Menanam Pangan di Tengah Beton Jakarta, 4.682 Bibit Tumbuh di 48 Lokasi

Kegiatan simbolis penanaman bibit tanaman pendamping beras di Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026). Foto: Pemkot Jakpus

KabarJakarta.com – Di tengah padatnya permukiman dan terbatasnya ruang terbuka, warga Jakarta Pusat terus mencari cara untuk menghasilkan pangan dari lahan yang tersedia. Salah satunya melalui gerakan menanam tanaman pendamping beras yang dilakukan di berbagai titik di wilayah tersebut.

Pemerintah Kota Jakarta Pusat menanam 4.682 bibit tanaman pendamping beras di 48 lokasi yang tersebar pada delapan kecamatan. Gerakan ini tidak hanya bertujuan menghijaukan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat melalui pemanfaatan lahan terbatas.

Ketua TP PKK Jakarta Pusat, Witri Yenny Arifin, menjelaskan kegiatan menanam dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari berbagai kegiatan penghijauan yang melibatkan masyarakat.

“Penanaman tanaman pendamping beras di Jakpus dilakukan secara terus-menerus, di berbagai kegiatan. Tujuannya untuk mengajak masyarakat melakukan penghijauan di tengah keterbatasan lahan,” kata Witri dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/8).

Dari 48 lokasi tersebut, penanaman dilakukan di 10 lokasi Taman Hatinya PKK, 20 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), dan 18 lokasi urban farming.

Jenis tanaman yang ditanam cukup beragam. Pemerintah menyediakan 200 bibit porang, 101 ubi jalar, 130 singkong, 70 pisang, dan 105 jagung. Selain itu, ada pula 1.120 kangkung, 1.620 pakcoy, 950 bayam, serta 76 selada air.

Sebanyak 310 bibit tanaman lainnya terdiri dari tomat, cabai, terong, dan melon. Tidak hanya tanaman darat, program ini juga dilengkapi dengan 400 bibit ikan nila yang dapat dikembangkan sebagai sumber pangan tambahan bagi masyarakat.

Bagi Witri, keberadaan lahan sempit bukan alasan untuk berhenti menanam. Setiap ruang yang memungkinkan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan sekaligus membuat lingkungan menjadi lebih hijau.

Penanaman dilakukan secara serentak dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Kader PKK, pengurus RT dan RW, serta tokoh masyarakat ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut.

Kegiatan serupa juga mulai diperluas ke sejumlah sekolah di Jakarta Pusat. Selain mengenalkan pentingnya penghijauan kepada anak-anak, penanaman di lingkungan sekolah diharapkan dapat menjadi bagian dari pembelajaran mengenai pangan dan lingkungan.

“Penanaman tanaman pendamping beras dilakukan secara terus-menerus di berbagai kegiatan di Jakarta Pusat. Kami berharap 48 lokasi ini menjadi titik ketahanan pangan, yang terus berkembang dan memberi manfaat bagi warga Jakpus,” ujar Witri.

Dari lahan sempit jadi sumber pangan

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Pusat, Siti Halimah, mengungkapkan pihaknya terus memberikan pendampingan kepada para penggiat pertanian kota. Dukungan tersebut diberikan melalui penyediaan bibit dan pendampingan agar kegiatan urban farming dapat berjalan secara berkelanjutan.

Menurut Siti, 48 lokasi yang saat ini menjadi titik penanaman bukanlah tujuan akhir. Jumlahnya diharapkan terus bertambah seiring meningkatnya keterlibatan masyarakat.

“Semoga terus bertambah di masa mendatang, untuk memberikan kontribusi positif bagi peningkatan ekonomi, terutama pembangunan kota Jakarta lebih hijau, sehat dan berdaya saing global,” jelas Siti.

Gerakan menanam di Jakarta Pusat menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Pekarangan, ruang publik, lingkungan sekolah hingga titik-titik urban farming dapat menjadi ruang produktif jika dikelola bersama.

Di tengah kepadatan kota, ribuan bibit tersebut menjadi pengingat bahwa upaya menjaga pangan dan lingkungan bisa dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika terus dirawat dan diperluas, titik-titik kecil itu berpotensi membentuk jaringan pangan perkotaan yang lebih kuat di Jakarta Pusat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *