KabarJakarta.com – Bagi sebagian orang, makanan bergizi mungkin terdengar seperti sesuatu yang mahal dan sulit disiapkan. Namun, anggapan itu coba dipatahkan warga Kampung Penas, RW 02, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur.
Melalui lomba kreasi menu makanan bergizi, warga diajak menghitung sendiri berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyiapkan satu porsi makanan bagi anak sekolah. Hasilnya, dengan anggaran sekitar Rp10 ribu, warga mampu menyusun menu lengkap yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.
Kegiatan edukasi pangan sehat yang digelar Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia pada Senin itu tidak hanya menjadi ajang memasak. Warga juga belajar memahami kembali konsep program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketua FAKTA Indonesia Ari Subagyo Wibowo menjelaskan kegiatan tersebut ingin menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengelola makanan bergizi apabila diberikan ruang dan kesempatan.
“Ini pembelajaran bagi masyarakat melihat kembali MBG sebenarnya. Kalau itu dikelola masyarakat sendiri, itu berarti mampu,” kata Ari di Jakarta, Senin (31/8).
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak sekadar menerima penjelasan. Mereka langsung memilih bahan makanan, menghitung kebutuhan biaya, menyusun menu, memasak, hingga menyajikan makanan. Tantangannya, seluruh rangkaian menu harus disiapkan dengan anggaran sekitar Rp10 ribu per porsi.
Menurut Ari, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat mampu mengelola anggaran makanan secara sederhana sekaligus memperhatikan kandungan gizi.
“Ini menggambarkan dinamika di masyarakat, bahwa mereka kalau dikasih sesuatu untuk dianggarkan, mereka mampu, kok, mengelola. Ini pembelajaran bagi publik,” ujarnya.
Bagi warga, praktik tersebut juga membuka pandangan baru mengenai bagaimana makanan bergizi dapat disiapkan dengan biaya yang terjangkau.
Ana (50), warga RT 02/RW 02 Cipinang Besar Selatan, bersama timnya membuat menu yang ditujukan bagi anak usia sekolah dasar. Mereka mencoba menghadirkan makanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menarik perhatian anak.
Di atas piring, nasi dibentuk menyerupai boneka. Menu itu dilengkapi ayam goreng mentega sebagai sumber protein, telur dadar, brokoli dan wortel, serta buah melon.
Setelah seluruh bahan dihitung, biaya makanan tersebut mencapai sekitar Rp9.603 per porsi, belum termasuk gas untuk memasak.
“Acara ini buat pelajaran. MBG itu sebenarnya tidak sampai digembar-gemborkan, sekian harganya. Ternyata Rp10 ribu, kita bisa bikin MBG yang porsi sedikit,” terang Ana.
Pengalaman itu membuat Ana melihat bahwa angka anggaran bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Komposisi makanan juga menjadi bagian penting agar menu benar-benar memberikan manfaat bagi anak.
Ia menyebut makanan perlu mengandung karbohidrat, protein, zat besi, dan serat. Namun, ada satu hal lain yang tidak kalah penting, yakni bagaimana makanan tersebut disajikan.
Menurut Ana, makanan bergizi yang tampil menarik dan sesuai selera anak memiliki peluang lebih besar untuk benar-benar dimakan. Sebaliknya, makanan yang tidak disukai anak berisiko tersisa dan akhirnya terbuang.
Di sisi lain, FAKTA Indonesia menilai pengalaman warga tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran dalam melihat pelaksanaan MBG. Ari berpandangan, program tersebut tidak harus diberikan secara seragam kepada seluruh sekolah tanpa melihat kondisi masing-masing wilayah.
Ia menilai subsidi pemerintah sebaiknya diarahkan kepada kelompok yang memiliki kebutuhan gizi lebih besar. Sekolah di kawasan masyarakat berpenghasilan rendah, wilayah pinggiran, hingga daerah perbatasan dinilai perlu mendapat perhatian lebih.
“Harapannya, ada perubahan untuk pemberian gizi ke makan gizi gratis, gitu. Sehingga ada perubahan yang besar, yang menerima benar-benar yang punya dampak, bukan asal sekarang gitu,” tutur Ari.
Dari dapur sederhana warga Kampung Penas, satu pelajaran pun muncul: makanan bergizi tidak selalu harus mahal. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memilih bahan, mengatur anggaran, menyusun komposisi, dan memahami kebutuhan orang yang akan menyantapnya.
Bagi warga, lomba memasak itu bukan sekadar soal siapa yang menjadi pemenang. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk melihat bahwa masyarakat pun mampu ikut memikirkan dan mempraktikkan bagaimana makanan bergizi dapat hadir di atas meja dengan biaya yang terjangkau.






