KabarJakarta.com – Perubahan teknologi kini tidak lagi berjalan pelan. Dalam hitungan detik, algoritma media sosial berubah, mesin pencari berkembang, dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil peran dalam kehidupan sehari-hari. Informasi yang dahulu dicari dengan mengetik kata kunci, kini bisa langsung disajikan dalam bentuk jawaban.
Di tengah perubahan itu, muncul pertanyaan penting: apa yang harus dilakukan media dan jurnalis ketika mesin mampu menghasilkan informasi dalam jumlah sangat besar?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan praktisi media Upi Asmaradhana saat menyampaikan materi bertajuk “Media di Era Artificial Intelligence: Menjaga Integritas Informasi di Tengah Banjir Konten Digital.” yang diadakan DPP Wahdah Islamiyah di Jakarta, Selasa (18/8).
Menurut Upi, masyarakat saat ini hidup dalam era perubahan yang sangat cepat. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci untuk bertahan.
“Bukan orang besar, bukan orang kaya yang bisa bertahan sebenarnya. Tapi orang yang bisa bertahan adalah orang-orang yang bisa beradaptasi dengan perubahan,” ujar Upi yang juga Ketua Umum Generasi Digital Indonesia.
Ia menilai perkembangan AI tidak hanya mengubah cara orang memperoleh informasi, tetapi juga memengaruhi cara media bekerja. Mesin pencari yang sebelumnya berfungsi sebagai alat untuk menemukan informasi kini berkembang menjadi mesin yang mampu memberikan jawaban secara langsung.
Perubahan tersebut membuat media tidak cukup hanya memproduksi berita sebanyak-banyaknya. Konten harus memiliki otoritas, relevansi, dan tingkat kepercayaan yang tinggi agar tetap menjadi rujukan.
“AI backbone, AI engine itu sekarang sudah berfungsi bukan lagi sebagai pencari. Tapi dia memberi jawaban,” katanya.
Dari SEO ke era mesin generatif
Menurut Upi, perubahan tersebut juga terlihat dalam strategi media digital. Jika sebelumnya media berlomba mengejar peringkat melalui search engine optimization (SEO), kini perhatian mulai bergeser pada optimasi untuk mesin generatif atau generative engine optimization (GEO).
Artinya, media perlu memproduksi konten yang tidak hanya mudah ditemukan manusia, tetapi juga dapat dipahami dan dirujuk oleh sistem AI.
Ini menunjukkan bahwa kualitas informasi menjadi semakin penting. Sebab, banjir konten tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang melek terinformasi. Sebaliknya, masyarakat akan semakin sulit membedakan fakta, opini, manipulasi, dan informasi yang sengaja dibuat untuk memengaruhi persepsi.
Upi menyebut kondisi tersebut sebagai era “ilusi kebenaran”, ketika informasi yang berulang-ulang muncul dapat dianggap benar meskipun belum tentu memiliki dasar yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan.
“Jadi, kebenaran itu menjadi kegila benaran. Dan kegila benaran itu menjadi benar. Itu bahaya banget,” ujarnya.
Menurut dia, salah satu dampaknya adalah meningkatnya disinformasi, turunnya kepercayaan publik terhadap media, serta semakin kuatnya polarisasi dan bias informasi.
AI bisa menjawab tapi tak bertanggung jawab
Perkembangan AI juga memunculkan tantangan baru bagi jurnalisme. Mesin dapat memberikan jawaban dengan cepat, menyusun informasi, merangkum data, bahkan memprediksi kemungkinan berdasarkan data yang tersedia.
Namun, kemampuan tersebut tidak serta-merta menjadikan AI sebagai pengganti jurnalis. Upi menegaskan, perbedaan mendasar antara AI dan jurnalisme terletak pada tanggung jawab terhadap publik.
“AI dapat membantu mengeluarkan informasi. Tapi jurnalisme menentukan apakah informasi itu layak dikomsumsi oleh publik,” katanya.
Jurnalis tidak sekadar bertanya apakah sebuah informasi benar atau menarik. Ada proses verifikasi, pengecekan fakta, penelusuran sumber, serta pertimbangan mengenai dampak informasi tersebut bagi masyarakat.
Karena itu, jurnalisme memiliki fungsi yang tidak dapat begitu saja diserahkan kepada mesin, yakni melayani kepentingan publik.
Dalam praktiknya, AI memang dapat membantu pekerjaan jurnalistik. Teknologi bisa digunakan untuk mencari data, mengolah dokumen, membuat transkrip, menerjemahkan materi, hingga membantu pekerjaan teknis lainnya.
Namun keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. “AI mempercepat proses, manusia memastikan akurasinya, konteksnya, dan tanggung jawabnya,” tutur Upi.
Bukan produksi informasi, tetapi kepercayaan
Di tengah kemampuan mesin menghasilkan jutaan informasi, ukuran keberhasilan media juga mengalami perubahan. Banyaknya artikel atau jumlah pembaca tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran pengaruh.
Media justru dituntut menghasilkan informasi yang berguna dan dapat dipercaya. “Masa depan media bukan menghasilkan lebih banyak informasi, tetapi membuat informasi lebih berguna,” kata Upi.
Pernyataan tersebut menjadi penting ketika masyarakat semakin sering memperoleh berita dari media sosial, platform digital, dan mesin berbasis AI. Dalam kondisi seperti itu, media harus mampu membangun hubungan langsung dengan audiens sekaligus menjaga kredibilitasnya.
Jurnalisme juga harus tetap hadir di tengah masyarakat, terutama ketika terjadi krisis atau konflik. Peristiwa di berbagai wilayah dunia, termasuk konflik di Timur Tengah, menunjukkan bahwa informasi dapat menjadi bagian penting dalam memahami situasi yang kompleks.
Di tengah peperangan informasi, masyarakat membutuhkan media yang mampu memeriksa klaim dari berbagai pihak, bukan sekadar mengulang narasi yang sedang populer.
Karena itu, tantangan terbesar jurnalisme di era AI bukan sekadar bagaimana menggunakan teknologi. Tantangannya adalah bagaimana manusia tetap menjadi pengendali informasi.
AI dapat menghasilkan konten dengan cepat. Tetapi mesin tidak memiliki kepentingan publik, tanggung jawab sosial, dan pertimbangan etis seperti yang melekat pada kerja jurnalistik.
“AI bukan untuk menggantikan jurnalisme, tetapi memperkuat jurnalisme,” tegas Upi.
Pada akhirnya, teknologi boleh berubah secepat apa pun. Algoritma dapat berganti, platform baru dapat muncul, dan AI mungkin semakin canggih. Namun, kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang benar tidak berubah.
“Teknologi berubah, jurnalisme tidak. Kebenaran, kemanusiaan, dan kepercayaan tetap menjadi dasar kegiatan kita,” pungkasnya.
Kini, di tengah banjir informasi, mungkin justru kepercayaan yang akan menjadi mata uang paling mahal. Dan di situlah jurnalisme masih memiliki alasan kuat untuk tetap hidup.
