Duta Genre, Wajah Muda Jakarta Menuju Kota Global

KabarJakarta.com — Di tengah gemerlap panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (22/9), sebanyak 36 remaja berdiri sebagai finalis Apresiasi Duta Generasi Berencana (Genre) 2026. Mereka bukan sekadar peserta ajang pemilihan duta remaja.

Di balik seleksi dan panggung grand final itu, ada tanggung jawab yang lebih besar: menjadi teman sebaya yang mampu mengajak remaja Jakarta merencanakan masa depan dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, para finalis Duta Genre 2026 dipilih untuk menjalankan peran sebagai role model pendidik sebaya sekaligus agen perubahan.

“Kalian dipilih untuk menjadi role model pendidik sebaya, dan sebagai agen perubahan, yang bisa mengajak remaja lain menjalani masa remaja secara positif, serta mulai merencanakan masa depan dengan baik,” ujar Rano.

Para finalis tersebut merupakan perwakilan dari 6 (enam) kota dan kabupaten administrasi di Jakarta. Mereka sebelumnya melewati proses seleksi di tingkat wilayah sebelum akhirnya bertemu dalam babak grand final.

Namun, menjadi Duta Genre bukan semata-mata soal gelar. Peran utamanya justru dimulai setelah panggung berakhir.

Bukan sekadar duta

Program Genre merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun generasi muda yang memiliki pengetahuan dan kesiapan menghadapi kehidupan. Program ini diperkenalkan secara nasional oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai pendekatan kepada remaja melalui remaja itu sendiri.

Pendekatan tersebut penting karena persoalan remaja tidak selalu efektif disampaikan melalui komunikasi satu arah dari orang dewasa. Teman sebaya sering kali menjadi ruang pertama bagi remaja untuk bertanya, berbagi pengalaman, sekaligus mencari informasi.

Karena itu, Duta Genre diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang positif. Terutama ketika remaja berhadapan dengan derasnya arus informasi di media sosial dan teknologi digital.

Rano meminta generasi muda Jakarta mulai mengenali potensi diri, menentukan cita-cita, kemudian menyusun rencana untuk pendidikan, kompetensi, pekerjaan, kesehatan hingga kehidupan berkeluarga.

Dengan kata lain, menjadi “Generasi Berencana” berarti membiasakan anak muda mengambil keputusan dengan mempertimbangkan masa depan, bukan sekadar mengikuti keadaan.

Dari Jakarta ke kota global

Peran itu menjadi semakin penting ketika Jakarta sedang membangun identitas baru sebagai kota global.

Rano mengingatkan bahwa Jakarta memiliki cita-cita masuk dalam 20 besar kota global pada 2045. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan gedung tinggi, transportasi modern atau pertumbuhan ekonomi.

“Kota global tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan ekonomi yang kuat, tapi juga generasi muda yang berkualitas,” kata Rano.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai Jakarta sebagai kota global pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan investasi dan infrastruktur. Kualitas manusia menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Jakarta telah tumbuh sebagai pusat ekonomi, pemerintahan, pendidikan, budaya dan mobilitas masyarakat Indonesia. Setelah tidak lagi menjadi ibu kota negara, tantangannya berubah: bagaimana Jakarta tetap memiliki daya saing sekaligus menjadi kota yang layak dihuni oleh generasi berikutnya.

Di titik inilah Duta Genre memiliki arti yang lebih luas.

Mereka dapat menjadi penghubung antara pesan pembangunan pemerintah dan kehidupan remaja sehari-hari. Bukan dengan pendekatan menggurui, tetapi melalui bahasa dan pengalaman yang lebih dekat dengan kelompok sebaya.

Menyiapkan Wajah Jakarta 2045

Rano mengingatkan bahwa generasi muda hari ini akan menjadi bagian dari wajah Jakarta di masa depan.

Apalagi Jakarta akan memasuki usia 500 tahun pada 2027. Momentum tersebut dapat menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh sejarah dan infrastrukturnya, tetapi juga oleh manusia yang akan meneruskan kehidupannya.

Karena itu, Duta Genre 2026 memiliki tugas yang tidak ringan. Mereka dituntut menjadi teladan sekaligus sumber informasi bagi remaja lain.

Tantangannya adalah memastikan gelar tersebut tidak berhenti pada selempang dan seremoni. Duta Genre perlu hadir di sekolah, komunitas, ruang digital dan lingkungan pergaulan untuk mendorong remaja berbicara tentang pendidikan, kesehatan, kompetensi, pekerjaan dan rencana kehidupan secara lebih terbuka.

Bagi Jakarta yang ingin menjadi kota global, investasi terhadap generasi muda bukan pekerjaan tambahan. Ia merupakan bagian dari pembangunan kota itu sendiri.

Sebab, kota global pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa modern wajah kotanya, tetapi seberapa siap manusianya menghadapi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *