KabarJakarta.com — Bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Salemba, Jakarta, waktu bertemu keluarga bukan sekadar kesempatan untuk berbincang. Pertemuan dengan orang-orang terdekat, terutama anak, dapat menjadi penguat ketika mereka menjalani proses pembinaan di balik tembok lapas.
Kondisi kehidupan di dalam lapas membuat pertemuan keluarga memiliki arti yang berbeda. Ada jarak yang harus dijalani, keterbatasan ruang untuk berinteraksi, serta proses panjang yang harus dilalui sebelum seorang warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
Karena itu, Lapas Kelas IIA Salemba kembali menghadirkan layanan kunjungan tatap muka, khusus anak bagi warga binaan. Layanan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga hubungan emosional antara warga binaan dan keluarganya selama menjalani masa pembinaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Salemba Amico Balalembang menjelaskan, pertemuan dengan anak akan memberikan energi yang positif bagi warga binaan. Kehadiran buah hati menjadi pengingat bahwa masih ada keluarga yang menunggu dan memberikan dukungan.
“Kami berharap momen itu bisa menjadi sumber semangat bagi mereka dalam menjalani pembinaan dengan baik. Dengan begitu, mereka bisa menjaga hubungan dengan keluarga, termasuk mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat,” kata Amico dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (3/10).
Melalui layanan tersebut, warga binaan akan mendapat kesempatan bertemu langsung dengan anak-anak mereka. Mereka dapat berbicara, mendengarkan cerita, dan berbagi pengalaman meskipun pertemuan berlangsung dalam keterbatasan.
Bagi seorang anak, kesempatan tersebut juga memiliki makna tersendiri. Kehadiran orang tua tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan anak, termasuk ketika salah satu orang tua sedang menjalani proses hukum dan pembinaan di lapas.
Karena itu, layanan kunjungan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas administratif untuk mempertemukan warga binaan dengan keluarga. Lebih jauh, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempertahankan ikatan keluarga yang berpotensi mengalami perubahan akibat keterpisahan.
Pendekatan Ramah Anak
Lapas Salemba memastikan kegiatan tatap muka akan berlangsung dengan aman dan tertib. Petugas siap menjalankan layanan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dengan tetap mengedepankan pendekatan yang ramah dan responsif.
Sejumlah fasilitas pendukung juga turut disiapkan dalam mendukung kenyamanan bagi anak dan keluarga selama berada di area kunjungan.
“Pendekatan ramah anak selalu diterapkan, agar interaksi antara warga binaan dan keluarga bisa berlangsung dalam suasana yang nyaman,” terang Amico.
Pendekatan tersebut penting karena kunjungan anak tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan kunjungan biasa. Anak membutuhkan suasana yang aman dan nyaman agar pertemuan dengan orang tuanya tidak justru menjadi pengalaman yang menimbulkan tekanan.
Di sisi lain, warga binaan juga membutuhkan ruang interaksi yang memungkinkan mereka menjalankan peran sebagai anggota keluarga. Percakapan sederhana mengenai sekolah, keseharian, atau kehidupan keluarga dapat menjadi pengingat tentang kehidupan yang ingin mereka bangun setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Dalam konteks pembinaan di lapas, dukungan keluarga menjadi salah satu modal penting untuk menghadapi proses kembali ke masyarakat. Warga binaan tidak hanya dituntut mengikuti program pembinaan selama berada di dalam lapas, tetapi juga perlu mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan setelah bebas.
Amico menegaskan, hubungan keluarga yang tetap terjaga merupakan bagian penting dari proses tersebut. “Hubungan keluarga yang terjaga menjadi hal penting dalam mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah keluarga dan masyarakat, lewat proses reintegrasi sosial,” katanya.
Dengan demikian, kunjungan tatap muka khusus anak di Lapas Salemba memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pertemuan sesaat. Di balik waktu kunjungan yang terbatas, terdapat upaya mempertahankan hubungan antara orang tua dan anak.
Bagi warga binaan, pertemuan tersebut merupakan sumber motivasi untuk menjalani kegiatan pembinaan. Bagi anak, kesempatan bertemu orang tua menjadi ruang untuk tetap mempertahankan kedekatan keluarga.
Pada akhirnya, proses pembinaan tidak hanya berbicara tentang kehidupan warga binaan selama berada di dalam lapas. Ada kehidupan lain yang menunggu di luar tembok, yakni keluarga dan masyarakat tempat mereka akan kembali.
Karena itu, menjaga hubungan tersebut sejak masa pembinaan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju reintegrasi sosial. Kunjungan anak mungkin berlangsung singkat, tetapi dukungan emosional yang lahir dari pertemuan itu dapat menjadi bekal panjang bagi warga binaan untuk menatap kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
