KabarJakarta.com â Akhir pekan menjadi waktu yang tepat untuk sejenak meninggalkan rutinitas dan mencari suasana berbeda. Jika ingin menikmati liburan tanpa harus keluar dari Jakarta, kawasan Kota Tua bisa menjadi pilihan menarik. Di tempat itu, pengunjung tidak hanya dapat menikmati bangunan bersejarah, tetapi juga berjalan kaki sambil menyusuri jejak perjalanan Jakarta dari masa ke masa.
Kawasan Kota Tua Jakarta menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar berfoto dengan latar bangunan kolonial atau berkeliling menggunakan sepeda ontel warna-warni. Di balik bangunan-bangunan tua tersebut tersimpan cerita tentang perdagangan, pemerintahan, hukum, seni, hingga perkembangan transportasi yang membentuk wajah Jakarta saat ini.
Menariknya, sejumlah destinasi bersejarah berada dalam kawasan yang relatif berdekatan. Pengunjung dapat menyusun rute perjalanan sesuai minat dan menikmati suasana Kota Tua dengan berjalan kaki. Dari satu titik ke titik lainnya, selalu ada cerita baru yang bisa ditemukan.
Salah satu titik yang dapat menjadi awal perjalanan adalah House of Tugu, yang berada tidak jauh dari Toko Merah.

House of Tugu, jejak perdagangan era kolonial
Bangunan yang dikenal sebagai House of Tugu memiliki sejarah panjang sejak abad ke-18. Pada sekitar 1740, bangunan tersebut digunakan sebagai kantor dagang perusahaan Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Arsitektur kolonial Eropa yang masih terasa kuat membuat bangunan ini menarik perhatian. Pada masanya, kawasan tersebut bahkan menjadi bagian dari pusat perdagangan internasional.
Seiring berakhirnya pemerintahan kolonial, fungsi bangunan mengalami perubahan. House of Tugu sempat digunakan untuk kepentingan pemerintahan sebelum pada abad ke-20 pengelolaannya kembali berada di tangan swasta.
Kini, bangunan tersebut tampil dengan perpaduan suasana klasik dan sentuhan modern. Tanaman rambat yang menghiasi sejumlah bagian bangunan memberikan kesan lebih sejuk tanpa menghilangkan karakter masa lalunya.
Pada akhir 2024, Grup Tugu memanfaatkan bangunan ini sebagai hotel dan restoran. Pengelolaan tersebut tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga diarahkan untuk mempertahankan nilai sejarah dan menghidupkan kembali Kota Tua sebagai kawasan wisata budaya dan kuliner.
Pengunjung juga dapat menikmati galeri seni sembari mencicipi berbagai hidangan Nusantara.

Jembatan Kota Intan saksi lalu lintas perdagangan
Perjalanan kemudian dapat dilanjutkan menuju Jembatan Kota Intan. Jembatan yang dahulu dikenal sebagai Het Middelpunt Burg atau jembatan pusat ini menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan bagaimana jalur perdagangan di Batavia berkembang.
Pada 1655, jembatan berbahan kayu tersebut pernah rusak akibat banjir. Perbaikan dilakukan berulang kali, tetapi struktur dasarnya tetap dipertahankan.
Nama jembatan juga mengalami perubahan. Salah satunya menjadi Juliana Bernhard. Pada 1938, jembatan tersebut dapat diangkat untuk memberikan ruang bagi perahu yang melintas di bawahnya.
Setelah Indonesia merdeka, namanya berubah menjadi Jembatan Kota Intan, mengikuti lokasi tempat jembatan itu berada. Sejak 7 Juli 1977, jembatan tersebut menjadi bagian dari Museum Bahari dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.
Kini, jembatan tersebut memang tidak lagi seramai masa lalu. Kedua sisinya dibatasi pagar hitam dan pengunjung tidak leluasa melintas. Namun, keberadaannya tetap menjadi pengingat bahwa kawasan Kota Tua dahulu merupakan salah satu simpul penting kegiatan perdagangan.

Museum Sejarah Jakarta melihat Batavia dari dekat
Jika ingin memahami bagaimana pemerintahan Batavia berjalan pada masa kolonial, langkah berikutnya bisa diarahkan ke Museum Sejarah Jakarta, yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah.
Gedung tersebut pada awalnya direncanakan sebagai balai kota pada masa pemerintahan Gubernur Jan Pieterszoon Coen pada 1626. Namun, peresmiannya baru berlangsung pada 1710 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Abraham Van Riebeeck.
Setelah diresmikan, bangunan itu menjadi pusat pemerintahan VOC di Batavia. Fungsinya cukup luas, mulai dari mengurus persoalan hukum dan pajak hingga menjadi lokasi pengadilan, penjara, tempat berdoa, bahkan eksekusi tahanan.
Bagian penjara masih dapat dilihat hingga kini. Letaknya berada di bawah bangunan utama dengan ruangan yang sempit, gelap, dan lembap.
Suasana tersebut membuat pengunjung dapat membayangkan kondisi para tahanan pada masa itu.
Sementara itu, di bagian atas museum terdapat berbagai koleksi dan informasi mengenai perjalanan Jakarta. Tidak hanya sejarah pemerintahan, pengunjung juga dapat menemukan gambaran tentang akulturasi berbagai budaya yang membentuk kehidupan Batavia hingga akhirnya berkembang menjadi Jakarta.

Museum Seni Rupa ketika sejarah bertemu kreativitas
Perjalanan berikutnya dapat diteruskan ke Museum Seni Rupa dan Keramik. Bangunan ini memiliki sejarah yang tidak kalah panjang. Pada 21 Januari 1870, pemerintah Hindia Belanda mendirikannya sebagai gedung pengadilan dengan nama Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia atau Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia.
Bangunannya memiliki karakter arsitektur yang kuat, termasuk 8 (delapan) tiang besar di bagian depan. Pepohonan dan halaman hijau di sekelilingnya turut memperkuat kesan klasik.
Gedung tersebut sempat digunakan sebagai Kantor Wali Kota Jakarta Barat pada periode 1967-1973. Kemudian pada 1976, Presiden Soeharto meresmikannya sebagai Balai Seni Rupa Jakarta. Sejak 1990, bangunan tersebut digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik.
Di tempat ini, perjalanan sejarah dapat dipadukan dengan aktivitas yang lebih interaktif. Pengunjung dapat melihat karya sejumlah seniman Indonesia, termasuk Raden Saleh dan S. Sudjojono.
Bagi keluarga, tersedia pula kegiatan yang lebih praktis, seperti mencoba membuat gerabah menggunakan tanah liat.

Stasiun Jakarta Kota penutup perjalanan
Perjalanan dapat ditutup dengan menyambangi Stasiun Jakarta Kota.
Stasiun ini bukan hanya tempat naik dan turun penumpang. Bangunannya merupakan bagian dari sejarah perkembangan transportasi Jakarta dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui SK Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 serta keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada 2005.
Stasiun Jakarta Kota merupakan stasiun terminus, atau stasiun akhir yang tidak memiliki kelanjutan jalur rel. Pada masa lalu, stasiun ini dikenal dengan nama Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BEOS), yang merujuk pada maskapai angkutan kereta api Batavia Timur. Stasiun ini juga pernah dikenal sebagai Batavia Zuid atau Batavia Selatan.
Dari sisi arsitektur, bangunan stasiun memiliki sejumlah bagian, mulai dari kepala, sayap, pintu masuk utama, peron hingga menara. Secara keseluruhan, susunan massanya membentuk konfigurasi menyerupai huruf âTâ.
Kini, aktivitas di Stasiun Jakarta Kota tetap padat. Sejumlah tenant makanan tersedia bagi penumpang yang menunggu keberangkatan. Fasilitas seperti tempat duduk dan toilet juga tersedia untuk mendukung aktivitas pengguna jasa transportasi.
Petugas di lokasi turut membantu penumpang yang membutuhkan informasi mengenai peron maupun jadwal perjalanan.

Satu hari tak cukup
Menyusuri Kota Tua pada akhirnya bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Setiap bangunan menawarkan cerita berbeda tentang bagaimana Jakarta tumbuh dan berubah.
House of Tugu memperlihatkan jejak perdagangan, Jembatan Kota Intan mengingatkan pada aktivitas transportasi air, Museum Sejarah Jakarta membawa pengunjung melihat sistem pemerintahan dan kehidupan Batavia, Museum Seni Rupa dan Keramik menunjukkan perkembangan seni, sedangkan Stasiun Jakarta Kota menjadi gambaran perubahan transportasi.
Semua cerita tersebut berada dalam satu kawasan yang dapat dijelajahi dengan berjalan kaki. Karena itu, jika ingin mencoba pengalaman berbeda saat menghabiskan waktu di Jakarta, Kota Tua bisa menjadi pilihan.
Datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk mendengarkan cerita yang ditinggalkan setiap sudutnya. Sebab, seperti perjalanan sebuah kota, Kota Tua tidak pernah benar-benar selesai diceritakan.
Selamat menyelami kisah Jakarta melalui jejak-jejak masa lalunya.






