Gen Z Jakarta Diajak Mencintai Budaya Betawi dengan Cara Kekinian

Pemkot Jakarta Timur mendorong semangat Generasi Z untuk lebih mencintai seni dan budaya Nusantara, khususnya kearifan lokal yang dimiliki Jakarta, yakni Betawi. Foto: Seni Budaya Betawi

KabarJakarta.com — Di tengah derasnya budaya populer yang berkembang melalui media sosial, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur mengajak Generasi Z tidak melupakan akar budaya Nusantara. Salah satu yang menjadi perhatian adalah budaya Betawi sebagai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di Jakarta.

Ajakan tersebut disampaikan melalui kegiatan “Dialog Membangun Semangat Cinta Seni Budaya Kota Administrasi Jakarta Timur”. Kegiatan yang diinisiasi Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Jakarta Timur itu melibatkan Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Jakarta Timur serta siswa-siswi tingkat SMA.

Wakil Wali Kota Jakarta Timur Kusmanto menjelaskan, pendekatan kepada generasi muda perlu dilakukan dengan cara yang berbeda. Menurutnya, upaya melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan mengenalkan sejarah atau kesenian melalui metode yang selama ini digunakan.

“Melestarikan budaya di era Gen Z tentunya membutuhkan cara-cara yang baru dan kreatif. Tidak selalu menggunakan pendekatan konvensional,” kata Kusmanto di Jakarta, Kamis (20/8).

Menurut Kusmanto, budaya lokal tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang kuno. Seni dan tradisi Betawi justru dapat menjadi bagian dari kehidupan generasi muda jika dikemas sesuai perkembangan zaman.

“Budaya merupakan identitas, karakter, dan jiwa suatu bangsa,” ujarnya.

Ia menilai kecintaan terhadap budaya juga perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap Jakarta. Menurut dia, generasi muda dapat menunjukkan rasa memiliki terhadap kota melalui berbagai tindakan sederhana, seperti menjaga lingkungan, memilah sampah, menjauhi tawuran dan narkoba.

Jika kepedulian tersebut tumbuh, Jakarta tidak hanya berkembang sebagai kota global, tetapi juga tetap memiliki karakter budaya yang kuat.

Kusmanto juga mendorong siswa mengenal Betawi secara lebih dekat. Pengenalan itu tidak hanya sebatas kesenian, tetapi juga mencakup adat istiadat, makanan khas, pakaian tradisional hingga nilai kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Betawi.

“Jadi, mereka harus mengerti budaya Betawi, bagaimana ada istiadat, kulinernya, pakaiannya dan bagaimana keguyuban di budaya Betawi,” ujar Kusmanto.

Bagi Pemkot Jakarta Timur, tantangan berikutnya adalah menemukan cara agar budaya lokal dapat diterima generasi muda tanpa kehilangan nilai aslinya. Budaya Betawi dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif.

Kusmanto berharap dialog tersebut dapat memunculkan gagasan baru dari kalangan pelajar mengenai cara memperkenalkan budaya lokal dengan kemasan yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan Gen Z.

“Harapannya dengan adanya kegiatan ini, para siswa mengerti tentang seni dan budaya Betawi. Budaya Betawi yang sudah turun menurun, walaupun mungkin mereka orang tuanya bukan keturunan Betawi, tetapi mereka besar di Jakarta,” terang Kusmanto.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa budaya Betawi bukan hanya milik warga yang memiliki garis keturunan Betawi. Bagi siapa pun yang lahir, tumbuh, belajar dan menjalani kehidupan di Jakarta, mengenal serta menjaga budaya lokal menjadi bagian dari upaya merawat identitas kota.

Dengan pendekatan yang lebih kreatif, Pemkot Jakarta Timur berharap seni dan budaya Betawi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup, berkembang dan memiliki tempat di tengah kehidupan generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *