KabarJakarta.com – Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) di Ibu Kota pada Juli 2026 mencapai 2,5 persen. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin, serta melonjaknya harga emas perhiasan menjadi faktor utama yang mendorong inflasi selama setahun terakhir.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan pada Juli 2026. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 5,3 persen dan memberikan andil sebesar 0,71 persen terhadap inflasi secara keseluruhan.
“Penyumbang utama inflasi bulan Juli tahun 2026 secara tahunan adalah kelompok transportasi yang memberikan andil inflasi sebesar 0,71 persen yang komoditasnya disumbang utamanya adalah bensin,” ujar Kadarmanto di Jakarta, Senin (3/8).
Menurutnya, kenaikan harga bensin berdampak cukup besar terhadap biaya transportasi masyarakat. Selain memengaruhi pengeluaran rumah tangga, kenaikan harga bahan bakar juga dapat mendorong meningkatnya biaya distribusi barang sehingga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan lainnya.
Selain sektor transportasi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat kenaikan harga yang cukup tinggi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 8,39 persen dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,6 persen.
Penyebab utama kenaikan pada kelompok tersebut berasal dari komoditas emas perhiasan. Harga emas yang sempat melonjak pada awal tahun menjadi faktor yang masih memberikan dampak terhadap tingkat inflasi tahunan di Jakarta.
Kadarmanto menjelaskan bahwa lonjakan harga emas terjadi cukup signifikan pada awal 2026. Meskipun dalam beberapa bulan terakhir harganya mulai mengalami penurunan, dampaknya terhadap inflasi tahunan masih terasa.
“Di awal-awal tahun ini, terjadi peningkatan emas, harga emas luar biasa, meskipun selama empat bulan terakhir ini terjadi penurunan harga komoditas emas,” katanya.
BPS mencatat, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar pada Juli 2026, yakni sebesar 0,47 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh bensin dengan andil 0,46 persen.
Selain kedua komoditas tersebut, kenaikan tarif angkutan udara juga ikut menyumbang inflasi sebesar 0,16 persen. Sementara itu, harga beras memberikan andil sebesar 0,12 persen, sedangkan minyak goreng berkontribusi sebesar 0,1 persen terhadap inflasi tahunan.
Meski inflasi tahunan masih terjadi, kondisi berbeda terlihat jika dilihat secara bulanan. Pada Juli 2026, DKI Jakarta justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Deflasi tersebut terutama dipicu oleh turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini memberikan andil deflasi sebesar 0,21 persen, sehingga berhasil menahan laju kenaikan harga secara keseluruhan selama Juli.
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama penyebab deflasi. Tiga komoditas yang paling besar memberikan kontribusi terhadap turunnya harga adalah cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.
Cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,07 persen, disusul bawang merah sebesar 0,06 persen, serta cabai rawit sebesar 0,03 persen.
Turunnya harga komoditas hortikultura tersebut menunjukkan pasokan pangan yang relatif lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Kondisi ini membantu menekan pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, meskipun harga komoditas lain seperti bensin dan emas masih relatif tinggi.
Data BPS menunjukkan bahwa pergerakan inflasi di Jakarta masih dipengaruhi oleh perubahan harga komoditas strategis, baik dari sektor energi maupun kebutuhan rumah tangga. Di satu sisi, kenaikan harga bahan bakar dan emas mendorong inflasi tahunan. Namun di sisi lain, turunnya harga sejumlah bahan pangan berhasil menciptakan deflasi secara bulanan.
Perkembangan ini menjadi gambaran bahwa dinamika harga di Jakarta masih dipengaruhi oleh kondisi pasar global, biaya energi, serta pasokan pangan domestik. Ke depan, stabilitas harga kebutuhan pokok dan energi diperkirakan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga laju inflasi agar tetap terkendali.
