News  

Bukan Lagi Usia Senja, 40+ Kini jadi Generasi Emas Konsumen

Ilustrasi AI - Studi terbaru Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) menyebut masyarakat berusia di atas 40 tahun saat ini dinilai sebagai generasi emas (prime generation) yang punya potensi besar dari segi konsumen. Foto: kabarjakarta

KabarJakarta.com — Memasuki usia 40 tahun sering dianggap sebagai tanda seseorang mulai meninggalkan masa produktif. Dalam banyak pandangan, usia ini bahkan kerap dikaitkan dengan midlife crisis, ketika seseorang dinilai mulai kehilangan energi, mengikuti perubahan zaman, atau tidak lagi menjadi kelompok yang menarik bagi pasar.

Namun, pandangan tersebut perlahan berubah. Studi terbaru Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) justru menyebut masyarakat berusia di atas 40 tahun sebagai Prime Generation, yakni kelompok yang memiliki potensi besar sebagai kekuatan konsumen baru.

Kelompok ini tidak sekadar dilihat dari angka usia. Pengalaman hidup, kondisi finansial, kepercayaan diri, jaringan sosial, hingga kemampuan beradaptasi dengan teknologi membuat mereka memiliki karakter konsumen yang berbeda dan semakin penting diperhatikan.

Pasar besar yang selama ini terlewat

Group CEO Hakuhodo International Indonesia Devi Attamimi mengungkapkan konsumen berusia 40 tahun ke atas kini mulai menjadi salah satu peluang pasar terbesar. Menurut dia, kelompok tersebut memiliki kejelasan lebih kuat mengenai apa yang mereka inginkan dalam hidup.

“Inilah saatnya, bagi para pemasar dalam melihat potensi besar dari segmen konsumen yang selama ini kurang mendapat perhatian. Sudah saatnya memanfaatkan potensinya untuk mendorong gelombang pertumbuhan baru,” ujar Devi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (3/9).

Potensinya juga terlihat dari jumlah penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat berusia di atas 40 tahun mencapai 38,2 persen dari total populasi Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kelompok 40+ bukanlah pasar kecil. Sebaliknya, mereka merupakan bagian besar dari masyarakat dengan kebutuhan dan daya beli yang tidak bisa diabaikan.

Menariknya, kelompok usia tersebut juga memiliki kemampuan finansial yang kuat. Data BPS menunjukkan masyarakat berusia 55-59 tahun memiliki rata-rata pendapatan tertinggi.

Tidak gagap teknologi

Anggapan bahwa kelompok usia 40+ tidak akrab dengan teknologi juga mulai kehilangan relevansinya.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet mencapai 79,48 persen pada Generasi X dan 59,40 persen pada generasi yang lebih tua.

Artinya, perkembangan teknologi bukan hanya menjadi ruang bagi generasi muda. Kelompok usia lebih matang juga semakin terbiasa menggunakan internet untuk mencari informasi, berkomunikasi, belajar, hingga berbelanja.

Senior Director of Strategy & Head of Sei-katsu-sha Lab Hakuhodo International Indonesia Rian Prabana menjelaskan masyarakat berusia di atas 40 tahun seharusnya tidak dilihat sebagai kelompok yang sedang memasuki masa penurunan.

Menurutnya, mereka justru berada pada fase puncak kehidupan karena memiliki pengalaman sekaligus kemampuan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

“Dengan kemampuan finansial yang kuat, disertai keinginan untuk tetap memanjakan diri, mereka mencari pengalaman konsumsi yang dapat membuat hidup terasa lebih berarti,” ungkap Rian.

Masih mengejar mimpi yang tertunda

Gambaran mengenai Prime Generation diperoleh HILL ASEAN melalui studi bertajuk Decoding the Prime Generation.

Riset tersebut dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Peneliti melakukan 36 kunjungan ke rumah responden di Indonesia, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina. Selain itu, survei daring melibatkan 4.900 responden dari enam negara ASEAN dan Jepang.

Hasilnya menunjukkan bahwa usia 40 tahun ke atas bukan berarti seseorang berhenti mengejar keinginan.

Sebanyak 47,1 persen responden berusia di atas 40 tahun mengatakan ingin kembali mengejar aspirasi yang sebelumnya sempat tertunda. Keinginan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman hidup justru dapat mendorong mereka untuk kembali melakukan hal-hal yang dulu belum sempat diwujudkan.

Mereka juga ingin tetap aktif. Sebanyak 73 persen responden menyatakan ingin menjaga aktivitas fisik dan mental. Salah satu pendorongnya adalah keinginan untuk tetap mandiri dan tidak menjadi beban bagi keluarga.

Dengan kata lain, kebutuhan mereka bukan hanya soal barang. Mereka juga mencari pengalaman yang membuat hidup lebih bermakna.

Aktif di komunitas dan medsos

Kekuatan Prime Generation juga terlihat dalam kehidupan sosial. Sebanyak 52,5 persen responden berusia di atas 40 tahun tergabung dalam lebih dari 20 komunitas. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok generasi muda yang berada di angka 39,1 persen.

Keterlibatan ini memperlihatkan bahwa bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial.

Mereka juga tetap terbuka terhadap pengetahuan baru. Sebanyak 43,5 persen responden 40+ menggunakan media sosial untuk memperoleh pengetahuan dan mempelajari keterampilan baru, lebih tinggi dibandingkan kelompok lebih muda yang berada di angka 39 persen.

Teknologi akhirnya bukan sekadar alat komunikasi bagi mereka, tetapi juga sarana untuk terus berkembang.

Belanja untuk diri sendiri

Perubahan cara pandang terhadap usia juga tercermin dalam pola konsumsi.

Sebanyak 51,1 persen responden berusia di atas 40 tahun mengeluarkan uang untuk diri sendiri sebagai bentuk self-reward. Setelah bertahun-tahun bekerja dan memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, mereka mulai memberikan ruang lebih besar untuk menikmati hasil yang telah dikumpulkan.

Preferensi terhadap kualitas pun meningkat seiring usia. Pada kelompok 40-49 tahun, sebanyak 37,5 persen menunjukkan preferensi terhadap kualitas. Angka itu naik menjadi 41,5 persen pada usia 50-59 tahun dan mencapai 53,5 persen pada kelompok 60-69 tahun.

Mereka juga tidak tertinggal dalam perdagangan digital. Sebanyak 57 persen responden berusia di atas 40 tahun menggunakan platform belanja online, lebih tinggi dibandingkan kelompok di bawah 40 tahun yang mencapai 48 persen.

Data tersebut menjadi sinyal penting bagi dunia pemasaran. Prime Generation bukan konsumen pasif yang hanya mengikuti kebutuhan keluarga. Mereka memiliki pilihan sendiri, daya beli, keinginan untuk berkembang, serta keberanian memberikan penghargaan kepada diri sendiri.

Pada akhirnya, usia 40 tahun mungkin bukan garis menuju penurunan, melainkan awal dari babak kehidupan ketika seseorang semakin tahu apa yang penting baginya.

Bagi dunia usaha, perubahan tersebut membawa pesan sederhana: jangan melihat konsumen hanya dari umur. Lihat pengalaman, kebutuhan, kemampuan, dan cara mereka menjalani hidup. Di sanalah peluang pasar baru dari Prime Generation berada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *