di sinilah pemanfaatan AI menjadi bagian dari agenda yang lebih besar. Jakarta membutuhkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi. Perempuan, dengan jumlah yang besar dalam struktur masyarakat, memiliki posisi strategis dalam proses tersebut.
Perempuan yang menguasai teknologi dapat menjadi pekerja yang lebih produktif, pelaku usaha yang lebih adaptif, kreator yang lebih inovatif, sekaligus bagian dari ekosistem digital yang terus berkembang.
Harapannya, pengetahuan tentang AI tidak berhenti di ruang pelatihan. Peserta membawa pulang keterampilan, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, lalu membagikannya kepada perempuan lain.
Sebab, ukuran keberhasilan transformasi digital bukan hanya berapa banyak orang yang terkoneksi dengan internet. Yang lebih penting adalah seberapa mampu masyarakat mengubah teknologi menjadi pengetahuan, produktivitas, kreativitas dan peluang ekonomi.
Bagi Jakarta, kesiapan perempuan dalam menghadapi AI pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknologi. Ini merupakan bagian dari investasi sumber daya manusia untuk membangun kota yang inklusif, berdaya saing dan berkelanjutan.
